Semakin Dekat dengan Pembaca

Hongkong dan Taiwan Idola PMI asal Blitar

KOTA BLITAR – Mengais rezeki di negara orang masih menjadi pilihan ribuan masyarakat Bumi Penataran. Seolah dapat angin segar, jumlah pekerja migran Indonesia (PMI) yang berangkat ke luar negeri meningkat signifikan setelah Covid-19 tertangani.

Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Blitar, jumlah masyarakat yang memiliki jalur menjadi PMI lebih banyak daripada tahun sebelumnya. Tercatat sebanyak 4.446 PMI yang berangkat pada 2022. Rinciannya, 1.471 laki-laki dan 2.965 perempuan. Padaha, pada 2021, jumlah PMI yang berangkat hanya 1328 jiwa. Dengan rincian 168 laki-laki dan 1.160 perempuan.

Sekretaris Disnaker Kabupaten Blitar Nanang Adi mengatakan, peningkatan jumlah PMI ini lebih dari tiga kali lipat jika dibandingkan data jumlah PMI pada 2021. Menurut dia, salah satu faktor penyebab peningkatan PMI ini karena meredanya kasus Covid-19. Karena itu sudah tidak ada pembatasan untuk pergi ke luar negeri. “Saat ini sudah ada kelonggaran bagi PMI untuk bekerja di luar negeri,” katanya.

Dia mengungkapkan, keputusan memilih bekerja di negara orang ini karena kurangnya penghasilan di tanah air. Akibatnya, tawaran gaji besar di negara orang membuat banyak masyarakat tergiur dan terpaksa mengais rezeki di negara orang. “Selain itu, faktor yang paling mungkin adalah untuk perbaikan ekonomi keluarga,” paparnya.

Lanjut dia, rerata PMI berangkat pada usia produktif yakni 19-55 tahun. Namun, jika dispesifikkan lagi, mayoritas dari mereka adalah pemuda dengan rentang usia antara 20-29 tahun. “Sebenarnya usia produktif seperti mereka bisa dikembangkan di sini, tapi mereka memilih untuk menjadi PMI,” katanya.

Nanang memaparkan, negara tujuan yang paling banyak diminati adalah Taiwan dan Hongkong. Pada 2022 telah memberangkatkan sebanyak 2043 orang ke Taiwan dan 1673 orang ke Hongkong. “Ada yang memperpanjang kontrak, ada juga PMI yang baru,” paparnya.

Dia berharap para PMI ini berangkat secara prosedural. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pengawasan serta memberikan perlindungan pada PMI. “Pasti ada PMI yang berangkat secara nonprosedural, tapi kami tidak tahu datanya. Bisa ketahuan saat ada pemulangan dari negara terkait,” tandasnya. (mg1/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.