Semakin Dekat dengan Pembaca

Kapolres Blitar Kota AKBP Argowiyono, Dorong Anggota Jadi Polisi SIGAP

KOTA BLITAR – Kesibukannya sebagai pucuk pimpinan tertinggi di tubuh Polres Blitar Kota tak membuatnya lalai akan kewajiban utamanya. Yakni sebagai pelayan, pelindung, dan pengayom bagi keluarga dan masyarakat. Seperti itulah gambaran sosok Kapolres Blitar Kota, AKBP Argowiyono.

“Karena keluarga saya asli Jawa, orang tua memberi saya nama Argo. Yang artinya gunung,” tutur Argo lantas terkekeh, kala membuka perbincangan dengan pewarta koran ini di kantornya, kemarin (14/7).

Sebetulnya, kemarin adalah waktu yang sibuk baginya. Berbagai agenda dinas kepolisian berderet di daftar kerja hariannya. Itu sebabnya, dia begitu antusias saat mendapat secuil waktu senggang di sela kesibukannya sebagai kapolres. “Tapi saya senang. Karena dengan ini, saya justru bisa semakin dekat dengan masyarakat,” ujar pria kelahiran Nganjuk itu.

Polisi berpangkat dua melati di pundak ini mengaku, belakangan dia juga sibuk menyelesaikan disertasi dalam upaya memperoleh gelar doktor. Bahan disertasinya pun tak jauh-jauh dari tugasnya sebagai seorang polisi. Yakni, soal penerapan hybrid e-government alias pemberlakuan metode gabungan antara sistem konvensional dan elektronik dalam pemerintahan.

“Salah satu implementasinya di dalam tubuh Polri adalah dalam upaya penegakan hukum lalu lintas. Kita tahu ada berbagai kalangan yang menilai penindakan melalui metode konvensional itu lebih baik. Namun, di sisi lain juga banyak kalangan menilai tilang elektronik lebih efektif. Di sini kita cari jalan tengahnya,” ungkap perwira ramah ini.

Spesifik soal lalu lintas (lalin), pria kelahiran 6 September 1982 ini menerangkan, cerminan budaya dan peradaban masyarakat bisa ditilik dari kegiatan lalin. Dia menilai, lalin merupakan urat nadi yang menghubungkan masyarakat.

Oleh sebab itu, Argo kudu memastikan seluruh anggota di dalam jajarannya betul-betul memahami setiap tugas dan fungsi pokoknya. Sebab, setiap satuan di tubuh Polri punya peran penting dalam kehidupan sehari-hari, utamanya dalam melayani masyarakat. Agar hal ini terpatri di hati dan benak para anggota, polisi yang pernah bertugas di Divisi Propam Mabes Polri ini mengusung slogan Polisi SIGAP.

“S untuk solutif, karena polisi harus bisa memberi solusi bagi masyarakat. I untuk informatif, kita harus bisa mengemas dan menyajikan informasi secara aktual. G untuk gerak cepat, yang berarti kita tidak boleh lelet dalam melayani masyarakat. A untuk adaptif, polisi harus bisa fleksibel di segala kondisi. Dan P untuk presisi,” bebernya.

Argo menegaskan, slogan itu tidak boleh dijadikan sebagai pemanis saja. Namun, juga harus diimplementasikan oleh polisi saat melaksanakan tugas. Terlebih, polisi modern dituntut untuk lebih humanis dan jauh dari kesan menghakimi. “Slogan itu harus mengkristal di dalam diri setiap anggota. Bukan hanya untuk gagah-gagahan saja. Karena tugas kita adalah untuk terjun langsung di masyarakat,” tegas ayah tiga anak ini.

Meski dikenal sebagai sosok yang tegas dan berwibawa di hadapan anggota, rupanya Argo juga merupakan sosok family man saat dia melepas atributnya sebagai anggota Polri. Sebab, pria yang menuntaskan pendidikan Polri pada 2003 ini mengaku sering mengajak keluarga untuk berpetualang.

Kegiatan yang biasa dikemas dalam agenda joging atau bersepeda ini biasa dilakoni setiap akhir pekan bersama keluarga. Adapun spot yang disasar adalah tempat-tempat yang punya nuansa sejarah dan budaya kental. “Sebetulnya, jalan-jalan itu hanya salah satu cara saya untuk pergi ke tempat situs budaya-sejarah. Karena sejak dulu saya paling suka mempelajari yang namanya budaya dan sejarah,” akunya.

Saat bertugas, agenda kunjungan ke berbagai situs warisan budaya-sejarah di Blitar pun tak disia-siakan. Pasalnya, dia menilai jika hal ini merupakan salah satu cara untuk memperkaya khazanah pengetahuan akan budaya dan sejarah lokal. “Saat ada kunjungan, saya dengarkan betul penuturan ahli sejarah soal tempat itu. Lalu, saya juga cari banyak referensi di internet,” terang pria murah senyum ini.

Berbagai nilai yang dipelajari dari pengetahuan budaya-sejarah juga ditularkan kepada anggota. Salah satunya adalah nilai tentang membaur dengan masyarakat. Ini penting agar jajarannya berkepribadian tegak lurus dengan nilai-nilai positif di dalam tubuh Polri. “Saya juga tegaskan kepada jajaran, bahwa polisi tidak perlu mengejar prestasi agar dibilang hebat. Tapi harus jujur. Dengan kejujuran, polisi bisa dikatakan hebat. Sesederhana itu,” pungkasnya. (*/c1/ady)

Leave A Reply

Your email address will not be published.