Semakin Dekat dengan Pembaca

Genjot Kualitas Standarisasi Jamban, Tak Lupa Pengolahan Lumpur Tinja

TULUNGAGUNG – Bangun 1.000 jamban per tahun untuk genjot kualitas standarisasi sanitasi di Tulungagung. Selain itu, pengolahan lumpur tinja dengan sistem mekanisme tertutup akan selesai di tahun depan. Itu dilakukan untuk meningkatkan standar kualitas open defecation free (ODF).

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Tulungagung Anang Pratistianto mengatakan, setelah deklarasi ODF, kini kondisi untuk tidak membuang air besar sembarang di Tulungagung telah 100 persen terpenuhi. Kini tinggal standarisasi dari ODF di Tulungagung yang akan ditingkatkan. “Dari program strategi sanitasi kabupaten itu, kita merencanakan dalam satu tahunnya untuk membangun 1.000 unit jamban kurang memenuhi syarat. Jadi, standarisasinya kita tingkatkan,” katanya.

Rencananya, pembangunan 1.000 unit jamban setiap tahun ini merupakan jamban dengan sistem individu dan bukan komunal. Namun, apabila terdapat kelompok masyarakat yang memang tidak memiliki jamban, maka akan dibuatkan jamban dengan sistem komunal. “Yang kita rencanakan itu individu. Kalau komunal, jika memang ada kelompok belum memiliki jamban bisa dibuatkan komunal,”

Kemudian, terdapat bantuan dari pemerintah untuk pembangunan jamban di Tulungagung sebanyak 200 jamban di tahun 2022 ini. Diketahui, nominal dari bantuan tersebut berkisar di angka Rp 400 juta. Pembangunan per satu jamban menghabiskan anggaran sekitar Rp 12 juta hingga Rp 14 juta. “Walau di dinas kami tidak mencukupi sampai segitu, tapi kita sudah membuat surat permohonan ke dinas pemberdayaan masyarakat desa (DPMD), meminta untuk seluruh desa mengalokasikan dana desa. Jadi, setiap desa itu antara 2 sampai 3 unit jamban harus dibangun setiap tahun. Itu kalau diakumulasi sudah seribu lebih,” ujarnya.

Diketahui, target standarisasi jamban di Tulungagung akan ditargetkan pada tahun 2024. Dengan begitu, pembangunan jamban akan dikebut pada tahun ini hingga tahun 2024 mendatang. “Itu modelnya nanti jamban yang layak. Targetnya tahun 2024 itu standar jamban sudah bagus semua di seluruh Tulungagung,”  tandasnya.

Berkaitan dengan jamban, persoalan instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT) di Tulungagung tak kalah pentingnya. Disperkim telah mengalokasikan untuk membuat IPLT di Tulungagung dengan sistem mekanisme tertutup di tahun ini. Namun karena keterbatasan waktu, perencanaan tersebut akan dilaksanakan di tahun depan. “Sebenarnya sudah dialokasikan di tahun ini, tapi terkendala dengan waktu. Jadi akan dilaksanakan di tahun depan,” katanya.

IPLT dengan sistem mekanisme tertutup tersebut disinyalir akan meminimalkan bau dari pengolahan lumpur tinja. Menurut dia, persoalan pengolahan lumpur tinja di Tulungagung dilatarbelakangi aduan dari masyarakat lantaran terganggu dengan bau yang menyengat. “Tutup fiber itu bukan untuk meminimakan bau. Karena itu hanya untuk pembuangan awal dan ketika masuk ke pembuangan kedua akan bau lagi. Jadi nanti itu hingga proses akhirnya akan tertutup semua dan tidak akan ada bau lagi,” tutupnya. (mg2/c1/din)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.