Semakin Dekat dengan Pembaca

Harga Telur Pecah Rekor, Peternak Ayam Layer Trenggalek Bersorak

TRENGGALEK – Harga telur yang memecahkan rekor tertinggi pada 2022, berdampak positif bagi kelangsungan usaha ayam petelur di Bumi Menak Sopal. Berkat kenaikan itu, para peternak bisa bernafas lega.

Kondisi positif yang terjadi baru-baru ini mengingatkan kejadian sekitar September 2021 lalu. Harga telur kala itu terjun bebas, menyisakan Rp 14 ribu per kilogram (kg).

Nilai jual telur itu tidak sebanding dengan biaya operasional. Akibatnya, banyak peternak berakhir gulung tikar.

“Tapi saya tetap berusaha untuk bertahan, meskipun sudah banyak yang gulung tikar,” kata Sugiarto, peternak ayam petelur asal Desa Ngulankulon, Kecamatan Pogalan, kemarin (8/12).

Belum lama ini harga jual telur dari produsen Rp 28 ribu per kg. Sugi menilai, harga jual itu sama seperti saat nilai jual telur yang sempat Rp 24 ribu per kg.

“Karena keuntungan yang didapat peternak tak berbeda jauh, tidak bisa mendapat keuntungan seperti harga Rp 24 ribu per kg,” ungkapnya.

Sedangkan pemicu nilai keuntungan yang tak jauh beda, menurut Sugi, adalah biaya operasional. Tren kenaikan harga telur dari tahun ke tahun seiring dengan harga pakan yang naik.

Implikasinya, ketika harga jual produsen (peternak, Red) Rp 28 ribu, maka biaya operasional berada masih berada di bawahnya, meskipun tidak terlampau jauh.

Dalam sehari, biaya operasional Sugiarto yang memiliki 600 ayam petelur itu menyentuh Rp 450 ribu di tiap harinya.

Biaya itu untuk memenuhi kebutuhan pakan, yakni sentrat 50 kg (2,5 hari habis), bekatul 30 kg (2,5 hari habis), dan jagung 75 kg (2,5 hari habis).

Sugi menyimpulkan, melalui akumulasi biaya operasional itu, kenaikan harga telur yang terjadi belakangan ini tak jauh berbeda.

Di samping itu, pengusaha telur berskala kecil seperti Sugi tetap bersyukur dengan adanya momen reversal (pembalikan) atau kenaikan harga tersebut.

Kondisi ini, kata dia, jauh lebih baik dibandingkan gulung tikar.

“Pandemi Covid-19 lalu dapat menjadi pembelajaran, jika usaha telur tidak selalu berjalan mulus, sehingga perlu merintis usaha-usaha lain,” ucapnya.

Sebelumnya lalu, menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2023 beberapa komoditas pasar mulai menampakkan gejala kenaikan harga. Seperti halnya telur, baru-baru ini harganya memecah rekor dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) di Jawa Timur, (6/12).

Harga telur ayam ras (petelur) menyentuh Rp 29.266 per kilogram (kg). Harga itu telah melampaui harga tertinggi kurun 2018 – 2021 yang sebatas Rp 24,086 ribu per kg.

Seorang pedagang sembako di Pasar Basah, Umi Kalsum mengakui kenaikan harga telur itu benar adanya. Pada Selasa (6/12) harga telur ayam di Pasar Basah sudah menyentuh Rp 29 ribu per kg. “Sebelumnya harga Rp 27 ribu per kg,” ucap Umi. (tra/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.