Semakin Dekat dengan Pembaca

Joko Warsusilo Terampil Menggambar dengan Krayon dan Baby Oil

KABUPATEN BLITAR – Bumi Penataran terkenal dengan keanekaragaman seninya. Tidak hanya batik, kini seni lukis dan sketsa juga semakin berkembang. Salah satunya, sketsa wajah teknik krayon yang dilakukan oleh Joko Warsusilo, warga Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan.

 

Goresan pena dalam proses pembuatan sketsa harus dilakukan dengan cemat. Utamanya pada bagian wajah. Itu karena wajah memiliki pola struktur yang sangat detail.

Bagi Joko, menggambar bagian wajah adalah yang paling sulit. Terlebih untuk memunculkan ekspresi yang persis atau menyerupai objek yang digambar. “Mata dan ekspresi adalah patokan keberhasilan dalam menggambar,” ujarnya.

Dalam pewarnaan, Joko tidak hanya menggunakan pensil. Namun, dia menggunakan pewarna krayon. Menurutnya, pewarnaan dengan krayon adalah yang paling sesuai dengan karakternya dalam menghasilkan karya seni rupa. “Saya menemukan rasa yang berbeda saat menggunakan krayon,” bebernya.

Uniknya, dia menggunakan pewarna krayon yang dilapisi oleh baby oil. Menurutnya, cairan yang mengandung minyak mampu mencampurkan warna lebih sempurna. Selain itu, produk yang dilapisi minyak menghasilkan gambar yang semakin halus.

Sebelum memilih menggunakan baby oil, dia telah melakukan uji coba dengan beberapa cairan yang mengandung minyak. Dia sempat menggunakan baby oil, minyak telon, minyak urut, hingga minyak goreng. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan biaya penggunaan. “Karena paint oil mahal, jadi saya menggunakan segala cairan yang mengandung minyak dan sekarang konsisten menggunakan baby oil,” kata pria 34 tahun itu.

 

(Dok. JOKO WARSUSILO FOR RADAR BLITAR)

 

Setelah proses menggambar dan mewarnai selesai, langkah terakhir adalah proses finishing. Pada tahapan ini, gambar disemprot dengan pernis. Tujuannya untuk mengikat partikel pewarnanya agar warnanya kuat dan tahan air. “Kalau kertasnya kotor dan berjamur bisa tinggal diusap aja,” paparnya.

Upaya untuk menambah penghasilan dilakukan Joko melalui jiwa seninya. Dia melakukan aktivitas itu di tiap akhir pekan, yakni ngamen sketsa. Ngamen sketsa adalah kegiatan menggelar jasa gambar sketsa yang dilakukan tiap akhir pekan di ruang terbuka. Menurutnya, ngamen berbeda dengan seniman. Sebab, ngamen adalah menjual jasa dalam bentuk karya. “Kalau seniman itu mereka membuat karya kemudian menjualnya,” tegasnya.

Joko mengaku sering kesulitan menggambar karena layar ponselnya kalah dengan sinar matahari. Sementara saat ngamen pada malam hari, dia selalu membawa lampu sendiri. “Seniman itu harus bisa berpijak di mana pun dan pandai menyesuaikan dengan kondisi apa pun,” jelas pria bertopi ini.

Selain cahaya, dia mengaku cuaca juga membuat dia kesulitan. Pasalnya, lapak yang dia gelar berada di tempat terbuka. Maklum, media gambarnya tidak mungkin tahan terhadap air hujan. “Selain ngamen untuk mendapat uang, saya juga ingin memperkenalkan bahwa di Blitar ada sketsa wajah yang langsung jadi,” tandasnya. (mg1/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.