Semakin Dekat dengan Pembaca

Kelompok Pemuda di Kelurahan Karangsari Pilih Budi Daya Maggot, Ini Alasannya

KOTA BLITAR – Budi daya maggot atau larva dari lalat jenis Black Soldier Fly (BSF) kian popular. Pasalnya, potensi cuan dari bisnis tersebut lumayan besar. Sekelompok pemuda Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, ini pun tertarik untuk ikut membudidayakan.

Kandang berukuran sekitar 1×1 meter itu menjadi sarang bagi indukan lalat BSF. Kandang itu juga sekaligus tempat bertelur. Lalat berwarna hitam itu terlihat beterbangan di dalam, lalu menempel pada sisi jaring.

Siang itu, Riki Widianto berada di samping kandang memantau perkembangan lalat BSF. Selain itu, dia juga mengecek telur-telur di dalamnya. “Ini sudah bisa dipindah telur-telurnya. Kalau tidak segera dipindah, takutnya keburu rusak dan menetas di dalam,” ujar Riki sembari menunjukkan biji-biji telur seukuran pasir, kemarin (7/12).

Sarang indukan itu diletakkan terpisah dengan biopon (tempat ternak maggot). Lokasi budi daya tersebut berada di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Sari Luhur, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo. Tempatnya sengaja dipisah untuk mempermudah budi daya sekaligus pemeliharaannya.

Dalam budi daya maggot, Riki tidak sendiri. Ada beberapa rekannya yang membantu. Rata-rata merupakan pemuda kelurahan setempat. Baru sekitar dua tahun terakhir menggeluti ternak larva lalat BSF tersebut. “Kami ingin mencoba hal baru. Kebetulan, kami sudah ada pembuatan pupuk organik untuk pertanian, terutama untuk tanaman belimbing Karangsari,” terangnya.

Pupuk organik yang diolah bersumber dari bahan sampah organik dan urine kelinci. Tak jauh dari sarang maggot juga terdapat kandang kelinci. Ada belasan ekor kelinci yang dipelihara.

Budi daya maggot berawal dari penawaran program salah satu dosen dari kampus swasta di Kota Blitar. Tak berpikir panjang, Riki dan kawan-kawan (dkk) menerima tawaran itu. Setelah mengetahui peluang bisnis dari budi daya maggot, mereka pun membeli telur lalat BSF untuk ditetaskan menjadi maggot.

Untuk percobaan, Riki dkk membeli beberapa gram telur lalat BSF tersebut. Per gram dihargai Rp 6 ribu. Melalui bimbingan dari dosen, mereka membuat tempat sekaligus media untuk budi daya. Jika budi daya berhasil, setiap gram mampu menghasilkan rata-rata 2 kilogram (kg) maggot. “Namun, semua tergantung dari perawatannya. Jika perawatannya kurang maksimal, hasilnya bisa kurang dari 2 kg,” ujar pemuda 27 tahun ini.

Berkat bimbingan secara berkala dari dosen, budi daya maggot yang dilakukan Riki dkk berjalan mulus. Beberapa kali panen, hasilnya tidak banyak karena memang masih berskala kecil. Dirasa sudah memiliki kemampuan budi daya, Riki dkk pun diminta dosen untuk melakukan pelatihan terhadap kelompok masyarakat di kelurahan lainnya.

Pelatihan budi daya maggot dilakukan secara bertahap dari satu kelurahan ke kelurahan lainnya. Hingga akhirnya, kelompok masyarakat yang sudah mampu menghasilkan maggot lantas dijadikan mitra usaha. “Jadi, hasil maggot yang mereka (mitra) ternakkan, kami beli. Maggot tersebut kami gunakan sebagai tambahan pakan ternak. Di sini, kami ada ternak bebek dan lele,” ungkapnya.

Hasil dari ternak bebek dan lele itulah yang dijual Riki dkk untuk kebutuhan konsumsi. Bagaimana dengan budi daya maggotnya, Riki fokus pada penjualan telur. Sementara untuk maggot dimanfaatkan untuk pakan ternak sebagai tambahan nutrisi protein. “Kami pilih jual telur karena keuntungannya lebih besar. Per gram dihargai Rp 6 ribu. Sementara untuk maggot dihargai Rp 6-8 ribu per kg-nya,” ujarnya.

Sejauh ini, panen yang dihasilkan dari para mitra se-Kota Bitar rata-rata mencapai 200 kg per bulannya. Tidak semua maggot dari mitra, dia beli. Sebab, ada sebagian mitra yang menjualnya ke luar. “Kami tidak masalah dijual ke luar. Yang penting mitra tetap bisa untung,” ujarnya.

Riki dkk berupaya untuk mengembangkan bisnis budi daya maggot. Tak sekadar menjual telur ataupun maggot, tetapi juga berusaha menjual olahan maggot. “Saat ini sudah ada olahan maggot kering dan bubuk maggot. Biasanya untuk pakan ikan koi, petani lebih memilih maggot kering. Sedangkan bubuk maggot digunakan untuk pakan bibit ikan,” tandasnya. (*/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.