Semakin Dekat dengan Pembaca

Enam Puskesmas di Blitar Tak Punya USG, Diajukan Tahun Ini, Tekan AKI

KOTA BLITAR – Mayoritas ibu hamil (bumil) tentu memerlukan layanan ultrasonografi (USG) untuk melihat kondisi kesehatan buah hati. Sayangnya, belum banyak puskesmas di Bumi Penataran yang menyediakan fasilitas tersebut.

Salah seorang bumil asal Kecamatan Kanigoro, Shinta Adkha, mengaku belum ada fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) terdekat yang menyediakan layanan tersebut. Tak pelak, dia harus menempuh jarak sedikit lebih jauh untuk mengetahui kondisi dan perkembangan janin yang ia kandung. “Selain Puskesmas Kanigoro, paling dekat ya Puskesmas Sutojayan. Dulu pernah sampai Talun biar bisa USG. Semoga bisa segera dilengkapi layanannya,” ujarnya.

Kondisi serupa juga dikeluhkan bumil asal Kecamatan Garum. Perempuan yang enggan menyebutkan namanya itu mengaku bahwa tak bisa periksa dengan sistem USG di Puskesmas Garum. Dia berharap fasilitas ini segera tersedia agar memudahkan bumil memeriksakan kandungan.

“Yang terjangkau hanya Puskesmas Garum. Padahal ingin kontrol kondisi kandungan,” imbuhnya.

Di lokasi terpisah, Subko Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar Etti Suryani tak menampik kondisi ini. Sementara ini ada enam puskesmas yang minim layanan USG. Di antaranya, Puskesmas Kanigoro, Wlingi, Slumbung, Garum, Sanankulon, dan Puskesmas Bacem.

Perempuan ramah ini menambahkan, pengadaan USG untuk enam puskesmas itu diusulkan tahun ini. Dengan begitu pada akhir tahun ini, lanjut dia, seluruh puskesmas sudah dilengkapi USG.

“Kalau 18 puskesmas lainnya sudah ada. Pengadaannya dilakukan tahun lalu. Sisanya menyusul tahun ini,” jelasnya.

Fasilitas USG ini sejatinya merupakan salah satu upaya penyelamatan nyawa bumil. Meskipun beberapa puskesmas masih belum dilengkapi fasilitas tersebut, dinkes berupaya melakukan penyelamatan menggunakan cara lain. Yakni, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan (nakes). Kemudian juga melengkapi sarpras puskesmas.

“USG ini bagian dari pelengkapan sarpras puskesmas. Kami berharap segera terealisasi untuk memininalisasi kematian ibu dan bayi,” tandasnya.

Untuk diketahui, kasus kematian bumil atau angka kematian ibu (AKI) di Kabupaten Blitar dalam dua tahun terakhir masih disebabkan lantaran Covid-19. Mengacu data, sekitar 17 bumil meninggal dunia pada tahun lalu. Sementara kematian bumil cukup tinggi terjadi pada 2021 dengan 69 kasus. (luk/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.