Semakin Dekat dengan Pembaca

Harga Kedelai “Gemuk”, Tahu “Langsing”

KOTA BLITAR – Tingginya harga kedelai membuat sejumlah produsen tahu di Kota Blitar “menjerit” (mengeluh). Pasalnya, mereka harus memutar otak agar tetap untung. Salah satunya, ukuran tahu dibuat lebih “langsing” (kecil). Ini dilakukan agar produsen tak terlalu banyak menaikkan harga jual.

Seperti halnya Maulana Mardani. Produsen tahu di wilayah Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, itu mengaku naiknya harga kedelai membuat dirinya resah. Sebab, kedelai menjadi bahan utama pembuatan tahu. Dia pun harus berpikir agar produksi tetap berjalan dan minim kerugian. “Harus memilih antara barangnya dikecilkan atau harganya dinaikkan,” ujarnya.

Pria 36 tahun itu mengatakan, kenaikan harga kedelai dipengaruhi cuaca dan permintaan pasar. Ketika permintaan pasar di Amerika tinggi, harga di sini Indonesia ikut naik. Kini harga kedelai naik setiap hari, mencapai Rp 12.700 per kilogram (kg). Meski sempat turun, harga kembali naik sampai sekarang. “Dulu harganya cuma Rp 7 ribu, tapi setiap hari naik Rp 100,” katanya.

Maulana mengaku dalam produksinya mayoritas memakai kedelai impor. Perbandingannya 80:20. Itu karena kedelai impor dinilai lebih bagus menghasilkan tahu. Yakni, cepat mekar ketika digoreng, serta tahan lebih lama. Nah, selain ukuran, dia juga menjual tahu mentah. Pembakaran menggunakan kayu limbah untuk menekan biaya produksi. “Saat harga dinaikkan atau barang dikecilkan, pembeli semakin berkurang,” tandasnya.

Kondisi berbeda terjadi pada telur. Bahan makanan kaya protein itu kini dijual sekitar Rp 21 ribu per kg. Padahal, harga sebelumnya bisa tembus Rp 24 ribu hingga Rp 27 ribu. Harga telur ini dipengaruhi oleh munculnya berbagai isu. Salah satunya, telur yang masuk ke daerah Jabodetabek, oleh karena itu harus menurunkan harga telur. “Sasaran kita semua itu di Jabodetabek. Semua daerah pun begitu,” ujar Yuni, salah seorang pedagang. (mg1/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.