Semakin Dekat dengan Pembaca

Kyai Abu Mansur Turut Andil Dirikan Alun-Alun Tulungagung

TULUNGAGUNG – Sosok Kyai Abu Mansyur erat kaitannya dengan Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru, khususnya penyebaran agama Islam. Dia juga turut andil dalam berdirnya Alun-Alun Tulungagung di Jalan RA Kartini.

Menurut Penerus Masjid Jamik Tawangsari keturunan ke-6, Siti Fatimah, jika Kyai Abu Mansyur ketika kecil memiliki nama Raden Qosim. Dia adalah putra dari Prabu Amangkurat IV atau Amangkurat Jawi yakni Raden Mas Suryaputra putra dari Paku Buwana I. Dia lahir pada tahun 1.711 M dari ibu yang bernama Bandondari putri Adipati Kudus.

Sepeninggal Prabu Amangkurat IV tahta Kasunanan Kartasura diserahkan kepada putranya bernama Raden Mas Prabayasa (Sunan Paku Buwana II). Sedangkan Kyai Abu Mansyur lebih tertarik pada ilmu keagamaan. Sehingga dia meninggalkan keraton dan memperdalam ilmu agama di sebuah pesantren di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo yang diasuh Kyai Kasan Besari.

Dalam menuntut ilmunya di pesantren itu, Kyai Abu Mansyur menyamar sebagai orang biasa supaya diperlakukan selayaknya murid pada umumnya.

Menurut jika, bila Kyai Kasan Besari menilai  Kyai Abu Mansyur berbeda dari murid lainnya yang memiliki karakter cerdas dan cepat menguasai ilmu yang diajarkan. Sehingga menaruh simpati dan mencurigainya sebagai keturunan bangsawan.

Pada tahun 1.740-an saat Pakubuwono II sempat terlibat konflik dengan para penjajah Belanda yakni VOC karena membantu orang Cina. Hingga tahtanya sebagai orang nomor satu di Keraton Surakarta diambil alih oleh Raden Mas Garen yakni cucu Amangkurat V.

“Sehingga Pakubuwono II terpaksa menyingkir dan mencari perlindungan kepada Kyai Ageng Mohammad Kasan Besyari di Ponorogo. Dengan mendapat bantuan dari sang kyai beserta murid-muridnya, termasuk Kyai Abu Mansur, Pakubuwono II dapat menduduki tahta kembali pada tahun 1.743 M,” ujar Siti Fatimah.

Atas jasanya mengembalikan kedudukan Pakubuwono II menjadi raja di Surakarta inilah maka Kyai Kasan Besyari mendapat tanah perdikan di Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Sedangkan Kyai Abu Mansyur mendapat hadiah tanah perdikan di Tawangsari, Tulungagung, pada tahun  1.747 M.

Bahkan saat Kyai Abu Mansyur saat muda merasa memiliki bekal ilmu cukup untuk mengembangkan agama Islam, dengan jiwa kemandiriannya dia berdakwah di daerah tersebut atas saran Kyai Kasan Besyari. Dalam memperlancar jalannya berdakwah  Kyai Abu Mansyur mendirikan masjid dan pondok pesantren (ponpes) kecil yang menghadap ke masjid. Selain diajari ilmu agama, murid-muridnya diajari ilmu kanuragan atau pencak silat yang berguna untuk melawan kaum penjajah.

Melihat potensi dari Kyai Abu Mansyur, Kyai Kasan Besari menjodohkannya dengan putri dari muridnya yang sudah tersohor dari Sewulan, Madiun, yakni Kyai Bagus Harun Basyariyah. Kyai Bagus Harun bersedia mengangkat Kyai Abu Mansyur sebagai menantunya, menikahkannya putri dengan Raden Ajeng Fatimah yang bergelar Nyai Lidah Item.

Bersama istrinya, Kyai Abu Mansyur meneruskan perjuangan menyebarkan agama Islam di Tawangsari. Untuk memperkuat kedudukan dalam berdakwah dan berjuang melawan penjajah khususnya wilayah timur, dia mendapatkan layang kekancingan atau piagam Sunan Paku Buwono II pada tahun 1.746 M dan layang kekancingan dari Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1.750 M. Adanya layang kekancingan itu menandakan Kyai Abu Mansyur diberikan penguasaan penuh atas Tawangsari.

Dia menambahkan, di dalam buku “Babat dan Sejarah Tulungagung” disebutkan bahwa ketika Kadipaten Ngrowo hendak membangun alun-alun, Kyai Abu Mansur ikut andil dalam pembangunan tersebut. Pada waktu itu tempat yang rencananya akan dibangun alun- alun masih berupa rawa-rawa yang luas. Dalam rawa- rawa tersebut ada sumber air yang terus mengeluarkan air dan sulit dibendung.

“Ternyata, atas jasa Kyai Abu Mansur, sumber air tersebut dapat dihentikan hingga seperti alun-alun yang sekarang ini,” pungkasnya.(jar/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.