Semakin Dekat dengan Pembaca

Kembangkan Potensi Lokal Desa Papungan, UNTAG Surabaya Inisiasi Adanya Laboratorium Nutrisi

KABUPATEN BLITAR – Kegiatan Matching Fund 2022 yang digelar Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya memberikan dampak positif bagi masyarakat desa. Kegiatan yang berlangsung di Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, ini bergerak dibidang pertanian, peternakan, dan perikanan.

Suasana ramai tampak di area kantor Desa Papungan pada Jumat (13/1) lalu. Sebanyak 43 mahasiswa UNTAG Surabaya sibuk mempersiapkan acara bazar pada Sabtu (14/1). Mereka tengah sibuk berlatih untuk pertunjukan yang akan ditampilkan pada kegiatan bazar. Sementara beberapa mahasiswa lainnya mempersiapkan agenda bazar. Di antaranya, menyiapkan dekorasi panggung, membersihkan area sekitar, dan menyiapkan perlengkapan yang diperlukan pada acara bazar.

Penggiat nutrisi Blitar, Doni Widodo mengatakan, pembuatan laboratorium mini bertujuan untuk menjadikan petani dan peternak berdaulat dalam hal nutrisi. Nutrisi ini dapat dimanfaatkan untuk sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan perunggasan. “Jika pada tanaman, tujuan utamanya sebagai pengganti pupuk kimia,” ujarnya kepada Koran ini.

 

TELATEN: Mahasiswa UNTAG Surabaya memberi makan ikan dengan pelet yang telah dicampur nutrisi. (TITANIA NOOR SHOLEHA/RADAR BLITAR)

 

Nutrisi ini berasal dari beberapa olahan limbah atau kotoran. Di antaranya, ada hewani dan nabati yang dapat dijadikan NPK+ pada sektor pertanian. Luminasia dapat digunakan untuk ternak ikan, sapi, kambing, dan bebek. Selain itu, ada fermentasi dari kotoran kelelawar yang dinamakan Guano. “Masih ada PGPR dari akar-akaran, Jakaba dari fermentasi jamur, dan ZPT dari fermentasi lumut,” papar pria 47 tahun ini.

Tidak hanya itu, di belakang beberapa botol nutrisi terdapat tiga galon dengan cairan berwarna hijau. Cairan tersebut hasil budi daya Spirulina. Spirulina dapat digunakan untuk mencerahkan warna pada ikan, menutrisi tanaman, hingga berguna untuk kesehatan manusia.

Dia menyebutkan, ada empat kolam yang digunakan sebagai sampel. Yakni, dua kolam bioflok, sebuah kolam diotorisasi, dan sebuah kolam venturi. Masing-masing kolam tersebut berdiameter 2,5 meter. Kolam venturi ini airnya berputar. Terdapat semburan air sehingga muncul mikro bubble. Kolam dengan metode ini cocok untuk budi daya ikan bersisik, seperti nila, koi, mujair, dan tombro. Sementara kolam dengan metode diotorisasi ini lebih konsen pada pergerakan air. Air di kolam ini selalu difilter sehingga air selalu bersih. “Selama ini banyak peternak ikan yang hanya membuat kolam, kemudian memasukkan air dan ikan. Peternak ikan jarang mengecek pH air sehingga berisiko terhadap ikan,” jelasnya.

 

(Dok. TITANIA NOOR SHOLEHA/RADAR BLITAR)

 

Dua kolam dengan metode bioflok ini adalah rekayasa budi daya mengandalkan pasokan oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme. Menggunakan metode ini dapat menghemat pakan ikan. Sebab, penguraian amoniak yang menempel di dinding dapat dimakan oleh ikan lagi. Tidak heran jika air pada kolam ini berwarna coklat keruh. Selain itu, penggunaan metode ini mempercepat waktu panen ikan. “Biasanya ikan panen dalam waktu 3-4 bulan, sementara dengan metode ini ikan dapat panen dalam jangka waktu 2,5 bulan. Artinya, kalau cepat panen, biaya beli pakan juga berkurang,” terang pria ramah ini.

Di lokasi yang sama, anggota tim pelaksana Matching Fund UNTAG Surabaya 2022 Desa Papungan, Eko April Arianto mengatakan, mahasiswa UNTAG Surabaya telah melakukan riset terhadap potensi lokal di Desa Papungan. Saat ini, mahasiswa melakukan implementasi nutrisi, utamanya pada perkembangan budi daya ikan. “Harapannya dapat menjadi pusat belajar perikanan masyarakat. Tidak hanya warga Papungan, tapi juga warga Kecamatan Kanigoro dan seluruh warga di Kabupaten Blitar,” paparnya.

Menurut dia, nutrisi ini berasal dari pupuk non-=kimia yang dibuat oleh penggiat pertanian organik. Namun, nutrisi ini tidak hanya digunakan pada sektor pertanian, tetapi juga perikanan. “Empat jenis kolam di sini airnya sudah dicampur dengan nutrisi. Tidak hanya airnya, pakan ikan pun sudah tercampur nutrisi,” ungkapnya.

Mahasiswa Teknik Industri UNTAG Surabaya, Vandi Firnanda menyebutkan, pengembangan nutrisi ini berawal dari permasalahan di sektor pertanian. Para petani banyak yang kekurangan jumlah persediaan pupuk subsidi. Akibatnya, mereka pindah ke pupuk nonsubsidi dengan harga yang jauh lebih mahal. “Nutrisi diciptakan sebagai pengganti pupuk kimia sehingga tanaman yang dihasilkan bisa lebih sehat,” kata mahasiswa semester tujuh ini.

Dia berharap, adanya laboratorium nutrisi ini, masyarakat dapat lebih mendalami ilmu tentang nutrisi serta menerapkan pada sektor pertanian, perikanan, dan peternakan. Dia menunjukkan, hasil penggunaan nutrisi pada tanaman dan ikan lebih enak. “Kami telah membuktikan pada tanaman padi, nasi yang dihasilkan lebih pulen. Sementara pada ikan nila rasanya lebih gurih dan dagingnya lebih padat,” tandasnya. (mg1/c1/ady)

Leave A Reply

Your email address will not be published.