Semakin Dekat dengan Pembaca

Kios Pasar Kanigoro di Blitar Mangkrak

KABUPATEN BLITAR – Pasar tradisional adalah jantung masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sayangnya, kondisi pasar tradisional di Kanigoro terlihat kurang terawat. Akibatnya, sarana perdagangan tersebut kurang diminati masyarakat.

Kepala Pasar Kanigoro, Deni Ardiansyah mengakui akitivitas jaul beli di pasar yang belum lama dibangun ini terhitung sepi. Pasar ini hanya ramai saat pukul 03.00 WIB hingga 06.00 WIB saja. “Itu pun ramai oleh penjual sayur keliling, setelah itu pasar sudah sepi kembali,” ujarnya kepada Koran ini kemarin (9/1).

Dia menjelaskan, mayoritas pengunjung pasar adalah pedagang keliling dan tengkulak. Parahnya, mereka hanya datang pagi, sehingga pasar sudah sepi saat siang hari. Diduga hal ini juga dipengaruhi oleh lokasi pasar. Artinya, sarana pedagangan tersebut berada di lokasi yang kurang strategis.

Menurutnya, lokasi pasar yang ideal itu dekat dengan pemukiman dan tempat fasilitas umum. Sebaliknya, Pasar Kanigoro ini terletak di dekat persawahan. “Hal ini sangat mempengaruhi daya beli masyarakat, mereka banyak yang memilih untuk beli ke pedagang keliling daripada ke pasar langsung,” paparnya.

Kondisi menyedihkan tampak di lantai dua pasar Kanigoro. Tidak hanya sepi aktivitas, beberapa kios juga terlihat mangkrak alias tak terpakai.

Deni mengaku, rencana awal pembangunan lantai dua digunakan untuk pujasera. Namun, setelah terealisasi beberapa bulan, pembeli di lantai dua ini sepi. “Lantai bawah untuk pasar sayur dan lantai atas untuk makanan, seperti mall,” akunya.

Dia berharap, pujasera bisa dibuka kembali. Namun, terlanjur tertutup jadi belum direncanakan buka kembali. Pihaknya juga mengaku memberikan peringatan kepada para pedagang. Sebab, dinas juga melakukan evaluasi pemanfaatan los maupun kios di pasar. “Saat ini pedagang telah diberi peringatan pertama, akan ada peringatan kedua, dan peringatan ketiga. Setelah itu, keputusan ada di dinas terkait,” terangnya.

Dia menegaskan, hanya sekitar 50 persen pedagang yang menggunakan lapaknya untuk jualan. Berdasarkan data, jumlah penjual yang tercatat di pasar tersebut sebanyak 264 orang. Sementara, saat ini jumlah penjual hanya sekitar 120 orang saja. “Kemungkinan para pedagang ada yang berjualan di tempat lain, karena di sini sepi,” beber pria 42 tahun ini.

Sementara itu, salah satu pedagang sayur, Kasiani mengatakan, bentuk pasar tradisional ini seperti gedung olahraga. Sebab, hanya ada empat pintu untuk akses keluar masuk. “Harusnya pasar itu terbuka, apalagi pasar tradisional,” jelasnya.

Dia mengaku, meskipun dikatakan sebagai pasar induk, tapi penjualnya hanya sedikit. Kasian sudah berdagang sejak 15 tahun lalu. Kata dia, di lokasi pasar yang baru ini penjualannya sepi. Sebelum pasar ini pindah, dia merasa dagangannya selalu ramai. “Mungkin karena sekarang banyak yang jualan online atau beli masakan jadi,” kata perempuan dua anak ini.

Menurutnya, lokasi pasar ini tidak strategis. Selain karena letaknya di area persawahan, juga di depan jalur cepat. “Ibaratnya kalau di pinggir jalan, pasti ada yang melirik. Tapi kalau di sini jika tidak ada kepentingan, pasti tidak akan mampir,” tandasnya. (mg1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.