Semakin Dekat dengan Pembaca

Hipertensi Jadi Penyakit Terbanyak Diderita Warga   Tulungagung

TULUNGAGUNG – Hipertensi menjadi penyakit terbanyak diderita warga Tulungagung. Berdasarkan data, setidaknya terdapat ribuan penderita penyakit peningkatan tekanan darah tersebut. Penyakit ini berkaitan dengan gaya hidup serta pola hidup dari masyarakat yang kurang sehat.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Ana Herawati mengatakan, setidaknya terdapat 2.408 warga Kota Marmer ini yang menderita penyakit berkaitan dengan peningkatan tekanan darah ini.

Berdasarkan data, diketahui terdapat 20 macam penyakit terbanyak diderita warga Tulungagung sepanjang tahun 2022. Adapun penyakit-penyakit tersebut meliputi, hipertensi dengan 2.408 jiwa; infeksi saluran nafas dengan 1.902 jiwa; diabetes dengan 972 jiwa; gangguan mental atau skizofrenia dengan 915 jiwa; diare akut dengan 542 jiwa; influenza dengan 493 jiwa; maag kronis dengan 454 jiwa; tuberkulosis dengan 408 jiwa; peradangan kulit dengan 318 jiwa; ruam kulit atau atopic dermatitis dengan 312 jiwa; gangguan pendengaran dengan 276 jiwa; peradangan tenggorokan dengan 265 jiwa; asma dengan 250 jiwa; biduran dengan 247 jiwa; patah tulang dengan 236 jiwa; kudis dengan 156 jiwa; demam dengan 139 jiwa; stroke dengan 129 jiwa; gagal jantung dengan 91 jiwa; dan diabetes mellitus tipe I dengan 88 jiwa.

Berdasarkan paparan data di atas, puncak penyakit yang banyak diderita merupakan penyakit sifatnya tidak menular. Berbeda dengan tahun sebelumnya, puncak penyakit banyak diderita merupakan penyakit menular, seperti Covid-19 dan lain sebagainya. “Data tersebut dihimpun dari banyaknya kunjungan puskesmas se Kabupaten Tulungagung dan RSUD dr Iskak. Nantinya rumah sakit swasta juga akan ditarik datanya agar benar-benar riil data penyakit yang ada di Tulungagung,” ucapnya.

Mengetahui kondisi tersebut, dinkes mengadakan program gerakan serentak skrening diabetes untuk meminimalkan penderita penyakit tersebut. Warga dengan usia di atas 15 tahun untuk memeriksakan kadar gula dan tensinya ke layanan kesehatan yang tersedia. “Jadi untuk warga berusia di atas 15 tahun itu, diharapkan 1 kali dalam 1 tahun memeriksakan kadar gula dan tensinya. Bisa memeriksakan ke puskesmas, balai desa atau di pos binaan terpadu. Ini tujuannya untuk diteksi dini,” paparnya.

Disinggung ihwal perubahan penyakit menular menjadi penyakit tidak menular yang memuncaki jumlah penderita penyakit di Tulungagung, dia mengaku, penyakit menular memuncaki jumlah penderita penyakit tersebut dikarenakan adanya wabah Covid-19 di dua tahun belakangan. Sementara itu, kini penyakit tidak menular justru meningkat. Sebab, pola hidup serta gaya hidup warga tidak sehat. “Kalau penyakit menular sifatnya dicegah penularannya, lama kelamaan sembuh. Kalau penyakit tidak menular ini, sedikit kemungkinan untuk sembuhnya. Itu dikarenakan gaya hidup dan pola hidup yang tidak sehat,” tutupnya. (mg2/din)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.