Semakin Dekat dengan Pembaca

Lebih Dekat dengan Endang Yuliani, Pembaca Tarot Asal Blitar

Sering Diminta Ramal Hal Aneh, Terpaksa Pasang Tarif

KOTA BLITAR – Berawal dari iseng, Endang Yuliani semakin gandrung dengan dunia kartu tarot. Begitu namanya makin dikenal sebagai pembaca tarot, tak sedikit orang datang untuk meminta diramal olehnya. Tak jarang pula yang meminta untuk melihat masa depan. Hal itu membuat Endang terpaksa mematok tarif jasa, kendati awalnya hanya penghobi tarot.
Wanita berambut ikal itu menata puluhan kartu di atas meja. Di setiap kartu, terdapat gambar-gambar yang berbeda. Konon katanya, setiap kartu bisa digunakan untuk meramal nasib seseorang. “Iya. Ini kartu tarot yang biasa saya pakai,” kata Endang kepada Jawa Pos Radar Blitar, kemarin (23/1).

Tak pernah terlintas dalam benak Endang bakal menjadi seorang pembaca tarot. Mulanya, dia menerima satu set kartu tarot dari rekannya sebagai hadiah. Itu cerita di awal 2010 lalu. Tak tertarik, ibu dua anak ini lebih memilih untuk menyimpan kartu tarot yang baru didapat. “Baru pada 2015, saya tidak sengaja menemukan posting-an soal tarot di media sosial. Dari situ, saya mulai tertarik untuk belajar,” kenangnya.

Semua hal tetang tarot dia pelajari secara otodidak. Namun, ada juga beberapa hal yang dia pelajari dengan cara sharing bersama beberapa penghobi tarot lain. Itu setelah dia tergabung dalam grup medsos penghobi tarot dari berbagai wilayah di Indonesia. “Dari sana punya banyak kenalan dan belajar. Lalu, orang di sekitar saya mulai tahu jika saya bisa membaca tarot,” jelasnya.

Tak pelak, satu per satu orang datang kepadanya. Tujuannya jelas meminta tolong kepada Endang untuk melihat masa depan. Mulai dari keluarga, kerabat dekat, rekan kerja, hingga orang yang baru kenal pernah meminta tolong. Tak terhitung berapa jumlah orang yang sudah dia ramal sejak 2015 lalu.

Tak jarang pengalaman unik dia alami. Mulai meramal pejabat hingga meramal hal yang terbilang paling remeh-temeh. Wajar, namanya kian melambung di kalangan pembaca kartu tarot, baik di dunia maya maupun dunia nyata. Bahkan, Endang juga sering menerima permintaan yang bisa dibilang tidak lumrah.

“Misal, ada yang tengah malam menghubungi saya untuk diramal. Ada juga yang meminta saya untuk mencari barang yang hilang melalui ramalan tarot. Semakin lama, permintaan orang makin aneh-aneh. Dan itu sering lho,” ujar wanita kelahiran Juli 1976 ini.

Buntutnya, Endang memutuskan untuk mematok tarif bagi “pasien” yang datang kepadanya. Meski tak merinci nominal, wanita yang tinggal di Kelurahan Bence, Kecamatan Garum, ini mengaku bahwa itu dilakukan sebagai upaya agar orang tidak sembarangan dalam memanfaatkan jasanya. “Benar. Sekarang saya ndak sembarangan. Apalagi, saya juga punya pekerjaan lain dan masih ingin fokus di sana,” ucapnya.

Ada alasan lain kenapa Endang begitu jengah dengan orang yang sembarangan untuk meminta diramal melalui tarot. Dia menilai kartu tarot bukan sarana untuk meramal atau menentukan masa depan, melainkan sebagai cara agar manusia lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan. “Sekarang orang justru bergantung pada tarot. Padahal ndak boleh seperti itu. Saya juga tidak pernah mengaitkan tarot dengan urusan supranatural,” tuturnya.

Karena itu, wanita 48 tahun ini merasa perlu untuk mengedukasi masyarakat agar memaknai tarot secara berbeda. Tentu hal ini butuh wadah sosialisasi yang tepat. Salah satunya adalah dengan adanya komunitas. Terlebih, dia melihat belum ada komunitas pembaca atau pegiat kartu tarot di Blitar. “Karena itu perlu. Tapi, saya tidak bisa membuat komunitas sendiri. Harus ada kerja sama antarsesama pembaca tarot agar hal ini bisa dilakukan,” tandasnya. (*/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.