Semakin Dekat dengan Pembaca

Kios Sempit, Pasar Kesamben Permanen Masih Diusulkan

KABUPATEN BLITAR – Terbatasanya sarana perdagangan di tempat relokasi mulai dikeluhkan pedagang Pasar Kesamben. Diduga, hal itu karena lokasi kios yang sempit menjadi pemicu penurunan omzet penjualan.

“Mungkin masyarakat lihat dagangan sedikit, akhirnya tidak jadi beli. Mau tidak mau ya ditempati dulu untuk sementara waktu,” ujar seorang pedagang Pasar Kesamben, Mona Tanwir, kemarin (17/1).

Sebenarnya, Mona bersyukur bisa kembali melapak menjelang momen Ramadan. Namun, dia juga berharap pemerintah segera memiliki solusi untuk memperbaiki kondisi pasar. Sebab, tak sedikit pedagang yang menggantungkan hidupnya dari pendapatan di pasar. “Kondisi sempit begini memang bukan satu atau dua orang yang mengalami. Semoga kalau mungkin bisa agak luas, bahkan bisa dibangun lagi pasarnya,” sambungnya.

Menanggapi keresahan ini, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar Eka Purwanta mengaku, ratusan kios berbahan galvalum itu memang sudah sesuai porsi. Masing-masing pedagang menempati lapak dengan ukuran yang sama. Yakni, 1,5×2 meter.

Sempitnya ukuran lapak relokasi itu, kata dia, lantaran proyek tersebut bukan kios permanen. Pun, material yang digunakan juga bersifat mudah dibongkar. Menurutnya, itu akan memudahkan proses boyongan pedagang apabila pembangunan Pasar Kesamben tuntas.

“Mereka kan disediakan kios, memang ya porsinya segitu. Kenapa kok sempit, karena kalau lebar ya untuk selamanya. Itu kan lokasi sementara,” jelasnya.

Eka menambahkan, sebanyak 330 kios yang disediakan sudah difungsikan. Lokasi yang terdampak relokasi yakni sepanjang jalan sisi timur pasar, hingga sebagian pasar hewan. Persisnya selatan Pasar Kesamben.

Disinggung terkait rencana pembangunan pasar pascainsiden kebakaran, Eka mengatakan, pelaksanaan rekontruksi atau pembangunan Pasar Kesamben menunggu ketersediaan anggaran. Sebab, anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan pasar tersebut diperkirakan cukup besar.

Dia mengaku masih mengajukan permohonan bantuan anggaran ke provinsi maupun pusat. Sebab, nyaris tidak mungkin untuk memanfaatkan anggaran daerah untuk membangunan pasar dalam waktu yang singkat.

“Kalau tempatnya bisa di situ. Tapi kalau di lokasi lain, yang jelas masih perlu pertimbangan banyak pihak. Untuk sekarang yang penting memang pascarelokasi dulu,” tandasnya.

Untuk diingat kembali, Pasar Kesamben terbakar pada November 2021 lalu. Kebakaran itu diduga akibat korsleting listrik di beberapa titik pasar. Dampaknya, ratusan kios dilumat si jago merah. Tak ada korban dalam insiden itu. Namun, kerugian ditaksir mencapai Rp 25 miliar. (luk/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.