Semakin Dekat dengan Pembaca

Lebih Dekat dengan Mohammad Galang Satria Dijagad, Pesilat Berbekat Asal Kota Blitar

Ketemu Lawan Dua Kali Lebih Tinggi, Eh Malah Menang

KOTA BLITAR – Usia boleh saja masih muda. Namun, jam terbang Mohammad Galang Satria Dijagad lumayan tinggi. Bahkan, beberapa waktu lalu dia mampu menyisihkan puluhan lawan di kelasnya dalam event sekelas regional Jatim.

“Saya masih baru kok, Pak. Belum lama ikut latihan pencak silat,” ucap Galang mengawali percakapan dengan Jawa Pos Radar Blitar, kemarin (15/1).

Usut punya usut, Galang mulai latihan pencak silat tiga tahun lalu. Tepatnya ketika pandemi Covid-19 yang mengakibatkan tidak begitu banyak aktivitas sekolah. Di sela-sela pendidikan daring kala itu, Galang mengisi waktu dengan olahraga fisik tersebut.

Tak lama setelah beberapa kali latihan, Galang memberanikan diri untuk ikut kompetisi. Event itu tidak hanya melibatkan bakat lokal Blitar. Ada beberapa perwakilan dari luar daerah yang juga meramaikan pertandingan ini.

Normalnya anak-anak, Galang yang waktu itu berusia 11 tahun juga keder saat bertemu dengan lawan tanding yang memiliki postur lebih besar. Bahkan, kepalanya pun tak luput jadi sasaran kaki panjang sang lawan. Beruntung hal itu tidak menimbulkan cedera parah. “Pusing sesaat, soalnya kan kena bagian kepala. Sebelumnya saya memang sedikit takut karena lawannya lebih tinggi,” ucapnya polos.

Cedera ini ternyata membawa berkah bagi Galang. Karena insiden tendangan yang mengarah bagian kepala ini berdampak pada diskualifikasi pemain. Sehingga Galang keluar sebagai pemenang pertandingan. Meski ending-nya Galang belum berhasil menjadi juara di kelas itu, ada pengalaman baru yang dia temukan.

Bukannya kapok, Galang kian bersemangat. Setidaknya tiga kali dalam seminggu dia rutin latihan. Hal itu juga ditunjang dengan beberapa kali mengikuti komptesi untuk menambah pengalaman bertarung.

Tidak hanya di lokalan Blitar, dia juga rela bertandang ke luar daerah untuk mengasah keterampilan seni bela diri tersebut. “Pernah main (ikut komptisi pencak silat, Red) di Kediri dan Jember, tapi belum dapat juara,” katanya.

Siswa kelas 1 sekolah menengah pertama (SMP) ini tampaknya cukup gigih. Beberapa kompetisi lain juga terus diikuti hingga akhirnya dia diganjar medali emas saat ajang kejuaraan setingkat regional Jatim. Yakni, kejuaraan pencak silat SMANEGA Cup se-Jatim Tahun 2022.

Galang tidak ingat berapa jumlah lawan yang berhasil dia tumbangkan dalam kejuaraan tersebut. Yang pasti bukan hal mudah untuk mendapatkan predikat yang diikuti oleh para atlet atau pesilat berbakat dari beberapa daerah. “Pemainnya dari Malang, Nganjuk, Surabaya, Kediri. Tapi yang paling banyak dari Kota/Kabupaten Malang,” tuturnya.

Remaja yang bercita-cita menjadi polisi ini mengaku ada beberapa hal yang menurutnya menjadi kendala saat mengikuti pertandingan antardaerah. Salah satunya jauh dari orang tua. Baginya kehadiran orang tua membawa tambahan energi saat pertandingan. “Tapi enaknya kalau main di luar daerah itu pasti ada tambahan teman teman baru dari luar daerah,” terangnya.

Selain pencak silat, Galang juga aktif di cabang olaharaga lain. Anak kedua dari empat bersaudara ini memilih catur sebagai salah satu olahraga lain. “Tapi kalau pas longgar saya juga sering nyanyi. Menurut saya, pencak catur dan nyanyi itu ada kaitanya. Mereka sama-sama memiliki seni,” tuturnya lantas tekekeh.(*/c1)

Leave A Reply

Your email address will not be published.