Semakin Dekat dengan Pembaca

Gilang Bayu Nugroho, Pemuda Blitar Lulusan SMK Jadi Duta Pariwisata

KABUPATEN BLITAR – Penghujung 2022 menjadi momen spesial bagi Gilang Bayu Nugroho. Warga Desa Suruhwadang, Kecamatan Kademangan, ini berhasil menyabet Gelar Duta Pariwisata Jawa Timur 2023. Kini dia sedang mengembangkan sanggar tari yang didirikannya.

Di sudut ruang yang dilengkapi dengan mirror wall itu, Gilang dengan senyum yang ramah menyapa hangat wartawan Koran ini pada Sabtu (31/12/2022). Dia tampak sibuk mempersiapkan diri untuk mengisi salah satu acara di Kabupaten Blitar.

Kepada Koran ini, dia menceritakan perjalanan dalam menggeluti dunia tari hingga didapuk sebagai Duta Pariwisata Jatim 2022. Saat berusia 15 tahun, dia mengalami kebimbangan perihal kelanjutan sekolahnya. Kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Apalagi, dia sejak kecil tinggal bersama neneknya sehingga harus memikirkan bagaimana cara masuk ke sekolah yang dia inginkan. “Saya sejak kecil tinggal bersama nenek, jadi saya harus memikirkan finansial untuk pendidikan berikutnya,” ujar pemuda 25 tahun ini.

Di sekolah, Gilang aktif dalam kegiatan seni terutama seni tari dan olah suara alias menyanyi. Bakat tersebut terus diasah sebagai bekal untuk mendaftar ke sekolah menengah atas (SMA) impiannya. Upayanya itu pun membuahkan hasil sesuai yang diharapkan. Bekal prestasi nonakademiknya itu mengantarkan Gilang lolos masuk SMA impiannya. Dia diterima jalur akselerasi di salah satu SMA favorit Kota Blitar.

Sayangnya, nasib mujur itu tak mendapat restu dari neneknya. Sang nenek menganjurkan Gilang untuk melanjutkan ke sekolah menengah kejuruan (SMK). “Nenek memikirkan keadaan saya untuk ke depannya. Dia berpikiran kalau di SMK bisa langsung mendapat kerja,” ungkapnya.

Saat itu juga, dia langsung mengundurkan diri dari penerimaan jalur akselerasi tersebut. Akhirnya, SMK menjadi pilihan terakhir untuk melanjutkan pendidikannya. “Nenekku bilang jangan cari sekolah favorit, tapi jadilah favorit di sekolah. Nasihat itulah yang membuat saya bisa menerima keadaan,” ujar pemuda ramah ini.

Dia berhasil di SMK favorit di Kota Blitar Jurusan Teknik. Selama menempuh pendidikan di sana, sejumlah prestasi disabet. Di antaranya, duta kesehatan, duta genre, dan juara umum tingkat provinsi lomba Palang Merah Remaja (PMR). Tak hanya itu, dia menutup episode sekolahnya dengan menjadi lulusan terbaik jurusan.

Lulus dari SMK, Gilang makin tertarik untuk mengikuti ajang pemilihan duta. Gayung bersambut, dia ditawari untuk mengikut ajang pemilihan duta. Namun, dia sempat ragu karena tak percaya diri dengan kondisi fisiknya. “Saya minder karena tidak tinggi, tidak ganteng, dan tidak putih,” akunya, lantas tersenyum.

Dua kali mengikuti seleksi ajang pemilihan duta wisata harus gagal. Namun, Gilang tak patah semangat. Tak ingin menyerah, dia mengevaluasi diri apa saja hal-hal yang harus ditingkatkan lebih baik lagi. Di antaranya masalah public speaking dan wawasan pariwisata serta penguasaan bahasa Inggris. Di samping itu, dia juga dituntut untuk berlatih modeling.

Nah, pada 202, impiannya menjadi duta wisata Kota Blitar terwujud. Keberhasilan itu menjadi langkah awal untuk menuju ke jenjang pemilihan duta berikutnya. Lantas pada 2022, dia pun menyabet gelar Duta Pendidikan Jawa timur. “Di penghujung akhir tahun ini, saya menutup dengan gelar Putra Pariwisata Jawa Timur 2023,” ujarnya.

Di usianya ke-18, Gilang sudah dipercaya untuk mendirikan sanggar tari. Awalnya, dia ikut sanggar tari di Kabupaten Blitar hingga sempat menjadi mentor. Sebelum mendirikan sanggar, dia hanya berniat untuk membuka les tari. Sebab, mengelola sebuah sanggar harus mempunyai tanggung jawab yang besar.

Dia mengaku sempat berkonsultasi dengan kepala dinas pariwisata dan kebudayaan perihal rencana pendirian sanggar. Hasilnya, kepala dinas tersebut setuju dan diminta untuk segera mengurus adminitrasinya. Gilang memanfaatkan lahan tak jauh dari rumahnya untuk sanggar.

Sanggar miliknya itu digunakan untuk melatih anak-anak. Strategi awalnya, yakni memberikan kegiatan Gregah Berbudaya di sekolah-sekolah. Banyak murid yang mengenal dan tertarik untuk bergabung di sanggar.

Tak hanya puas dengan menari, kini dia mulai belajar make-up atau tata rias. Keinginan itu muncul karena dia kesulitan menata rias anak sanggar saat hendak tampil. Orang tua (ortu) dari anak-anak sanggar juga mengusulkan untuk belajar make-up sendiri. “Dari situ saya ikut sekolah make-up untuk memperdalam ilmu kecantikan,” tandasnya. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.