Semakin Dekat dengan Pembaca

Kreativitas Ruki Mardianto, Perajin Marakas Asal Kelurahan Tanggung Sulap Kayu Bekas Kendang Jadi Marakas Berkualitas

KOTA BLITAR – Suara nyaring dinamo terdengar dari salah satu rumah di Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjenkidul, siang kemarin (6/10). Tak jauh dari sumber suara, tampak pecahan kayu tertata rapi di samping rumah tersebut. Sekilas memang terlihat seperti limbah. Namun, di tangan orang yang tepat, barang tersebut bisa menjadi kerajinan unik bernilai ekonomi. Salah satunya dibuat marakas. “Saya mulai membuat marakas ini 2013 lalu,” ujar Ruki Mardianto, salah seorang perajin marakas.

Marakas ini biasanya digunakan untuk alat musik. Tak jarang benda mirip pentungan mini itu digunakan untuk mainan anak-anak. Sebelum menjadi perajin marakas, Ruki adalah buruh kendang. Dari pengalaman menjadi pekerja kriya inilah, dia menemukan ide untuk membuat alat musik asal Jepang tersebut. “Jadi, setiap pulang kerja, saya mencoba berkrasi dengan kayu limbah kendang itu,” ungkapnya.

Ruki belum merekrut tenaga kerja untuk produksi marakas. Selama ini, dia hanya dibantu oleh istri dan anaknya. Kendati begitu, ada ratusan marakas yang berhasil diproduksi setiap bulannya.

“Saya yang membuat barangnya, sedangkan istri saya bagian painting. Biasanya anak saya membantu memasukkan monte,” jelasnya.

Selain marakas, bapak dua anak itu pernah membuat beberapa produk dari limbah kendang. Misalnya, kemasan phyllia cream, ketapel, dan patica asalato. Bahkan, pernah ada pesanan 1000 kemasan phyllia cream per hari. “Saya tak mampu karena semua saya kerjakan manual dan membuat benda ini butuh waktu lama,” terang pria berusia 33 tahun itu.

Proses pembuatan marakas ini tidak begitu sulit. Menggunakan mesin bubut sederhana, Ruki menghaluskan kayu limbah. Benda berbentuk oval itu tidak dibentuk secara langsung, tetapi digabungkan dari dua potongan yang berbeda. Sebab, harus ada rongga di bagian dalam sebagai tempat monte yang menjadi pemicu suara. “Biar suaranya nyaring, bagian dalam dilapisi dengan oli,” terang Ruki.

Proses penyatuan bagian marakas ini membutuhkan waktu lama. Sebab, harus nunggu lem kering dan masing-masing bagian sudah merekat kuat.

Berikutnya adalah tahap finishing. Ruki mengunakan alat khusus untuk pengecatan. Tujuannya agar tampilan alat musik ini rapi dan menarik. “Saya menggunakan egg tray dalam proses pengeringan. Agar masing-masing marakas itu tidak bersentuhan saat cat masih basah,” terangnya.

Dia mengaku bahwa selama ini hanya memasarkan produknya melalui online shop. Itu untuk menjangkau pasar yang lebih luas. “Saya baru belajar mengenai marketplace. Namun, sudah ribuan produk yang saya jual di sana,” imbuhnya.

Meski tidak ada pesanan, tiap hari Ruki membuat produk marakas. Itu sebagai langkah antisipasi agar pembeli tidak lama menunggu produknya. “Jadi untuk persediaan, agar pembeli mendapatkan pelayanan cepat. Itu juga strategi untuk mendapatkan langganan tetap,” tandasnya. (*/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.