Semakin Dekat dengan Pembaca

Hubungan Industrial Pengelolaan Produksi UMKM Pabrik Tahu 73 Sukun, Kota Malang

Pabrik tahu Sukun 73 merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang industri manufaktur makanan yang memproduksi tahu berbahan kedelai pilihan. Pabrik tahu 73 Sukun ini tergolong dalam jenis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan telah berdiri sejak tahun 1950. Perusahaan pabrik tahu Sukun 73 ini dimiliki oleh perorangan dari satu keluarga yang sistemnya turun-temurun. Saat ini pemiliknya bernama Bapak Feri Gunawan yang telah bertanggung jawab pada industri pabrik tahu Sukun 73 sejak tahun 1980. Industri tahu Sukun 73 telah berkembang menjadi besar dan terkanal sampai saat ini. Perusahaan ini bekerja sama dengan pedagang-pedagang pasar, rumah makan, dan lain sebagainya. Melalui pembahasan ini, penulis telah mempelajari mata kuliah terkait hubungan industrial pada suatu usaha industri yang diampu oleh Drs Sulismadi MSi.

Proses produksi merupakan kegiatan pengolahan bahan baku menjadi barang jadi yang sering terjadi dalam perusahaan industri atau pabrik. Proses produksi yang baik dibutuhkan keseimbangan antara faktor produksi, seperti: bahan baku, modal, mesin, metode, dan sumber daya manusia. Khusus bahan baku sering kali menjadi faktor penting, dikarenakan persediaan bahan baku merupakan unsur utama dalam kelancaran proses produksi.

Proses produksi yang dilakukan oleh pabrik tahu Sukun 73, stok bahan diperoleh dari perkumpulan KOPTI (Koperasi Tahu dan Tempe). KOPTI merupakan koperasi resmi dari pemerintah.

Pabrik tahu Sukun 73 merupakan jenis usaha industri tripartit. Karena usaha industri pabrik tahu Sukun 73 ini bekerja sama dengan KOPTI yang langsung dari pemerintah untuk mendapatkan bahan kedelai. Jadi, bisa dikatakan pemerintah sebagai pihak yang memberikan pelayanan kepada pelaku usaha melalui persediaan bahan baku kedelai.

Sebelum proses produksi dilakukan, pabrik tahu Sukun 73 mengawali prosesnya dengan cara memilah bahan kedelai yang layak untuk diproduksi. Pemilik pabrik tahu Sukun 73 menyampaikan bahwasannya untuk bahan produksi telah dipilah menjadi tiga jenis bahan, yaitu kelas 1, kelas 2, kelas 3. Jika sudah dibedakan untuk jenis bahannya, maka masing- masing pemilik industri tahu akan memilih bahan seperti apa yang diinginkan untuk produksi tahu nantinya. Bahan yang harganya lebih mahal juga akan menghasilkan mutu atau hasil produksi yang berkualitas.

Pemilik industri tahu Sukun ini juga menyampaikan bahwa pada akhir-akhir ini kualitas stok bahan kedelai lokal menurun. Hal tersebut terjadi karena tanah yang subur digunakan untuk membangun sebuah lahan hunian atau perumahan, sedangkan tanah yang kurang subur digunakan untuk lahan persawahan. Karena itu, hasil dari panen yang ada di tanah kurang subur kurang memuaskan. Pemilik usaha industri tahu Sukun ini juga menyampaikan bahwasanya sementara ini di Indonesia stok bahan produksi yang didapatkan dari impor sekitar 80% dan dari lokal sekitar 20%. Harga bahan pokok akhir-akhir ini juga ikut naik karena mengikuti dolar yang sedang naik.

Proses produksi juga memiliki prosedur pengolahan. Pemilik usaha industri pabrik tahu Sukun 73 ini menyampaikan bahwasanya untuk pengolahan yang paling penting dan berpengaruh adalah terkait dengan kebersihan. Pabrik tahu Sukun 73 pada saat ini terkait proses produksi, teknologi yang digunakan saat proses penggilingan adalah menggunakan teknologi modern berupa mesin. Ditegaskan kembali bahwa tidak semua otomatis menggunakan teknologi mesin. Jadi, ada juga sebagaian proses produksi yang menggunakan teknologi tradisional. Proses produksi membutuhkan orang–orang yang berkompeten atau berpengalaman dalam bidang proses pengolahan produksi.

Pabrik tahu Sukun 73 pada awalnya memiliki total karyawan berjumlah 10 orang karena adanya dampak yang timbul akibat lumpur lapindo dan pandemi Covid–19, maka menggunakan tradisional untuk proses jumlah karyawan berkurang menjadi 4 orang untuk saat ini. Proses perekrutan karyawan di pabrik tahu Sukun ini dilakukan secara turun-temurun. Pekerja di pabrik tahu ini adalah dari saudara pemilik usaha industri tersebut. Dari yang mereka awalnya tidak paham terkait proses pengolahan tahu seperti apa diajari, mulai tidak bisa hingga menjadi bisa. Dari yang karyawan mulanya sejumlah 10 orang menjadi 4 orang karyawan, karena akibat lumpur lapindo dan pandemi Covid-19 ini juga berdampak pada perekonomian di industri tersebut.

Terjadinya lumpur lapindo berdampak pada usaha industri di pabrik tahu Sukun ini dan perekonomian menurun menjadi 50%. Karena dulunya usaha industri pabrik tahu Sukun ini pada saat hari besar ataupun hari libur banyak pelanggan dari luar kota seperti Surabaya dan Sidoarjo. Dampak lapindo berpengaruh bagi pelanggan dari luar kota selama 6 tahun untuk akses perjalanan, walaupun setelah 6 tahun usai berlalu dan sudah dibangun tol. Selain lapindo, muncul selanjutnya pandemi Covid–19. Pandemi Covid–19 ini juga memengaruhi perekonomian di usaha industri pabrik tahu Sukun dan penghasilan menurun menjadi 25%. Akibat dari kedua masalah yang muncul baik terjadinya lumpur lapindo ataupun pandemi Covid–19, saat ini hasil dari produksi tahu tidak terlalu banyak. Dalam per harinya, pabrik tahu Sukun ini mampu memproduksi sekitar 100 sampai 200 kilogram (kg). (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.