Semakin Dekat dengan Pembaca

Ini Ramuan Hebat Bikin Ternak Sehat

KABUPATEN BLITAR – Pemanfaatan rempah dalam proses penyembuhan penyakit mulut dan kuku (PMK) kian banyak dilakukan peternak. Metode pengobatan konvensional ini tidak hanya solusi dari kelangkaan obat. Namun, peredam kepanikan minimal karena sapi-sapi terpapar virus ini menjadi doyan makan.

Di kalangan peternak, formula ini disebut sebagai booster, penunjang imunitas, serta asupan energi karena kurangnya nafsu makan. Bahan yang digunakan untuk meramunya relatif mudah didapat. Harganya pun relatif terjangkau.

Bahan itu di antaranya, gula merah, temulawak, mengkudu, hingga daun kelor. Semua dihaluskan, kemudian campur dengan air kepala. Selanjutnya, diminumkan ke ternak yang terkontaminasi virus. Dosisnya disesuaikan dengan berat ternak. “Jamu herbal ini adalah resep dari leluhur,” ujar Gatut Suryono, salah seorang peternak.

Pengaplikasian ramuan herbal ini tidak mudah. Sebab, bagian yang sakit akibat virus ini adalah mulut. Biasnya, peternak harus secara paksa meminumkan (diclontang) agar booster tersebut bisa masuk ke tubuh.

Untuk sapi yang sudah terpapar dan sakit, minumkan ramuan itu dua kali sehari. Dosisnya disesuaikan dengan berat sapi. Ternak dengan berat di atas 200 kilogram, setidaknya 1,5 liter setiap kali minum. Untuk berat di bawahnya, takarannya biasanya sedikit dikurangi.

Ramuan ini juga diberikan untuk ternak yang sehat sebagai pencegahan, tetapi tidak setiap hari. Cukup dua sampai tiga kali dalam sepekan.

Konon rasa dari ramuan tersebut tidaklah memuakkan. Sebaliknya, manis karena ada banyak gula dalam air jamu tersebut. Namun, karena butuh pengenalan, proses nylontang ini biasanya memakan waktu sekitar tiga hari. “Setelah terbiasa baru bisa diminumkan seperti biasa, atau bisa juga dicampur dengan konsentrat,” tutur Gatut.

Kemanjuran ramuan herbal ini juga tidak langsung bisa dilihat. Setidaknya butuh waktu tiga hari baru ada tanda-tanda positif. Misalnya, sapi mulai berani untuk mengunyah atau makan seperti sebelum terkena penyakit.

Di sisi lain, sapi juga tidak gampang ndeprok (roboh) karena ramuan ini memiliki kandungan untuk kebutuhan energi ternak. “Sapi yang kena PMK ini mayoritas ndeprok (tidak kuat menyangga tubuh, Red),” katanya.

“Namun, itu bisa karena beberapa hal. Selain karena penyakit di bagian kaki, itu juga karena tidak ada energi lagi untuk berdiri,” imbuhnya.

Kendati demikian, ramuan ini bukanlah obat ampuh yang pasti bisa membawa kesembuhan. Sebab, ada juga sapi yang sudah mendapatkan booster tetapi tetap mati atau berakhir di pejagalan. Di sisi lain, tingkat imortalitas atau kematian akibat penyakit ini juga relatif rendah. Yakni, 1-5 persen saja.

Konon ada beberapa faktor yang menjadi pemicunya. Mulai kebersihan kandang hingga perhatian peternak dalam mengupayakan kesembuhan. Hal ini berarti, butuh usaha lain, tidak hanya sekedar memberikan jamu herbal untuk proses penyembuhan. “Yang kadang luput itu bagian kaki, karena kan tidak bisa langsung kelihatan,” ujar Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Wlingi Ninik Dwi Handayani.

Dia sepakat jika ramuan herbal menjadi alternatif atau penunjang dalam proses penyembuhan PMK. Misalnya, air kelapa berfungsi sebagai penetral racun. Kunyit, temu ireng, temulawak, dan jahe, sebagai antibiotic, selain itu bisa sebagai penambah nafsu makan dan penghangat tubuh. Bawang putih merupakan antioksidan yang cukup tinggi, sedangkan daun sirih mengandung antibiotik yang baik untuk proses menyembuhkan luka atau lesi di mulut. “Nah, gula merah ini sebagi sumber energi sehingga sangat cocok diberikan pada ternak yang kehilangan nafsu makan,” jelasnya.

Sebagai petugas lapangan, Ninik juga melihat sendiri manfaat penggunaan jamu herbal tersebut. Rata-rata, setelah mengonsumsi ramuan selama tiga hari, nafsu makan yang sebelumnya turun mulai kembali normal. Meski begitu, para peternak masih memanfaatkan ramuan tersebut hingga masa inkubasi virus, yakni 14 hari. “Hanya itu tadi, saat nafsu makan kembali, beberapa hari kemudian muncul penyakit di bagian kuku,” ujarnya.

Hal ini menjadi tanda bahwa peternak tidak boleh cepat puas diri. Bagian kaki juga harus diperhatikan sedari dini. Caranya, jaga kebersihan kadang. Bahkan, beberapa peternak juga memanfaatkan cairan sitrun dan Bayclin untuk pencegahan maupun penyembuhan penyakit pada bagian kaki tersebut. (hai/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.