Semakin Dekat dengan Pembaca

Ini Perjuangan Dedi Arifiyanto, Mantan Koki Kapal Pesiar yang Sukses Kembangkan Bisnis Camilan Sehat

Terinpirasi Anak Kecil, Pakai Minyak Satu Kali Penggorengan

Usaha bukan hanya sekedar usaha melainkan harus menjaga kualitas agar tetap bisa bertahan. Hal inilah yang menjadi pengalaman yang berharga bagi Dedi Arifiyanto.

Pasalnya setelah mengalami kesulitan ketika memulai, namun dengan tetap berkomitmen menjajakan makanan camilan yang sehat dan lezat, usaha produksi camilan serba ikan yang dirintisnya terus berkembang hingga saat ini.

ZAKI JAZAI, Kota, Radar Trenggalek

Yang tidak mau makan ikan saya tenggelamkan!

Tagline itu yang akrab di telinga kita, ketika membahas mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Pernyataan tersebut dilontarkan ketika kementerian tersebut menyosialisasikan program gemar makan ikan.

Namun hal tersebut berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Dedi Arifiyanto, yaitu membuat cara beda makan ikan dengan menciptakan usaha camilan berbahan baku dari yang enak dan lezat.

Itu seperti yang terlihat ketika Jawa Pos Radar Trenggalek mengunjungi rumahnya yang berada di Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek kemarin (5/1).

Saat dari teras rumah telah tercium aroma gurih masakan ikan. Ya, itu terjadi samping rumahnya merupakan tempat produksi camilan miliknya. Saat itu terlihat beberapa karyawan tengah mengepak camilan yang siap kirim. Di sisi lain juga terlihat karyawan lain juga tengah mengolah bahan baku agar siap dikemas.

“Butuh proses panjang untuk memulai usaha ini, apalagi sebelumnya saya sempat frustrasi karena tidak bekerja hampir satu tahun,” ungkap Dedi Arifiyanto kepada koran ini.

Benar saja usaha tersebut bermula pada sekitar 2016 lalu dirinya memutuskan untuk berhenti menjadi seorang koki kapal pesiar. Itu terjadi lantaran sang istri melarangnya untuk kembali ke kapal pesiar tempatnya bekerja yang saat itu sedang berlabuh di New Zealand sepeninggal sang ayah.

Tanpa berpikir panjang akhirnya dirinya tersebut menuruti kemauan sang istri kendati tidak ada rencana nantinya bekerja apa. Sehingga hal tersebut membuat dirinya setelah menganggur lama dan nekat untuk mencoba usaha baru. Usaha yang dipilih pertama kali adalah membuat camilan kerupuk berbahan tulang alias duri ikan lele.

“Sejak saat itu dengan berbekal kemampuan yang saya miliki bekerja di kapal pesiar sekitar akhir 2017 lalu terus mencoba produk kerupuk baru. Sebab belum ada pengusaha di sini (Trenggalek – red) yang menekuninya,” katanya.

Dalam proses tersebut Dedi kerap sekali menemukan kegagalan, karena racikan bumbu yang dibuat kurang tepat. Sebab dalam hal ini dirinya bertekad untuk membuat camilan yang sehat, bebas dari bahan pengawet dan bebas MSG, maupun pewarna makanan.

Hal tersebut didasari karena saat ini dirinya memiliki anak yang masih kecil, sehingga ingin memberikan makanan terbaik untuk tumbuh kembangnya. Dari situ dirinya juga bertekad memberikan yang terbaik untuk anak kecil lainnya.

Sehingga bumbu yang digunakan semuanya dari amal, seperti garam, gula, bawang merah, bawang putih hingga berbagai rempah-rempah.

Setelah beberapa kali kegagalan, akhirnya dirinya berhasil menciptakan komposisi yang bumbu yang pas. Barulah, dirinya mulai mengemasnya ke dalam plastik untuk menjajakannya ke warung-warung seharga Rp 1.000 setiap bungkusnya.

Namun hal tersebut bukan mendapatkan jalan yang mulus melainkan banyak warung yang menolaknya, dan jarang yang laku ketika dititipkan.

Kendati demikian Dedi tidak patah semangat dan terus memproduksinya. Gayung Pun bersambut, tiba-tiba ada salah satu reseller dari luar kota yang tertarik akan camilan produksinya, hingga berani memesannya lagi untuk diedarkan kembali.

Lambat laun, akhirnya dirinya menjalin kerja sama dengan reseller tersebut, sebab rutin memesan dengan jumlah yang tidak sedikit sampai saat ini. Dari situ berbagai persyaratan untuk mendukung agar produknya diterima di pasar luar daerah terus dilakukan, seperti perizinan, hingga proses kemasan.

“Jadi saat itu ketika saya menjual per kemasan Rp 1.000 tidak laku, namun saat ini per kemasan Rp 10 ribu laku,” imbuh suami Sri Utami Dewi ini.

Lambat laun saat ini sedikitnya sudah ada 12 reseller yang telah menjalin kerja sama di berbagai daerah. Bahkan, reseller tersebut punya reseller lain di bawahnya yang ikut menjual camilan tersebut. Sedangkan untuk kebanyakan penikmat atau pemesan adalah toko yang menjual makanan untuk bayi atau anak-anak. Sebab dalam proses ini dirinya mengejar segmen pasar makanan untuk anak yang sehat.

Sehingga mempertahankan kualitas makanan sehat tetap dijaga, seperti tetap menggunakan bumbu alami, menggunakan minyak goreng satu kali pakai, dan sebagainya.

Dengan terus berkembangnya usaha tersebut, saat ini selain memproduksi jenis kerupuk sudah ada sedikitnya 15 produk olahan berbahan ikan. Seperti abon, nugget, kue dan sebagainya.

Namun semua produk tersebut dibuat ketika ada pesanan, sebab karena tidak menggunakan pengawet umur simpan hanya sekitar enam bulan. Sedangkan untuk omset sedikitnya dalam sebulah mendapatkan Rp 15 juta. “Untuk marketplace kami menyasar baby shop karena semua olahan ini bisa digunakan untuk MPASI. Karena itu keasrian bahan akan selalu kami jaga,” jelas Dedi.(*/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.