Semakin Dekat dengan Pembaca

Jaga Pola Asuh Anak, Cegah Kekerasan

KOTA BLITAR – Menentukan pola asuh anak dapat membentuk karakter anak. Keluarga menjadi patokan utama dalam perkembangan anak.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan KB (DP3AP2KB) Kota Blitar Mokhamad Sidik mengatakan, orang tua (ortu) memiliki peran penting dalam perkembangan anak. Terutama dalam hal pendidikan karakter anak. “Tak sedikit ortu sekarang sibuk bekerja dan menitipkan anak kepada neneknya,” ujarnya, kemarin (30/11).

Kini, lanjut dia, Kota Blitar masih banyak perempuan yang harus menanggung beban ekonomi keluarga. “Tidak hanya membiayai anak, tetapi juga menafkahi suami yang tidak bekerja,” jelasnya.

“Jika tidak mendapat pola asuh yang optimal, maka emosi anak menjadi labil. Hal ini dapat memicu kasus kekerasan pada perempuan dan anak meningkat,” imbuhnya.

Selama ini, kasus yang menimpa perempuan dan anak tidak hanya secara fisik, tetapi juga nonfisik atau psikis. Biasanya, kekerasan secara psikis dampaknya lebih besar. Namun sayang, Sidik belum bisa menunjukkan data kasus kekerasan di Kota Blitar secara detail.

Pihaknya lebih fokus pada upaya pencegahan. Salah satunya dengan sosialisasi kepada remaja tentang dampak kekerasan atau kenakalan remaja. Kemudian, untuk calon pengantin sosialisasi mengenai parenting atau pola asuh anak. “Hal tersebut menjadi kunci utama dalam kesejahteraan rumah tangga,” ujar pria berkacamata itu.

Ketua Rumah Data Kampung Keluarga Berkualitas Kelurahan Klampok Junaedi mengaku, pola asuh memengaruhi kualitas perilaku anak. Seperti lima dari tujuh kasus kenakalan remaja di Kelurahan Klampok yang terjadi beberapa waktu terakhir, disebabkan karena kurangnya perhatian ortu. “Yakni, pernikahan dini yang terjadi karena perempuan hamil duluan sehingga mereka harus tinggal bersama neneknya. Seharusnya, sosialisasi pola asuh tidak hanya diberikan kepada ortu dan calon ortu, tetapi juga remaja,” terangnya.

Selama ini, penanganan kasus di kelurahan tersebut dilakukan dengan pendekatan secara persuasif. Tujuannya agar anak jujur dan terbuka. “Jika ada laporan kasus, kami berupaya membantu mencarikan solusi,” ungkapnya.

Terpisah, pemerhati perempuan dan anak Titim Fatmawati mengatakan, komunikasi dalam pola asuh anak sangat penting. Pola asuh anak membutuhkan relasi komunikasi yang baik karena berlangsung jangka panjang. “Artinya, meskipun orang tua harus bekerja dan tidak membersamai selama 24 jam, hubungan keluarga tetap bisa harmonis,” jelasnya.

Dia melanjutkan, pola asuh setiap ortu berbeda-beda. Menurut dia, anak harus dikenalkan dengan pola komunikasi yang baik dan risiko tindakan yang akan dilakukan. Tak hanya itu, anak juga harus dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan. “Sehingga tidak menjadi keluarga yang otoriter terhadap anak,” papar Ketua Sahabat Perempuan Anak (Sapuan) ini.

Anak, kata dia, membutuhkan pengakuan atas dirinya. Jika anak tidak mendapat pengakuan dari keluarganya, dia akan mencari pengakuan di tempat lain. Ortu harus memberikan kenyamanan dan keamanan untuk anak. “Sangat berisiko jika anak berada di lingkungan yang negatif,” tandasnya. (mg1/c1/sub)

Leave A Reply

Your email address will not be published.