Semakin Dekat dengan Pembaca

Lebih Dekat dengan Katimin Pemangku Pura Prababuwana di Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar

KOTA BLITAR – Tertarik dengan adat Jawa membuat Katimin mengambil langkah untuk mengikuti pendidikan pemangkuan (istilah agama Hindu, Red). Warga Desa Kendalrejo, Kecamatan Talun ini sudah bercita-cita untuk melestarikan adat Jawa sejak kecil. Baginya, menjadi pemangku pura sekaligus bisa memperdalam ilmu agama dan adat Jawa.

Beberapa warga di rumah yang memiliki halaman luas itu tampak sibuk membuat seperangkat banten. Banten adalah simbol sakral masyarakat Hindu berbentuk sesajen untuk berkomunikasi dengan leluhur hingga Tuhan. Rumah tersebut adalah milik Katimin, pemangku Pura Prababuwana, Desa Kendalrejo, Kecamatan Talun.

Saat ditemui di kediamannya, Katimin sedang sibuk membuat seperangkat banten bersama kerabat dan keluarganya. Rencananya, banten tersebut akan digunakan untuk upacara pernikahan. Dalam suasana hangat, Widayati-istri Katimin-menghampiri dan menyapa warta Koran ini.

Tak berselang lama, Katimin juga mengikuti. “Selamat siang, ada yang bisa dibantu,” ucapnya sembari menjulurkan tangan untuk bersalaman.

Usai mempersilahan duduk, Katimin lantas mengenang awal mula ketertarikannya mempelajari adat Jawa sekaligus pemangku Pura Prababuwana. Ternyata tidak ada peristiwa besar yang memicu Katimin menjadi tokoh agama. Alasan sangat sederhana, yakni karena keturunan. Orangtuanya dulu juga merupakan pemangku pura.

Pria asal Kulonprogo, Yogyakarta ini menganggap kota asalnya adalah sentra Jawa. Menurut dia, adat Jawa adalah warisan budaya mengandung banyak makna. Sementara saat ini warisan tersebut bisa dikatakan mulai luntur. “Kalau tidak ada yang mewarisi adat Jawa dan mewariskan ke anak nanti akan punah,” akunya.

Dia memiliki cita-cita melestarikan adat Jawa sejak kecil. Katimin merasa ritual adat Jawa itu bisa mencakup semua agama. Baginya, adat Jawa mampu merukunkan agama menjadi nasionalisme. “Meskipun tiap agama memiliki cara berbeda-beda dalam mengimplementasikan adat Jawa, tapi tujuannya tetap sama. Yakni kepada sang Kuasa dan para leluhur,” paparnya.

Pria tiga anak ini sudah mengikuti pendidikan dan pelatihan kepemangkuan sejak usia 25 tahun. Pendidikan dan pelatihan tersebut berlangsung selama dua tahun. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mempelajari ilmu Hindu lebih mendalam. Selain itu juga untuk meningkatkan wawasan mengenai pelaksanaan upacara agama Hindu.

“Kami mendapat pelatihan tentang kepemangkuan, seperti dasar kepemangkuan, pelaksanaan piodalan, upacara Butha Yadnya, Dewa Yadnya, tata cara pemandian mayat, dan lainnya,” jelasnya.

Setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan, dia berkesempatan untuk melakukan pawitenan pemangku. Yakni, proses sumpah untuk menjadi pemangku secara sah. “Namun, sebelum mengikuti pawitenan ada ujian lanjutan selama tiga bulan,” terangnya.

Pada 1995, Katimin lolos ujian saat mengikuti pawitenan pemangku. Dia mengaku, menjadi pemangku memiliki tanggung jawab yang besar. Namun dia juga meyakini, dalam kehidupan hanya menjalankan Darmaning urip. Artinya, dalam menjalani kehidupan hanya untuk memenuhi kewajiban.

“Tujuan saya menjadi pemangku pura tidak untuk mencari pekerjaan, tapi melaksanakan tugas suci dari agama atau adat Jawa. Karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya masih mau bekerja,” kata pria 55 tahun ini.

Menjadi pemangku pura selama 28 tahun bukan waktu yang sebentar. Hingga saat ini, dia tidak hanya melayani umat Hindu saja, tetapi juga melayani upacara adat Jawa untuk siapapun. Meskipun sudah menjadi pemangku, dia masih sering mengikuti pendidikan secara rutin. Baginya, pendidikan itu tidak ada usainya. Pendidikan itu juga bisa sebagai sarana untuk meningkatkan keimanan kepada Sang Kuasa. “Ibadah dan pendidikan itu tidak terbatas. Dalam Hindu ada istilah karmapala, artinya siapa yang menanam pasti akan memanen,” tandasnya. (*/hai)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.