Semakin Dekat dengan Pembaca

Meninggal Tertimbun Tembok Ambruk, Warga Kauman Tak Hiraukan Keretakan Sebelumnya

TULUNGAGUNG – Kondisi mengenaskan menimpa Riyan Afifudin, warga Dusun Patikrejo, Desa Jatimulyo, Kecamatan Kauman. Dia meninggal dunia, lantaran tertimpa rumahnya yang roboh pada Kamis (5/1) pukul 01.00 WIB. Hal itu karena memang rumahnya sebelumnya mengalami keretakan.

Rumah Riyan di lantai dua telah hancur karena memang konstruksi bangunannya kurang bagus. Namun, dia dan keluarganya tidak menanggap serius, padahal sebelumnya telah timbul keretakan pada tembok.
“Saya mendengar Pak Modin yang keluar rumah ketika saya sahur pukul 02.30 WIB. Ternyata rumah Mbah Gito lantai 2 ambruk, dan membuat cucunya, Riyan, meninggal dunia. Namun sebelumnya, tiang teras rumah itu memang sudah goyah, sehingga membuat retak kamar tembok korban,” kata Sekretaris Desa Jatimulyo, Mujiati.

Dia melanjutkan, rumah itu sebelumnya mengalami keretakan dan konstruksinya tidak bagus. Namun karena tiap malam di lantai 2 itu hanya dihuni Riyan sedangkan neneknya berada di lantai 1. Selain itu, keluarga Riyan juga menganggap keretakan itu bukan hal serius dan tidap parah, sehingga tidak dibenahi.

Dia menceritakan, setiap pagi ketika membeli nasi pecel di rumah tersebut yang dilayani nenek korban, melihat bangunannya sudah tidak simetris. Untungnya, tidak semua bagian rumah ambruk, sehingga sebagian lantai 1 masih dapat ditempati.

Sementara Kepala Desa Jatimulyo, Sugiono mengatakan, hingga kini material reruntuhan rumah Riyan itu masih belum dibersihkan. Lantaran, dia dan keluarga korban masih mengkhawatirkan adanya reruntuhan susulan. “Setelah saya diskusi dengan keluarga korban, rencananya Minggu (8/1) akan dilakukan pembersihan material. Sambil menunggu ada reruntuhan lagi atau tidak. Namun nenek korban dipindahkan ke rumah saudara yang tidak jauh dari lokasi. Bahkan orang takziah juga terlihat waswas,” terang Sugiono.

Kasi Humas Polres Tulungagung Iptu Muhammad Anshori menjelaskan, sebelumnya pada Rabu (4/1) sekitar pukul 09.30 WIB korban mengetahui bahwa tembok kamarnya retak. Apalagi kamar tersebut berada di lantai dua. “Karena korban dolan (bermain) dari bekerja, tidak memperhatikan tembok kamarnya retak. Maka korban langsung tidur di kamar tepat di dinding yang retak. Sekitar Kamis pukul 01.30 WIB terdengar suara gemuruh,” ujar Anshori saat dihubungi melalui telepon.

Dia melanjutkan, ternyata dinding kamar lantai 2 yang tempati korban runtuh dan material menimpanya, padahal saat itu korban sedang tertidur pulas. Tak ayal korban tertimpa runtuhan tembok kamarnya yang timbul suara keras, sehingga membuar keluarga Riyan menghampiri ke lantai dua. Namun pihak keluarga korban baru menyadari bahwa saudaranya tertidur di kamar.

Lalu, mereka mencari keberadaan korban dan didapati bahwa Riyan dalam keadaan tertimbun bangunan tersebut. Atas kejadian tersebut kemudian pihak keluarga korban memberitahukan ke Pemerintah Desa (Pemdes) Jatimulyo dan diteruskan ke Polsek Kauman. Setelah itu, polsek menghubungi Unit Inafis Polres Tulungagung serta Petugas Medis RSUD dr Iskak Tulungagung untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Petugas yang datang kemudian melakukan evakuasi secara hati-hati dan akhirnya korban berhasil di pindahkan dari lokasi kejadian ke tempat yang aman. Ketika dilakukan pemeriksan dari petugas medis dari RSUD dr Iskak Tulungagung, hasilnya korban sudah dalam keadaan meninggal dunia. Tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, dan Riyan ditanyatakan meninggal atas musibah tersebut.
“Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) unit Inafis Polres Tulungagung, bahwa didapati bahwa lantai 2 tersebut sebelumnya adalah teras biasa namun direnovasi, sehingga menjadi kamar yang ditempati korban,” ungkapnya.

Namun sangat disayangkan rupanya cakar ayam bangunan tersebut kurang kuat dan tidak mampu menopang material bangunan, sehingga muncul retakan awal pada tembok rumah korban. Akibatnya, bangunan tersebut runtuh dan membuat listrik di lokasi kejadian padam. Atas kejadian tersebut pihak keluarga menerima sebagai sebuah musibah, dan menolak jenazah korban untuk dilakukan autopsi.
“Usai kejadian, jenazah diserahkan ke pihak keluarga dan kemudian disemayamkan di pemakaman desa setempat. Pihak keluarga menerima kejadian tersebut sebagai sebuah musibah disertai dengan tanda tangan bermaterai,” pungkasnya.(jar/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.