Semakin Dekat dengan Pembaca

Gagas Kontes Berbohong Deteksi Tindakan Koruptif, Tilik Sarira Libatkan Seniman dan Warga Tulungagung

TULUNGAGUNG – Sesuai dengan nama tempatnya, Kampung Pelangi di Desa Mulyosari, Kecamatan Pagarwojo, menyajikan nuansa berbeda. Selain cat warna-warni menghiasi dinding rumah di lingkungan tersebut, pada akhir November lalu terdapat Kontes Berbohong yang digagas komunitas kreatif Tilik Sarira dari Surakarta.

“Kontes Berbohong hanya sebuah kiasan saja. Namun, kami membuat ruang auto kritik, seperti mengkritik diri sendiri terkait sifat bohong itu sendiri. Apalagi, hal itu terjadi di keseharian dan kadang tidak disadari, sikap berbohong,” ujar Direktur Artistik Tilik Sarira, S. Sophiyah. K.

Dalam Kontes Berbohong ini, Sophiyah tentu juga mengajak warga Kampung Pelangi. Selain itu, mengajak beberapa mahasiswa untuk bermain dalam kontes tersebut.

Bagi Sophiyah, kontes ini mempertemukan orang-orang pembohong dapat mengkritik diri sendiri serta mendeteksi kebohongannya dan orang lain. Dari pertunjukan-pertunjukan yang disajikan, seperti kesenian partisipatif itu tersirat sikap berbohong. Seperti pertunjukan dari Rizal Sofyan, dengan menampilkan uji bakat orang dalam berbohong bertajuk siasat sesat.

Dalam penampilannya, Rizal menginstruksikan dua orang saling bercerita perihal pengalamannya. Namun, mereka harus menebak cerita berbohong dari gerak-geriknya, ekspresi, dan cara meyakinkan orang. Maka, warga menjadi mengerti dan dapat mendeteksi ketika orang berbohong.

“Ternyata warga secara spontan bisa melakukan Kontes Berbohong secara perlahan. Namun, mereka dapat mendeteksi kebohongan lantaran hal-hal natural. Warga antusias dalam Kontes Berbohong ini,” ungkap Sophiyah.

Semua seniman partisipatif termasuk Rizal juga harus menampilkan kesenian bertemakan berbohong. Apalagi, yang harus dihadirkan dalam kesenian itu adalah eksperimen sosial dengan bagaimana mencari cara mendeteksi kebohongan. Hal itu tentu membutuhkan partisipasi dari warga Kampung Pelangi.

Selain Rizal menampilkan uji bakat berbohong, juga terdapat penampilan dari Teater Gayeng yang menampilkan kisah dramatis.  Mereka mengajak salah seorang warga Desa Mulyosari ikut bersandiwara dan menganalisis karakteristik pembohong lewat teater berbahasa Jawa.

“Ada penampilan tari kontemporer dari Yulela Nur Imama, dari kesenian itu bisa dilihat perempuan yang banyak batasnya. Namun, harus menghadirkan tubuh yang jujur dengan mengajak warga ikut dalam menari,” tuturnya.

Tarian yang dilakukan Yulela memakai media kain dengan panjang sekitar 10 meter untuk merekatkan dirinya dengan warga yang berpartisipasi. Dia mengelilingi warga, hingga saling mengaitkan kain itu untuk dipegang warga, dan para warga ditarik untuk ikut ke tengah. Tarian itu membawa pesan bahwa pada diri perempuan beririsan dengan menjalani tantangan sikap jujur.

Menurut Sophiyah, tujuannya mengadakan Kontes Berbohong ini ingin menunjukkan sisi kepekaan seniman terhadap isu sosial yang jarang mendapatkan tempat.  Lalu, pihaknya memang ingin mencari hal sederhana yang menempel di kehidupan masyarakat sehingga ketemu ide Kontes Berbohong. Namun, memang dari kontes ini, fokusnya adalah proses saling mengedukasi tentang tindakan koruptif dalam keseharian, salah satunya berbohong tersebut.

“Kami memilih Kampung Pelangi sebagai Kontes Berbohong ini karena lingkungan yang edukatif dan kompleks. Selain itu, seniman mencari data dalam karya yang ditampilkan sehingga Kampung Pelangi menjadi tempat yang cocok,” jelasnya.

Sophiyah merasa bersyukur antusiasme warga cukup tinggi. Apalagi, ada yang mengikuti selama dua hari  yakni tanggal 26 dan 27 November. Bahkan, pihaknya melakukan rembuk warga untuk seni partisipasi.

Ke depannya, Tilik Sarira akan mengadakan program serupa di kota lain dengan meneruskan isu koruptif berupa berbohong tersebut. Tentu dengan para seniman, partisipatif juga melibatkan warga dalam penampilannya.(*/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.