Semakin Dekat dengan Pembaca

Jarwo, Si Kreatif asal Besuki yang Ubah Limbah Batok Kelapa Jadi Kerajinan

TULUNGAGUNG – Bagi khalayak umum, batok kelapa sering jadi limbah. Namun, pandangan berbeda bagi Jarwo. Warga Desa/Kecamatan Besuki ini selama belasan tahun mengubah batok kelapa menjadi berbagai jenis kerajinan.

Di rumahnya yang sederhana di belakang Koramil Besuki, tampak beberapa bahan baku kerajinan siap untuk digarap. Mulai dari batok kelapa, limbah mebel, limbah kayu, dan lainnya. Berbagai bahan tersebut bakal diubah menjadi berbagai kerajinan bernilai ekonomis tinggi.

“Mulai 2005 sudah mulai membuat kerajinan. Awalnya ya batok itu, terus sampai sekarang akhirnya berbagai kerajinan ada di sini,” ungkap perajin kayu, Jarwo.

Saat pertama kali terjun sebagai perajin batok kelapa, Jarwo beralasan bahwa usaha yang dijalankan tersebut sangat minim, apalagi di Tulungagung. Padahal, peminatnya luas dan tidak terbatas di satu daerah saja, bisa keluar daerah bahkan sampai ekspor keluar negeri. Kendati demikian, yang ditekankan adalah kualitas produknya. Itu bisa dilihat dari kerapian produk.

Prediksinya tepat, kini mulai terlihat dengan banyaknya pesanan datang kepadanya. Saking banyaknya, Jarwo kewalahan melayani semua pesanan yang datang dari daerah Bali, Jogjakarta, sampai Jakarta.

“Masalahnya ada di tenaga. Apabila pesanan banyak tetapi karyawan saya malah tidak dating, sudah tentu membuat kewalahan. Mau tidak mau saya kerjakan sendiri, kadang minta bantuan teman perajin lainnya,” katanya.

Dia mengamini, semenjak mulai menggeluti dunia kerajinan, mayoritas bahan dasar yang digunakan adalah limbah. Keuntungannya yaitu akan memberikan biaya produksi yang minimal bagi produk yang dibuatnya. Bahkan, mebel kayu dengan kualitas bagus ataupun kayu olahan pabrik tidak pernah digunakan.

“Untuk kebanyakan kerajinan di sini itu dari limbah kayu, limbah batok, limbah mebel, limbah dari sungai, limbah laut, dan bahan-bahan dari hutan,” sebutnya.

Meski notabene limbah, semua bahan tersebut bisa diubah menjadi berbagai produk kreatif. Misalnya, batok kelapa bisa dijadikan berbagai kerajinan, tidak hanya berpatok pada beberapa bentuk saja, tetapi bisa dibuat sesuai dengan pesanan atau imajinasi saat membuat kreasi. “Batok kelapa bisa dijadikan sebagai tempat lampu, tempat hand sanitizer, teko, cangkir, kotak tisu, atau lainnya. Ada juga yang minta diubah menjadi barang-barang lainnya,” ungkapnya.

Mengenai harga, Jarwo tidak muluk-muluk. Segala kreasi yang dibuat memiliki harga bervariasi dan ditentukan kerumitan saat pengerjaan. Intinya, semakin rumit dengan waktu pengerjaan lama, jelas memiliki harga lebih tinggi. Satu karyanya pernah terjual seharga Rp 1,5 juta saat pihaknya mengikuti expo di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

“Waktu itu memang karya sana unsur seninya cukup tinggi sehingga dihargai mahal. Tetapi kalau normal, mangkok saya jual grosiran Rp 7 ribu, cangkir grosiran satu lusin Rp 80 ribu, dan lainnya memiliki harga berbeda-beda,” tuturnya.

Dia tidak pelit dengan ilmu yang dimiliki. Karena bekal pengalamannya, dia beberapa kali diminta untuk menularkan ilmunya sebagai perajin batok kelapa. Namun, permasalahan yang sering muncul adalah masyarakat merasa bingung untuk pemasaran produk ini. Karena sebanyak dan sebagus apa pun produk dibuat, susah berkembang apabila tidak memiliki pasar.

“Makanya, kalau bisa pemerintah ini menyediakan pasar khusus untuk kerajinan. Dengan pasar yang baik, ekonomi akan berputar bagi pelaku usaha kerajinan sehingga bisa berjalan lancar,” pungkasnya. (*/c1/din)

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.