Semakin Dekat dengan Pembaca

Kisah Jaka Widya Utama, Fashion Desainer asal Pakel yang Moncer Ikut Beberapa Event Terkenal

TULUNGAGUNG – Menjadi fashion desainer harus untuk mengeksplore keahliannya, dari menggambar hingga menjahit dan menjelajahi berbagai pertunjukan. Termasuk dilakukan Jaka Widya Utama, sejak tiga tahun terakhir berkaya di Surabaya dan Jember.

Berpakaian rapi dengan setelan kemeja berwarna merah menandakan laki-laki yang tingginya sekitar 160 sentimeter (cm) itu siap untuk berangkat kerja. Ternyata dia hendak berangkat mengajar di suatu lembaga bimbingan belajar di Kelurahan Tamanan, Kecamatan Tulungagung.

Meskipun pekerjaan utamanya sebagai pengajar bahasa Inggris, warga Desa Pecuk, Kecamatan Pakel, ini bernama Jaka Widya Utama ini lebih terkenal dengan karya-karya fashion-nya. Bahkan dalam dua tahun terakhir, karyanya sering ditampilkan untuk show di Surabaya. Namun ternyata dia bukan lulusan tata busan, melainkan pendidikan bahasa Inggris.

“Saya mulai berani menampilkan keahlian fashion desain ketika setelah kuliah. Pertama kali ikut show saat Miss Batik pada 2016 mencoba dengan lomba desain. Lalu, saya jadi tahu dunia fashion desain di Tulungagung,” ujar Jaka sapaan akrabnya.

Setelah itu bukan langsung mengasah skill desain fashion, namun sebaliknya Jaka justru vakum dua tahun dengan rutinitas kerja sebagai pengajar. Hingga semangat desainnya kembali mengembara pada tahun 2018 saat ada lomba fashion ilustrasi di Surabaya untuk cari pengalaman. Hingga bertemu teman-teman yang memiliki keahlian yang sama.

Jaka mengaku baru menyeriusi bidang fashion desain pada tahun 2020 dengan mencari pengalaman lewat ikut show yang ada di luar Tulungagung. Pertama kali dia diajak temannya menampilkan karyanya di publik Surabaya, untuk mempromosikan dirinya. Selain teman, terkadang agensi model juga memangajak para desainer untuk ikut pertunjukan.

“Saya tidak pernah ikut pertunjukan fashion di Tulungagung, hanya pernah ikut pada tahun 2016, karena di kota sendiri jarang ada show. Lebih sering ke Surabaya, lantaran aksesnya lebih mudah dan lebih banyak mengadakan peruntunjukan-pertunjukan tiap tahunnya,” tuturnya.

Dia lebih nyaman menampilkan karyanya di Surabaya karena banyak agensi model telah dikenalnya. Berbeda dengan Tulungagung, jarang ditemui agensi model dan pertunjukan fashion hanya ada sekali dalam setahun.

Selain Surabaya, Jaka pernah melakoni pertunjukan fashion di Jember telah dua kali, pada tahun 2020 dan pertengahan 2022. Sedangkan di Surabaya, sejak tahun 2020 Jaka setiap tahun tiga kali pertunjukkan. Bahkan bisa lebih bila telah dipanggil agensi model atau acara pemilihan duta fashion.

Ternyata Jaka mengungkapkan tiap pertunjukkan tidak ada yang gratis, harus mengeluarkan uang registrasi beberapa ratus ribu. Apalagi setiap pertunjukkan menampilkan enam hingga tujuh baju dari karyanya.

“Dulu saat awal diajak teman, dicarikan pertunjukan fashion yang tarifnya miring dengan beberapa baju. Dari itu, kenal dengan beberapa orang profesional di bidang fashion di Surabaya dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya,” jelas Jaka.

Dia menceritakan bila memang sejak kecil memiliki hobi menggambar, namun merasa ada potensi ke dunia fashion desain ketika duduk di bangku SMA. Namun saat itu belum berani untuk mengeksplore keahlian yang dimilikinya dan belum percaya diri. Hingga setelah kuliah itu memberanikan diri untuk mencari ilmu desain fashion.

Laki-laki berkaca mata ini juga pernah ikut pelatihan menjahit, meskipun dia mengaku orang yang tidak memilik karakter telaten. Lantaran, keahlian menggambar dengan menjahit tentu berbeda namun baginya seorang fashion desainer harus memahami ilmu menjahit. Agar mengerti, pola mana saja cocok saat digambar hingga terwujudi menjadi baju.

Sedangkan selama tiga tahun terakhir ini, Jaka mengalami kesulitan dalalm pemasaran, apalagi sempat terhambat karena pandemi korona. Apalagi banyak orang tidak melihat hasil karnya, namun dari harga baju tersebut.

“Saya banyak menemui customer yang tawar menawar, namun dengan harga yang tidak masuk akal. Saya di awal karir, juga pernah menemui pelanggan sedikit nakal, apalagi mereka berasal dari luar kota. Seperti pembayaran yang nunggak dan sewa baju tapi tidak dikembalikan,” kata Jaka ketika ditemui di sebuah kafe di Tulungagung.

Baju karyanya memiliki ciri khas tersendiri, sehingga membedakan dari orang lain dengan tiga tema yang dibatasinya. Tema pertama yakni Batur, dengan kain batik dengan dicampurkan dengan kain polosan. Keduan adalah kain tenun yang dicampurkan dengan kain polosan. Ketiga, kain klasik yang memiliki warna khas cokelat.

Dia menceritakan, pernah menemukan dari berbagai permasalahan, dari telat pembayaran, tidak penuh membayar, ada juga pinjam atau sewa tidak dikembalikan. Maka pihaknya terlebih dahulu membuat perjanjian dengan pelanggan saat transaksi awal.

Namun bila menemui pelanggan yang menyewa hingga tidak dikembalikan, Jaka akan menandaianya untuk tidak dilayani lagi. Padahal dia telah berusaha untuk menagih berkali-kali, namun beberapa hasilnya nihil. Apalagi yang membuatnya kesulitan, karena banyak pelanggannya berasal dari luar kota. Namun biasanya mereka baru mengembalikan, ketika ceritanya ditampilkan di sosial media (sosmed).

“Dari pengalaman itu saya memiliki tanda-tanda dari gerak-gerik percakapan dari pelanggan tersebut. Dari percakapan yang aneh dan berlebihan. Bila menemui pelanggan menandakan nakal, saya akan kasih baju yang lama, sehingga tidak terlalu merugi,” tandasnya.

Dia menambahkan, bila memiliki cita-cita untuk membangun toko atau butik dan ruang workshop atau produksi di rumahnya. Maka tidak terlalu bergantung pada orang lain dan produksi dari 0 hingga jadi berada di rumahnya.

Selain itu, dia ingin melakoni pertunjukkan di Jogjakarta dan tujuan terbesar bisa ke Jakarta. Dia pernah ditawari untuk show di Jogjakarta, namum terhalang waktu yang tidak cocok dengan kesibukannya. Namun masih menantikan kesempatan untuk menampilkan karya-karya di ibu kota. (*/din)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.