Semakin Dekat dengan Pembaca

Lebih Dekat dengan Nirmala Puspa, Ilustrator NFT Asal Blitar yang Hasilkan Jutaan Rupiah dari Gambar Abstrak

KOTA BLITAR – Kecintaannya pada dunia seni membuat Nirmala Puspa getol menelurkan berbagai karya. Bukan hanya karya fisik, lajang 28 tahun ini juga memproduksi karya digital yang laris manis di serbu pelanggan luar negeri.

Bukan barang baru Lala tertarik pada dunia seni. Dia belajar menggambar sejak duduk di bangku kelas I sekolah dasar (SD). Kegiatan ini terus dia tekuni hingga sekolah menengah kejuruan (SMK). Lulus dari bangku sekolah, nasib mujur menghampiri wanita berambut ikal ini. Beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dia dapatkan. Itu membuatnya makin tertantang untuk memperdalam ilmu seni di bangku kuliah. “Akhirnya saya memilih kuliah di ISI Surakarta. Awalnya, saya memilih jurusan seni rupa, tapi malah diterima di jurusan seni teater,” ujarnya lantas terkekeh.

Hal itu justru membuat Lala makin kaya literasi seni. Selain belajar seni teater dari materi kuliah, Lala juga terus memperdalam ilmu seni rupa. Di luar jam kuliah, wanita yang tinggal di Jalan Manggar, Kelurahan/Kecamatan Sukorejo, ini sering bertukar pikiran bersama komunitas seni rupa. “Dari sana, saya mulai tertarik untuk mengembangkan karya. Saya juga mulai mencari gaya atau aliran seni rupa saya sendiri,” sambungnya.

Tak jarang, Lala terlibat dalam kegiatan gelar karya. Mulai dari skala lokal, nasional, hingga internasional. Dari situ, dia makin punya banyak relasi.

Singkat cerita, sulung dari tiga bersaudara ini lulus dari bangku kuliah. Tepatnya pada 2017 lalu. Berbekal ilmu dan relasi yang dia dapat selama menimba ilmu di Kota Solo, Lala memutuskan untuk membuka jasa lukis, ilustrasi, dan gambar. Butuh waktu cukup lama sebelum karya miliknya dilirik pasar. “Karena aliran yang saya pilih adalah dekoratif abstrak dan dekoratif fantasi. Jadi, target pasar yang dibidik memang tidak seluas aliran yang lebih popular lainnya,” tutur Lala.

Selang beberapa waktu, wanita berkacamata ini mendengar informasi terkait penjualan karya melalui platform digital. Penasaran, Lala banyak meminta saran dari rekannya yang sudah malang melintang di dunia jual beli digital. “Saya belajar dari teman saya yang berada di Jakarta dan Surabaya. Mereka ngasih tahu bahwa karya yang kita buat bisa dijual sebagai NFT (nonfungible token, Red) di platform digital. Jadi, saya juga iseng-iseng gambar abstrak dan unggah karya,” kata wanita kelahiran 23 September ini.

Berbagai upaya coba dia lakoni. Tak sedikit karya yang dia unggah di situs jual beli NFT. Namun, belum ada kolektor yang tertarik untuk membeli karyanya. Selang beberapa bulan, dia menerima notifikasi adanya pelanggan yang bermaksud membeli karya miliknya. Usut punya usut, pelanggan yang dimaksud bukan berasal dari dalam negeri, melainkan berasal dari Norwegia. “Bahkan, sampai saat ini dia juga masih berlangganan. Secara umum, yang paling berlangganan itu dari Norwegia, Amerikat Serikat, dan Jakarta,” bebernya.

Dua tahun berjualan karya NFT, wanita ramah ini mengaku bisa menghasilkan jutaan rupiah dalam sebulan. Itu membuatnya makin getol untuk lebih sering membuat karya. “Yang paling penting itu rajin promosi. Sebab, NFT itu memang susah laku cepat. Biasanya memakan waktu sampai tiga bulan sebelun akhirnya dibeli kolektor,” ucap dia.

Rupanya, capaian ini tidak membuatnya puas. Masih ada banyak hal lain yang ingin dia capai, khususnya di bidang seni. Mulai dari membuat sanggar teater, sanggar seni rupa, membuat galeri, hingga menggelar pameran skala besar menjadi harapannya.

Hal ini bukan tanpa alasan. Dia ingin lebih dekat dengan anak-anak melalui seni. Sebab, pada dasarnya, seni tak ubahnya seperti anak-anak. “Sama-sama murni. Karena itu, gambar yang saya buat itu selalu kekanak-kanakan,” tandasnya. (*/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.