Semakin Dekat dengan Pembaca

Harga Tanah di Karangrejo Naik Berlipat, Jelang Penetapan Penlok Tol

Tulungagung – Harga tanah di Desa Punjul, Kecamatan Karangrejo, yang sekarang berkisar Rp 15 juta per ru (setara 14 meter persegi) bisa berpotensi naik berlipat-lipat ke depannya. Apalagi, kabar terbitnya penetapan lokasi (penlok) jalan tol Kediri-Tulungagung sudah banyak didengar warga.

Wilayah ini merupakan daerah terbesar keempat yang terdampak proyek strategis nasional (PSN) jalan tol. Terdapat 165 bidang tanah terdampak, tetapi 80 persen yang terdampak merupakan area persawahan dan tegal, sedangkan sisanya kurang lebih 30 unit rumah. Bahkan, tanah kas desa juga ikut terdampak.

“Sebelum ada tol, harga tanah di wilayah sekitar kantor desa sudah tinggi. Apalagi, tanahnya selalu menjadi rebutan karena dekat jalan raya. Sekarang harga tanah di dekat jalan raya mencapai Rp 15 juta per ru,” ujar Kasi Pemerintahan Desa Punjul, Suliswanto.

Pria berkacamata ini menyebut, harga tanah di sekitar kantor Desa Punjul memang tinggi sejak beberapa tahun terakhir. Padahal, harga tanah di desa lain masih di bawahnya. Harga tanah tersebut sangat mungkin berpotensi naik karena adanya proyek tol. Tanah dengan harga termahal berada di Dusun Genengan yang sebagian terdampak tol. Namun, harga tanah yang masuk gang tidak sampai menyentuh Rp 15 juta per ru.

Hingga sekarang, Sulis sering menerima banyak pertanyaan warga, apakah tanaman mereka jadi dibeli pihak pelaksana tol atau tidak. Itu lantaran sebulan setelah pemasangan patok tol berwarna kuning ini belum ada kabar lagi.

“Sekarang masih jarang orang yang transaksi jual beli tanah, sehingga harganya juga masih stabil. Sedangkan warga yang terdampak tol belum terlihat ada persiapan membeli tanah atau pindah, karena tahapan selanjutnya masih belum jelas,” terangnya ketika ditemui di kantornya kemarin (10/12).

Dia berharap ganti rugi yang diberikan kepada warga yang terdampak tol bisa untuk membangun rumah atau membeli tanah lagi. Jadi, warga tidak merasa dirugikan atas proyek tersebut.
Sementara itu, Mahmud, 63, warga Desa Punjul megatakan bahwa hampir keseluruhan rumahnya terdampak tol. Bahkan, patok tol berwarna kuning tepat berada di depan rumahnya dan berdiri sejak awal Desember.
Dia masih ingin mencari tanah yang berada di Desa Punjul, tempat kelahirannya, sebagai ganti. “Sudah banyak orang yang menawarkan tanahnya kepada saya. Namun, saya masih bingung, belum punya uang. Untuk pindah tempat di luar desa juga tidak mudah. Saya lebih memilih pindah rumah atau tanah yang masih di desa sendiri,” pungkasnya. (jar/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.