Semakin Dekat dengan Pembaca

Jiwa Seni AKP Santoso Di Balik Seragam Polisi, Pandai Melukis di Kaca

TULUNGAGUNG- Siapa yang menyangka polisi dengan pangkat tiga balok emas yang sekarang menjadi Kasat Sabhara Polres Tulungagung pernah menekuni dunia lukis kaca. Dia yakni AKP Santoso, atau populer dipanggil Ndan So oleh teman-temannya.

Santoso memang sejak kecil hidup di tengah lingkungun seniman, apalagi di dekat rumahnya terdapat tempat tinggal perajin pigura bernama Jumelan. Ternyata, selain perajin pigura dari kayu, Jumilah juga pelukis kaca. Oleh karena itu, sejak sering bermain di rumah Jumelan, Santoso sering didongengkan wayang hingga bermain kuas di kaca. “Kata Pak Jumelan, tangan saya lihai dan lemas saat melukis di kaca. Memang dasarnya saya suka melukis, tapi saya termasuk seniman pasif. Lantaran, saya melukisnya dengan menjiplak dari blueprint yang sebelumnya sudah saya gambar,” ujarnya saat ditemui di warung kopi kemarin (2/1).

Santoso menyebut, pewarnaan yang paling sulit dari lukis kaca, apalagi melukis tokoh pewayangan. Dia berguru kepada Jumelan untuk perwarnaan di tokoh wayang yang dilukisnya. Belajar dari warna dasar hingga gradasi. Itu seperti Raden Werkudara yang didominasi warna hitam dan sebagian tubuhnya terdapat warna emas, warna dasar dulu, lalu gradasi. Sekali menorehkan tinta untuk melukis kaca, 60 persen yang diambil warna hitam.

Selain itu, karakter garis melukis wayang di kaca juga cukup sulit lantaran ada tekniknya tersendiri. Apalagi, tokoh wayang yang memiliki pakaian bermotif-motif dan atribut bermacam-macam. Oleh karena itu, mood berpengaruh bagi para seniman termasuk pelukis kaca. Namun, tidak semua orang bisa melukis karena itu merupakan bakat.

Sejak SMP, dia mengenal melukis wayang di kaca dengan berguru di Jumelan, hingga beberapa tokoh wayang berhasil dilukisnya. Bahkan, lukisannya sering direvisi dan dikritisi Jumelan untuk dapat membuat karya yang lebih baik lagi. Namun, setelah Jumelan meninggal dunia pada 1995 dan Santoso berangkat pendidikan polisi, dia tidak lagi menyentuh tinta di kaca.

“Semenjak saya menjadi polisi hingga sekarang, belum sempat untuk melukis di kaca lagi. Karena waktu sudah tersita untuk dinas, selain itu melukis juga membutuhkan mood yang baik. Pernah saya mulai melukis, tapi saat menggambar garis tiba-tiba putus, mood saya langsung ambyar,” terangnya.

Dia mengaku terakhir melukis kaca itu sekitar 1993 hingga 1994, sebelum berangkat pendidikan polisi. Bahkan, dia sempat ingin melukis Raden Bratasena, tetapi tidak jadi karena mulai sibuk di pendidikan polisi.

Dia juga sempat menyesali lantaran pada masa Covid-19 harusnya bisa melukis wayang di kaca lagi. Namun, setelah selesai menjadi anggota Brimob selama belasan tahun, pada 2020 lalu dia kembali ke Tulungagung dan langsung disibukan menjadi Kapolsek Kalidawir. “Beberapa waktu lalu, ada anak SMP yang menghampiri warung kopi dekat rumah saya. Saya dan saudara bernama Gatot mengajari anak-anak. Ternyata, mereka bisa melukis wayang selama 30 menit hingga 1 jam,” terang Santoso.

Dia mengajari anak SMP dengan langkah pelan-pelan dan membuat garis-garis yang rapi, hingga terbentuk tokoh Bagong. Bahkan, karya anak SMP itu ditunjukkan langsung kepada wartawan koran ini. Santoso bersyukur masih ada generasi milenial yang memiliki semangat belajar melukis wayang di media kaca.

Menurutnya, dengan mengajari anak-anak melukis di kaca, maka bisa mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Namun, Santoso tidak menuntut belajar melukis seperti caranya dulu, tetapi menumbuhkan rasa suka terhadap melukis dan wayang. “Tokoh pewayangan favorit saya adalah Raden Anoman, bahkan pernah sekali melukisnya di kaca. Alasan saya suka tokoh yang berkesatrian di Kendhalisada ini karena dulu ketika masih zamannya Pak Jumelan aktif melukis, banyak polisi pesan lukisan tokoh yang masuk keluarga aludira Bayu atau angin,” kata Santoso.

Insting seninya juga memengaruhi kehidupan sehari-harinya sebagai polisi. Lantaran, barang-barang yang dilihatnya bisa dibuat estetis jetika berada di tangannya. Selain itu, beberapa teman polisinya juga meminta Santoso menggambar untuk kebutuhan pribadi dan institusi. Oleh karena itu, keahlian melukis Santoso hingga kini masih terawat, meskipun sudah lama tidak menyalurkan tinta di atas kaca.(*/c1/rka)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.