Semakin Dekat dengan Pembaca

Ginjal Tikus Leptospirosis, Diduga Penyebab Seorang Warga Tulungagung Tewas

TULUNGAGUNG – Setelah temuan seorang warga meninggal akibat leptospirosis, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung melakukan penyelidikan secara epidemologi dengan cara mengambil sampel urine sapi dan ginjal tikus yang berada di sekitar rumah korban. Hasilnya, dari beberapa sampel ginjal tikus terdapat satu yang positif mengandung bakteri leptospirosis.

Sebelumnya, seorang warga Kecamatan Ngunut dinyatakan meninggal oleh RSUD dr Iskak Tulungagung akibat leptospirosis pada Senin (7/11). korban terlambat mendapatkan pertolongan medis secara intensif. Hal tersebut terjadi lantaran pihak keluarga mengira korban menderita penyakit biasa. Kemudian, setelah korban dibawa ke RSUD dr Iskak Tulungagung, korban hanya bertahan selama dua hari saja. Hingga akhirnya nyawa korban tidak bisa tertolong.

Diketahui, terdapat indikasi gejala serta tanda-tanda penyakit leptospirosis pada tubuh korban. Adapun di antaranya meliputi demam tinggi, kulit berwarna kuning, mata merah, nyeri pada otot, kulit ruam, dan betis terasa sakit.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung Didik Eka mengatakan, dari kejadian tersebut, Dinkes Tulungagung langsung melakukan penyelidikan epidemologi di sekitar rumah korban. Pihaknya telah mengambil beberapa sampel urine sapi serta ginjal tikus. Menurut dia, bakteri leptospirosis dapat ditularkan melalui urine hewan tikus ataupun hewan  terpapar urine tikus yang mengandung bakteri leptospirosis. “Dua minggu lalu, kami sudah mengambil sampel urine sapi dan ginjal tikus di sekitar rumah korban. Dari sampel yang sudah diambil, kami teliti di dalam laboratorium untuk mengetahui apakah ditemukan adanya bakteri leptospirosis,” jelasnya kemarin (28/11).

Berdasarkan hasil dari sampel yang diteliti, ternyata tidak ditemukan bakteri leptospirosis pada urine sapi. Namun, pihaknya menemukan bakteri leptospirosis pada sampel ginjal tikus yang diambil di sekitar rumah korban. “Dugaan kami, bakteri leptospirosis yang kami temukan dalam ginjal tikus di sekitar rumah korban ini menjadi penyebab tertularnya leptospirosis pada korban. Hingga menyebabkannya meninggal dunia,” paparnya.

Dari temuan tersebut, saat ini Dinkes Tulungagung sedang berkoordinasi dengan dinas peternakan dan kesehatan hewan, serta dinas pertanian serta pemerintah Desa Pandansari, untuk melakukan pengendalian tikus. Itu bertujuan untuk meminimalkan penularan leptospirosis di wilayah tersebut. “Salah satu cara meminimalkan penularan leptospiroris itu dengan cara melakukan pengendalian tikus. Namun, saat ini kami masih koordinasi untuk melakukan pengendalian tikus di wilayah tersebut dan wilayah lainnya yang berpotensi,” tandasnya. (mg2/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.