Semakin Dekat dengan Pembaca

Keuletan Yulia Dewi Amanda untuk Hidup Mandiri Sejak Dini

TULUNGAGUNG – Sebagai anak muda, Yulia Dewi Amanda tidak pernah takut untuk mencoba berbagai hal. Sejak usia belia sampai kini menjadi seorang model, dia mencoba berbisnis kosmetik, sampai setahun terakhir menjadi seorang penyanyi dangdut dan campursari.

Yulia Dewi Amanda mengawali karir di dunia model sejak usia sekolah menengah pertama (SMP). Berbagai event di dunia modeling pernah dirasakan oleh gadis 19 tahun ini. Paling berkesan adalah menyabet gelar peserta terbaik pemilihan Puteri Remaja Jawa Timur (Jatim) tahun 2020.

“Kalau paling banyak tawaran adalah menjadi freelance model. Biasanya untuk mengisi portofolio make-up artist (MUA),” kata Yulia, sapaan akrab gadis tersebut.

Normalnya, sekali job freelance datang, cuan Rp 200 sampai Rp 250 ribu didapatkan meski secara pribadi tidak ada harga khusus yang dipatok. Efek samping tidak mematok harga, Yulia pernah diminta untuk menjadi model salah satu MUA di Tulungagung, setelah make-up dipasang selama dua hari tetapi malah tidak mendapatkan apa-apa. “Itu dua hari berturut-turut di make-up. Padahal jarak lokasinya jauh dari rumah saya,” katanya.

Di samping menjadi seorang model, Yulia juga sempat memiliki bisnis sendiri saat masih sekolah. Yakni, berjualan produk perawatan kulit atau lagi tren disebut skincare. Bisnis itu dijalankan hingga bisa digunakan untuk menambah pundi-pundi rupiahnya tatkala mengenyam pendidikan mulai dari SMP hingga SMA. Dari bisnis tersebut, setiap bulan profit yang didapatkan bisa mencapai Rp 500 ribu, meskipun dibarengkan dengan bersekolah.

Berbisnis merupakan keinginan pribadinya, tanpa ada dorongan dari yang lain. Dengan usia yang masih sangat muda, memulai bisnis menjadi kebanggan tersendiri karena hasilnya bisa digunakan untuk menambah uang jajan sampai membayar uang sekolah. Sisi baiknya, dengan penghasilan sendiri yang didapatkan, membuat kepercayaan diri untuk membeli berbagai barang yang diinginkan bertambah. “Peh tenan, seperti ingin membeli semua barang,” katanya.

Namun sayang, karena kewajiban lain yakni mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Kota Malang, usaha tersebut terpaksa harus dijeda. “Berjalan sekitar empat tahun berjualan di salah satu media sosial (medsos). Tapi karena harus kuliah di luar kota, jadi usaha tersebut dijeda dulu,” jelasnya.

Dia melanjutkan, tatkala berjualan skincare bukannya tanpa risiko, karena berkali-kali dia kena tipu customer-nya sendiri. Motif yang biasa terjadi adalah membatalkan barang yang sudah dipesan. Hal itu tentu merugikannya. Antisipasinya, barang yang sudah dia ambil dari tempatnya kulakan harus terjual kembali meskipun membutuhkan waktu lama.

“Cukup meradang sebenarnya, tapi mau gimana lagi. Ending-nya bisa dibilang setengah merugi,” katanya pasrah.

Kemudian, saat pandemi Covid-19 melanda Tulungagung, diakui aktivitasnya debagai modeling dan bisnisnya kian susut. Hingga kurun waktu setahun terakhir, Yulia juga sedang akrab-akrabnya dengan berbagai lagu dangdut. Puluhan lokasi manggung pernah dijajaki perempuan asal Desa Joho, Kecamatan Kalidawir tersebut.

Modalnya cukup sederhana, yakni karena sejak kecil Yulia terbilang suka dengan bernyanyi. Gayung bersambut, ternyata terdapat tawaran untuk menjadi seorang penyanyi yang biasanya di keperluan pesta pernikahan atau wedding. Kesempatan itu tidak disia-siakannya, Yulia lebih mendalami dunia olah vokal sampai rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk les menyanyi. (*/c1/din)

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.