Semakin Dekat dengan Pembaca

Maraknya Kasus Pernikahan Dini di Tulungagung

KAUMAN, Radar Tulungagung – Setelah tiga tahun angka dispensasi nikah di Pengadilan Agama (PA) Tulungagung naik, tetapi tahun 2022 lalu menurun. Faktor tersebut tetap didominasi hamil duluan dan kurang pendidikan seks.

Humas Pengadilan Agama (PA) Tulungagung Mohammad Huda Najaya mengatakan, berdasarkan data miliknya angka permohonan dispensasi nikah memang naik sejak 2019 hingga 2021. Tahun 2022 yang menurun dimungkinkan karena sebagian orang tua telah menguatkan kontrol diri terhadap anaknya. Dispensasi nikah merupakan pemberian hak kepada seseorang untuk menikah karena pemohon masih belum mencapai batas usia minimal untuk menikah.

“Selama tahun 2022 terdapat 370 pasangan yang memohon dispensasi nikah. Tertinggi pada Juni dengan 49 pemohon. Meskipun jumlah itu menurun daripada 2021, tapi masih tergolong tinggi,” katanya.

Terbukti, penurunan tren kasus lantaran pada tahun 2021 pemohon dispensasi nikah sebanyak 550 pasangan. Kemudian, pada tahun 2020 terdapat sebanyak 528 pemohon. Lalu untuk 2019 hanya mencapai 236 saja.

Menurut dia, adanya perubahan peraturan diperkirakan juga menyebabkan meningkatnya dispensasi nikah. Karena pada 2019, batas minimal usia untuk menikah adalah 16 tahun, sedangkan saat ini menjadi 19 tahun.

Dia menjelaskan, berbagai macam alasan mendasari banyaknya pemohon dispensasi nikah di Tulungagung. Salah satunya yakni orang tua yang takut jika anaknya menjalin hubungan atau pergaulan bebas. Karena itu, mereka lebih memilih untuk menikahkan anaknya guna menghindari hal tersebut, meskipun harus merenggut masa muda anaknya.

Selain itu, PA Tulungagung juga mendapati adanya pemohon dispensasi nikah lantaran sudah terlajur hamil. Agar tidak menjadi aib di lingkungan keluarga dan masyarakat, akhirnya pasangan tersebut dinikahkan. Kasus seperti ini mendominasi lebih 50 persen dari kasus lainnya penyebab pernikahan dini.

Bahkan, pernikahan dini ini terjadi merata hampir di semua kecamatan di Tulungagung. Maraknya hal ini memang harus diperhatikan karena juga derdampak pada masa depan dan kondisi psikis anak. “Alasannya banyak. Bisa karena aturan, karena dorongan dari orang tua, dan karena hamil terlebih dahulu. Untuk mengatasi ini, kami sebenarnya telah rutin melakukan sosialiasasi dengan dinas terkait agar menekan angka pernikahan dini,” jelasnya. (jar/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.