Semakin Dekat dengan Pembaca

Modernisasi Pertanian Indonesia dengan Menerapkan Smart Farming 4.0

Teknologi informasi memiliki perkembangan yang sangat pesat pada era sekarang. Hampir seluruh kebutuhan memerlukan teknologi informasi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Perkembangan teknologi yang canggih dan sistem yang menggunakan komputer sangat diperlukan dalam bidang-bidang tertentu, salah satunya yaitu di bidang pertanian. Manfaat dari perkembangan teknologi informasi ini yaitu memberikan kemudahan untuk para pengguna dalam melakukan pengolahan data dengan tujuan untuk mendapatkan informasi secara cepat, tepat, dan relevan. Lahan pertanian yang semakin terbatas serta kebutuhan produk pertanian yang meningkat dan kualitas produk pertanian yang kurang berkualitas menjadi dasar dari pemanfaatan penggunaan teknologi informasi di bidang pertanian. Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan merupakan salah satu alat teknologi informasi yang berkembang di dunia ini, secara khusus di Indonesia. Kecerdasan buatan dapat diaplikasikan di bidang pertanian untuk mendorong kinerja petani dalam kegiatan budidaya pertanian yaitu dengan Smart Farming 4.0. Smart Farming adalah sebuah metode pertanian cerdas berbasis teknologi yang menggunakan AI dan menciptakan robot yang akan mampu melaksanakan berbagai tugas di bidang pertanian lebih cepat dengan precision farming jauh lebih baik dibandingkan manusia. Precision farming adalah konsep pengelolaan pertanian modern menggunakan teknologi digital yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan presisi dari kegiatan pertanian di lahan, sehingga proses kontrol kegiatan tersebut dapat dilakukan tepat waktu. Dalam penerapan di bidang pertanian, Smart Farming dapat meningkatkan ketepatan dalam pemberian input tanaman dan lahan pertanian, sehingga pendapatan petani akan meningkat serta berkontribusi terhadap keberlanjutan pertanian.

Peningkatan pertumbuhan penduduk disertai dengan peningkatan permintaan terhadap produksi pangan. Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi pada tahun 2030 jumlah angka kelaparan akan meningkat sebesar 670 juta. Angka tersebut semakin menjauhkan target program zero hunger. FAO juga memprediksi pada tahun 2050 jumlah penduduk dunia akan mengalami peningkatan hingga mencapai 9,73 miliar jiwa, dan akan terus meningkat hingga mencapai 11,2 miliar jiwa pada tahun 2100. Laporan ini dipandang menjadi peringatan besar bagi dunia, khususnya Indonesia yang jumlah penduduknya berada di 4 besar terbanyak di dunia. Hal ini berarti produksi pertanian harus meningkat sebesar 70% agar mampu mencukupi kebutuhan penduduk dengan jumlah sebesar tersebut. Apabila tidak terpenuhi, dunia akan terancam krisis pangan.

Penerapan teknologi pada sistem konservasi adalah bertujuan untuk membangun sebuah proses produksi di bidang pertanian agar hasil dari pertanian tersebut berjalan secara berkelanjutan. Penerapan teknologi smart farming perlu didukung oleh perilaku petani dalam pengelolaan usaha tani yang memadai. Perilaku petani meliputi pengolahan, pembibitan, pemupukan, pengairan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, penyuluhan pertanian, dan mencegah terjadinya erosi dan longsor. Perilaku petani dalam pengelolaan usaha tani menjadi penting dalam kemajuan usaha tani.
Banyak penelitian telah dilakukan untuk menerapkan ANN Models pada Smart Irrigation Water Management (SIWM).

Teknologi dalam Smart Farming 4.0
IoT pada Smart Agriculture
Internet of Things (IoT) adalah teknologi cerdas dan menjanjikan yang menawarkan solusi yang tidak konvensional dan praktis di berbagai bidang seperti smart city, smart home, smart manufacturing, dan smart agriculture. Perkembangan teknologi IoT di bidang pertanian memiliki perkembangan yang signifikan dalam manajemen pertanian. Teknologi ini memungkinkan semua perangkat dan perlatan pertanian dihubungkan bersama untuk membuat keputusan yang tepat dalam penyediaan pupuk dan irigasi lahan pertanian. Smart system yang tercipta akan meningkatkan efisiensi akurasi perangkat yang memantau pertumbuhan tanaman bahkan pemeliharaan binatang ternak.

Jaringan 5G pada Smart Farming
Sejalan dengan perkembangan smart system, teknologi komunikasi dan informasi juga mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Selama sepuluh tahun terakhir, teknologi jaringan nirkabel 3G atau 4G memberikan kecepatan yang memadai untuk transmisi informasi dan komunikasi, digunakan untuk menghubungkan perangkat pintar melalui IoT untuk berbagi data sebagai bahan evaluasi yang akurat di bidang pertanian. Namun, seiring dengan perkembangan kuantitas dan kualitas informasi, efisiensi jaringan 4G semakin menurun karena transmisi data menjadi lemah dibandingkan sebelumnya. Transfer data menggunakan jaringan 5G lebih cepat daripada jaringan lain karena kecepatan pengunduhan dan pengunggahan meningkat hampir 100 kali lipat dari jaringan 4G.

Smart Sensing pada Agriculture
Sensor bertanggung jawab untuk mengukur dan memantau semua faktor dalam smart system, misalnya pemantauan kualitas tanah memiliki sensor khusus seperti kandungan nutrisi, kandungan fosfat, kelembaban tanah, pemadatan tanah, dan sebagainya. Sistem irigasi pintar mencakup banyak sensor untuk memantau ketinggian air, efisiensi irigasi, sensor iklim, dll. Sensor dapat mengukur dan memantau perubahan sifat tanah dan cuaca lokal di lahan pertanian. Sensor standar yang digunakan dalam jaringan smart farming adalah sensor kelembaban tanah yang digunakan untuk mengukur perubahan kelembaban tanah, suhu tanah yang digunakan untuk mengukur monitor suhu dalam tanah, suhu udara, nilai pH tanah, kelembaban, sensor NPK, dll. (*)

 

Oleh: Nur Alvina Proborini, S.P. (Mahasiswi Pascasarjana Prodi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang)

Leave A Reply

Your email address will not be published.