Semakin Dekat dengan Pembaca

Hamil Muda Picu Bayi Prematur, Organ Reproduksi Belum Siap

KOTA BLITAR – Kasus angka kematian bayi (AKB) di Bumi Penataran rupanya tak lepas dari berbagai faktor. Salah satunya, kelahiran prematur. Kondisi ini dipicu ibu yang hamil di usia terlalu muda.

Subkoordinator (Subko) Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, Etti Suryani mengungkapkan, kehamilan di usia dini berisiko melahirkan bayi secara prematur. Hal itu karena organ reproduksi perempuan belum siap.

“Sebenarnya sangat (berisiko) terjadi prematur. Karena kalau organ reproduksi belum siap, tumbuh kembang janin juga tidak optimal,” ujarnya kemarin (23/1).

Untuk diketahui, kesehatan reproduksi tidak semata-mata bebas dari penyakit yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi saja. Melainkan, itu menyangkut keadaan pasangan suami istri (pasutri), baik sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh.

Meski tak menyebut secara rinci terkait jumlahnya, Etti -sapaan akrabnya- meyakini bahwa fenomena hamil muda cukup banyak terjadi. Padahal, perempuan harus memahami usia ideal untuk hamil. Yakni, antara 20-35 tahun. Itu pun harus konsultasi dengan dokter untuk program kehamilan.

Selain berisiko terhadap kelahiran prematur, tambah dia, hamil di usia muda juga berdampak pada bayi. Misalnya, berat badan bayi lahir rendah (BBLR) dan terjadi perdarahan persalinan. Hal ini dapat meningkatkan kematian ibu dan bayi. Dia menegaskan, kehamilan pada remaja juga terkait dengan kehamilan yang tidak dikehendaki dan aborsi tidak aman.

“Persalinan pada ibu di bawah usia 20 tahun punya kontribusi dalam tingginya AKB. Bahkan, tak jarang nyawa ibu juga terancam,” jelas perempuan berhijab ini.

Hamil di usia yang terlalu belia tak hanya berhenti pada potensi bayi lahir secara prematur. Menurut Etti, ini juga bisa memantik risiko anak stunting alias gizi buruk. Sebab, mayoritas pasangan muda belum “kenyang” memahami persiapan kehamilan dan usia ideal mengandung.

“Nanti saat anak tumbuh tapi pemenuhan gizi tidak sesuai, maka pasti akan sering sakit. Hasilnya mengarah pada stunting,” terangnya.

Untuk mengantisipasi kehamilan di usia muda, pasutri harus berkonsultasi dengan dokter seputar program hamil. Pasutri juga tetap bisa berhubungan intim, tetapi menggunakan alat kontrasepsi dan meminimalisasi berhubungan badan saat masa subur.

“Menikah pun sebaiknya jangan pada usia terlalu dini. Karena itu bisa memicu kehamilan muda,” tandasnya.

Untuk diketahui, AKB di Kabupaten Blitar tahun lalu tercatat sekitar 85 kasus. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan pada 2021 yang mencapai 110 kasus. Mayoritas kematian pada bayi lantaran kelahiran prematur.

Sementara itu, kasus angka kematian ibu (AKI) pada 2022 tercatat sekitar 17 kasus, sedangkan pada 2021 lalu jumlahnya lebih tinggi dengan 69 kasus. AKI dipicu eklampsia atau kejang selama menjelang dan proses persalinan. (luk/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.