Semakin Dekat dengan Pembaca

M.Farit Prasetiyo, Modal Nekat dan Otodidak Sukses Bangun Bisnis Souvenir

TULUNGAGUNG – Usia bisa dibilang masih muda, tetapi sudah banyak prestasi yang diraih dan sekarang sukses menjalankan bisnisnya. Itulah Mohammad Farit Prasetiyo atau biasa dipanggil Farit, sosok pemuda milenial berbakat. Butuh jangka waktu pendek baginya dalam menjalankan bisnis hingga bisa mencapai titik kesuksesan. Bisnis yang dijalankannya berupa suvenir, mahar, undangan, dan lain-lain.

Dia memulai bisnisnya hanya bermodal nekat dan otodidak. Karena pada saat itu masih duduk di bangku SMK. “Sepulang dari sekolah, kemudian mengerjakan tugas, habis itu tidak ngapa-ngapain. Saya berpikir, daripada hanya diam begini, buka bisnis apa yang tidak menggunakan modal dan tidak akan ada habisnya,” ungkapnya.

Setelah berpikir begitu, lantas searching di Google dan tebersitlah ide menjalankan bisnis suvenir. Di samping itu, di lingkungan sekitarnya masih jarang orang yang menjalankan bisnis suvenir. Dia mengatakan, awalnya dapat suvenir pada saat menghadiri acara, kemudian satu per satu dikumpulkan. “Tambah banyak suvenir, bapak saya membuatkan etalase buat menyimpan suvenir,” ungkapnya.

Dari situlah, daripada barang tersebut tidak terpakai, lantas iseng-iseng upload di Facebook. Kemudian, banyak orang tanya untuk pesan hingga pesanan semakin banyak sampai sekarang.“Saya memulai buka usaha tidak mengeluarkan modal besar. Kemudian, uang dari keuntungan itu (penjualan suvenir, Red) dibelikan print, barang dan bahan usaha,”ungkapnya.

Dia mengaku, pengiriman suvenirnya sudah sampai ke Kediri, Trenggalek, dan Blitar. Terjauh sampai Nusa Tenggara Barat (NTT).
Selain berhasil dalam bisnisnya, dia mempunyai segudang prestasi lomba tari tingkat kabupaten dan mendapatkan juara 3 bersama dengan 8 anggota timnya. “Tari merupakan hobi. Dari hobi tersebut, kemudian bisa menghasilkan segudang prestasi dan cuan saat ada acara pengantin seperti buat cucuk lampah. Saya juga punya sanggar tari Aryo Siswo. Saya setiap Sabtu mengajar tari tingkat SD. Selain tari, biasanya juga merias atau make-up buat karnaval dan manten,” ujarnya.

Dia menyampaikan pesan kepada pemuda sekarang, bahwa selagi usia muda jangan hanya buat bersenang- senang, tetapi harus memikirkan kehidupan di masa akan datang. “Di dunia ini tidak ada yang mustahil. Semua bisa tercapai selagi kamu mau berusaha dan bekerja keras,” pungkasnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.