Semakin Dekat dengan Pembaca

Menilik Lebih Dekat SDN Tegalasri 4 Wlingi , Pindahkan Siswa, Atap Rawan Ambruk

KABUPATEN BLITAR – Pemerintah harus lebih jeli dalam membagi anggaran. Utamanya di sektor pendidikan. Sebab, masih cukup banyak gedung sekolah yang butuh suntikan dana untuk renovasi. Salah satunya SDN Tegalasri 4 di wilayah Kecamatan Wlingi.

SDN Tegalasri 4 berada tidak jauh dari Kantor Kecamatan Wlingi. Cukup ke utara menyusuri jalan sebelah barat eks Kantor Kawedanan Wlingi selama 15 menit. Akses menuju ke sana tidak menjenuhkan. Sebab, hamparan sawah dan sejuknya suasana desa kuat terasa.

Tiba di sekolah tersebut, langsung terasa segarnya udara. Sebab, masih banyak pohon-pohon besar. Itu membuat terik matahari bisa diminimalisasi. Jumlah siswa di sekolah tersebut juga cukup banyak, lantaran jadi rujukan bagi putra-putri warga sekitar.

Ada dua bangunan di lembaga pendidikan yang dibangun di atas lahan seluas 1.645 meter persegi itu. Di sebelah selatan dengan tanah sedikit rendah, terdapat tiga ruang kelas. Yakni, kelas I, II, dan III. Sementara tiga ruang kelas lainnya, kelas IV, V, dan VI, berada di sisi sebelah utara. Tanahnya sedikit lebih tinggi.

Belakangan ini, sekolah yang dikelilingi pepohonan rindang itu mengundang perhatian masyarakat Bumi Penataran. Bagaimana tidak? Hujan deras disertai angin kencang yang menerjang Selasa (11/5) lalu berimbas pada dua atap bangunan. Yakni, teras atap kelas I dan runtuhnya atap dapur sekolah hingga bolong.

“Ini memang musibah. Tapi untungnya tidak ada korban. Karena kejadiannya malam hari,” ujar Kepala SDN Tegalasri 4, Dwi Sudaryanti.

Perempuan ramah itu mengaku, bangunan di sisi selatan tersebut memang sudah tidak ditempati sejak usai libur Lebaran. Alasannya murni lantaran atap ruang kelas yang terlihat memilukan. Takutnya, kata Dwi, bisa terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Sekitar 50 siswa dengan segudang potensi itu lantas digiring untuk menempati ruang lainnya. Di antaranya, musala, ruang agama Hindu, dan perpustakaan sekolah. Meski suasana jauh berbeda pada saat menghuni kelas, kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung kondusif.

“Kami takutnya terjadi apa-apa. Akhirnya, kami pindahkan ke ruang lain. Sementara untuk sisa reruntuhan sudah dibersihkan, gotong royong dengan warga setempat,” imbuhnya.

Jika dideskripsikan, setengah atap teras dari tiga ruang kelas itu ambruk. Genteng yang berjatuhan menyisakan debu. Sementara glugu atau kayu kelapa yang lapuk, menumpuk di depan kelas I. Kayu-kayu itu awalnya merupakan penopang genteng.

Memasuki ruang kelas I, sekilas masih aman. Namun, ada tiga hal yang mencuri perhatian. Pertama, sekolah dengan cermat memasang dua lonjor penyangga plafon. Jelas, ini dilakukan untuk meminimalisasi kerusakan bila terjadi sewaktu-waktu.

Kedua, pojok kiri belakang, plafonnya jebol. Penyebabnya tak kuat menahan beratnya tumpukan genteng yang sebelumnya jatuh lantaran kuatnya intensitas hujan. Saat siang hari, bias cahaya pun dengan mudah menembus kelas dari celah lubang plafon.

Yang ketiga, tak ada satu pun bangku di dalam kelas. Hanya lantai dan dua penyangga sari bambu itu yang terlihat. Sekolah memang memindahkan bangku-bangku tersebut ke sisi yang lebih aman. Praktis, tindakan itu sebagai upaya memperkecil kerusakan bilamana atap roboh.

“Sebenarnya kami mengajukan sejak 2019. Sudah direspons dengan baik oleh dindik, tapi belum dilakukan perbaikan. Sebab, masih antre,” jelasnya.

Pihak sekolah memang mengakui bahwa bangunan tersebut sudah tidak layak. Indikasinya, genteng yang tidak tersusun rapi dan terkesan bergelombang. Kondisi itu tampak jelas saat diamati dari sisi samping bangunan.

SDN Tegalasri 4 kali terakhir mendapat lirikan renovasi oleh pemerintah pada 2009 lalu. Padahal, seharusnya bisa kembali mendapat jatah renovasi 9-10 tahun berikutnya. Sayangnya, pandemi menjadi alasan kuat perbaikan itu mundur. Namun, dindik bakal segera membenahi sekolah tersebut. Yakni memanfaatkam anggaran APBD.

“Untuk sementara, kami juga akan meminjam tenda darurat BPBD. Itu sebagai alternatif belajar. Warga sekitar juga bersedia apabila rumahnya digunakan sebagai kelas belajar sementara,” tutur Dwi.

Dia berharap siswa segera mendapat tempat yang layak untuk belajar. Dengan demikian, proses KBM bisa berlangsung aman dan nyaman, layaknya sekolah lain. (*/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.