Semakin Dekat dengan Pembaca

Gratia Rara Hayu Putri Berekspresi Lewat Tari

Memiliki jiwa introver tidak menyurutkan semangat Gratia Rara Hayu Putri Rosari untuk menggali potensinya. Dia mengikuti jejak ayahnya untuk berkesenian. Perempuan yang akrab disapa Rara ini memilih tari untuk mengekspresikan diri.

Bagi Rara, menari karena dapat menumbuhkan jiwa seni dan kreativitas. Tari merupakan ruang ekspresi. Sejak masih TK, dia sudah belajar di sebuah sanggar tari. Di tempat itulah bakatnya menari terus diasah.

Skill-nya menari membuat wanita berparas cantik itu kerap tampil di berbagai pentas. Pada 2019, dia terpilih mewakili daerah dalam Pesta Kesenian Bali. Bukan sekadar daftar dan mengikuti, tetapi dia harus ikut berbagai tahapan seleksi. Salah satunya seleksi kelenturan dan kesesuaian musik. “Seleksi diikuti oleh 25 orang dan hanya dipilih dua orang,” ujar perempuan 15 tahun itu.

Tidak hanya itu, panggung nasional juga dia jelajahi. Pada Minggu (13/11), Rara berhasil lolos untuk tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Status sebagai pelajar membuat Rara harus pandai mengatur waktu. Jangan sampai dunia tari yang ditekuni menganggu jadwal akademik di sekolah. Nah, salah satu caranya, Rara berlatih tiga kali seminggu. “Meskipun ada kegiatan tari, saya harus memikirkan sekolah dulu, karena tari saya jadikan sebagai hiburan,” ungkapnya.

Nah, untuk persiapan pergelaran tari, Rara tak sekadar atur jadwal latihan. Dia juga mengatur pola makan dan istirahat. Itu menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Itu agar tubuh selalu fit. Sebab, tak jarang persiapan untuk pentas butuh tambahan jadwal latihan. Termasuk hingga larut malam. “Kalau mau ada pentas, biasanya latihan sejak pukul 19.00 hingga pukul 00.00,” akunya.

Menurut dia, persiapan pokok yang harus dilakukan adalah memahami instrumen musik. Musik menjadi nyawa dalam dunia tari. Ini juga menjadi bagian tersulit bagi Rara. “Saya masih merasa sulit untuk menyamakan musik dengan gerakan,” bebernya.

Dia mengaku, menjadi anak introver sangat sulit untuk mengekspresikan diri di hadapan publik. Meskin hanya dengan menari, dia merasa bisa menguasai pandangan publik. Dia berusaha untuk menampilkan yang terbaik agar dia mampu menjadi sorotan publik.

Perempuan yang bercita-cita menjadi penari ini mengaku tidak ada strategi khusus untuk bisa menari selain giat berlatih. Belajar menari tidak mengenal batas usia. “Meskipun belajar kepada anak yang lebih muda, itu bukan suatu masalah bagi saya,” tandasnya. (mg1/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.