Semakin Dekat dengan Pembaca

IAI Kabupaten Blitar Pertanyakan SE Kemenkes, Mengapa?

KOTA BLITAR – Surat edaran (SE) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tentang kasus gangguan ginjal akut masih dipertanyakan kejelasananya. Salah satunya terkait imbauan kepada apotek agar sementara waktu tidak menjual obat bebas dan atau bebas terbatas dalam bentuk sirup kepada masyarakat.

Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kabupaten Blitar angkat bicara mengenai hal tersebut. Organisasi para apoteker itu masih bingung dengan SE perihal kewajiban penyelidikan epidemiologi dan pelaporan kasus gangguan ginjal akut atipikal pada anak yang dikeluarkan Kemenkes. Dalam surat tersebut, ada sembilan poin yang dibahas.

Wakil Ketua IAI Kabupaten Blitar Daning Irawati mengatakan, SE Kemenkes tersebut masih abu-abu. Artinya, poin-poin yang disebutkan dalam surat tersebut belum jelas dan mendetail. “Khususnya pada poin 7 dan 8. Di situ disebutkan bahwa apotek untuk sementara belum boleh melayani semua sirup. Yang kami pertanyakan, sirup yang seperti apa?” jelasnya kepada koran ini kemarin (19/10).

Adapun poin 7 pada SE tersebut berbunyi “Tenaga Kesehatan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan untuk sementara tidak meresepkan obat-obatan dalam bentuk sediaan cair/sirup sampai dilakukan pengumuman resmi dari pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”. Kemudian poin 8, “Seluruh apotek untuk sementara tidak menjual obat bebas dan/atau bebas terbatas dalam bentuk sirup kepada masyarakat sampai dilakukan pengumuman resmi dari pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”.

Untuk mendapat kejelasan, terang Daning, IAI Kabupaten Blitar kini sedang berkoordinasi dengan pengurus IAI daerah di Surabaya. Pihaknya juga meminta petunjuk serta arahan lebih lanjut terkait hal itu (SE Kemenkes, Red). “Di situ disebutnya semua sirup. Tidak menyebutkan parasetamol sirup. Pun tidak menyebutkan apakah tidak boleh melayani sirup untuk anak. Jadi, edaran ini masih abu-abu alias tidak jelas,” tegasnya.

Di samping itu, IAI juga mempertanyakan kenapa hanya apotek yang diminta untuk menghentikan sementara penjualan obat bebas dan atau obat bebas terbatas khususnya jenis sirup kepada masyarakat. “Sedangkan di luar apotek seperti toko obat atau toko biasa juga menjual sirup. Entah itu jenis obat maupun vitamin,” tanyanya.

Karena SE yang belum jelas, IAI belum bisa meminta apotek-apotek di Kabupaten Blitar untuk menghentikan jual beli. Sebab, sirup yang dimaksud dalam SE tersebut juga belum jelas, apakah itu sirup obat atau sirup vitamin.

Jika apotek harus menghentikan penjualan, bagaimana pelayanan terhadap masyarakat nanti? Khususnya terhadap orang dewasa. “Kami berupaya untuk tetap melayani. Namun, khusus jenis parasetamol memang tidak dilayani, terutama untuk anak-anak,” tandasnya. (sub/c1/ady)

Leave A Reply

Your email address will not be published.