Semakin Dekat dengan Pembaca

Korban Tragedi Kerusuhan Suporter di Malang asal Blitar di Mata Rekan dan Keluarga

KABUPATEN BLITAR – Tragedi mencekam pascalaga Arema FC kontra Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10) lalu masih membekas. Seperti dialami pasangan suami istri (pasutri) warga Kelurahan Kedungbunder, Kecamatan Sutojayan, Hadi Mabtuhin dan Nurul Kharimah. Dampak kisruh itu, mereka kehilangan sang sulung dari dua bersaudara, Muhammad Mungizul Hidayatullah.

Gerimis belum sepenuhnya reda. Pukul 12.00, awan mendung pun masih menutupi sebagian langit di Bumi Penataran. Sebuah teras hunian sederhana dengan tenda duka, tampak basah pascadiguyur hujan. Deretan kursi yang terisi sebagian orang makin merapat. Sesekali mereka berpelukan dan mengusap tangis. Bukan lagi berbinar, tampak sepasang suami-istri berkaca-kaca, tak kuasa membendung lara kepergian Mungizul Hidayatullah untuk selamanya.

Suasana sendu tersirat jelas di kediaman pasangan Hadi Mabtuhin dan Nurul Kharimah. Bahkan, mimik wajah pilu mereka tak bisa disembunyikan, pertanda kehilangan sosok berharga. Ya, Mungizul, 17, menghadap Sang Khalik usai menjadi korban aksi ricuh pertandingan sepak bola derbi Jatim, Arema FC menjamu Persebaya pada Sabtu lalu. Namun, kabar duka yang menyebar tak mudah dipercayai oleh ibunda korban.

“Tahu kabar setengah tiga (02.30, red) pagi. Sebelumnya ditelepon sama kakaknya (Muhammad Miftakhul), tapi ndak bisa. Hanya memanggil, firasat saya sudah ada apa ini, apa kecelakaan?” ungkap perempuan yang akrap disapa Nurul itu.

Tabir pilu ini bermula ketika Nurul berada di Jakarta, mengurus berkas pemberangkatan kerja ke Arab Saudi. Dia mendapat teleponon bahwa Mungizul hendak menonton pertandingan bola. Di ujung sambungan telepon, dia tegas melarang agar putranya tetap tinggal di rumah, menemani bapak. Namun, Mungizul tetap ngotot ingin ‘nribun’.

“Saat itu telepon, bilang ‘Emak kapan pulang? Minta sangu buat nonton bola’ begitu, tapi saya melarang. Sabtu pagi saya pulang, akhirnya siang dia berangkat,” katanya menceritakan komunikasi dengan korban.

Nurul lantas dibuat kaget kala teleponnya berdering, tepat pukul 03.00. Dalam informasi itu disebutkan bahwa Mungizul dalam kondisi mengkhawatirkan. Dia pun berupaya menghubungi kedua anaknya namun tak ada jawaban berarti. Firasatnya mulai tak karuan. Bahkan, sempat terbesit bahwa putranya mengalami kecelakaan di jalan.

Minggu (2/10) pagi, suara mobil jenazah memekakan telinga. Petugas medis turun dari mobil, memperlihatkan keadaan Mungizul yang sudah terkulai lemas tak berdaya. Sementara nyawa sang kakak masih terselamatkan, meski luka lebam memenuhi betis. Sontak, isak tangis keluarga dan kerabat tak dapat terbendung.

“Awalnya sangat saya tahan, tapi dia marah. Minta uang Rp 100 ribu buat sangu, tapi malah akhirnya seperti ini,” ungkapnya.

Mungizul merupakan anak terakhir dari dua bersaudara. Sejak kecil, ketertarikannya dengan sepak bola sangatlah besar. Utamanya, saat dia terpilih mengikuti seleksi di Surabaya. Namun, hal ini kurang mendapat dukungan dari orangtuanya. Lulus dari bangku madrasah ibtidaiyah (MI), dia dimasukkan ke pondok pesantren. Nurul menyebut, putranya itu tak betah, kemudian pindah ke sekolah setara SMP.

Keseharian remaja berambut ikal itu tak jauh beda dibandingkan remaja pada umumnya. Meski wataknya keras, namun terdapat sikap arif. Mungizul begitu perhatian kepada kedua orangtua dan saudaranya. Sebagian gaji hasil kerja keras sebagai kuli keramik di Surabaya, dia sisihkan demi keperluan keluarga. Sebagian lagi, dia tabung untuk membeli sepeda motor. “Anaknya cerdas, tapi namanya juga remaja, kadang juga keras. orang tua juga pengertian, tapi kalau marah ya diam,” imbuhnya.

Di mata keluarga, Mungizul teramat dekat dengan ibunda. Dia bahkan tak ragu untuk bergurau, melontarkan beberapa lelucon kecil. Nurul menyebut, ada satu kebiasaan yang masih teringat. Yakni, gemar memainkan telinganya kala terlelap. Praktis, hal manis ini mustahil terulang. Remaja penggemar bola itu tak lagi ada di tengah hangatnya kebersamaan keluarga. Nurul hanya bisa pasrah dan memanjatkan doa, berharap amal ibadah sang putra dapat diterima. “Semoga tenang, nak. Segala dosa diampuni, dan diterima di sisi-Nya,” doanya. (*/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.