Semakin Dekat dengan Pembaca

Muhammad Muis, Ternak Lebah Manfaatkan Halaman Rumah di Perkotaan

Tulungagung – Siapa sangka, madu dari lebah klanceng memiliki manfaat serta khasiat luar biasa dan dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah. Peluang tersebut berhasil dibaca Muhammad Muis, warga Kelurahan Panggungrejo, Kecamatan Tulungagung.

Pria kelahiran tahun 1990 tersebut mulai beternak lebah klanceng sekitar lima tahun lalu. Berbekal keilmuan yang didapatkan dari dunia maya, dia berani mengukuhkan niat untuk memulai beternak lebah klanceng. “Belajarnya hanya dari YouTube itu,” jelasnya kemarin (11/01).

Dia mengaku terdapat beberapa elemen penting yang perlu dipersiapkan sebelum memulai beternak lebah klanceng. Termasuk menyediakan tanaman berbunga untuk makanan primer bagi lebah klanceng. “Kalau saya mempersiapkan tumbuhan berbunga terlebih dahulu. Misal, bunga air mata pengantin. Bahan tersebut harus ada untuk makanan primer lebah klanceng. Lebah ini makannya nektar bunga,” ucapnya.

 

Setelah mempersiapkan tanaman berbunga untuk makanan lebah klanceng, dia kemudian mulai memelihara lebah klanceng. Awalnya, dia memelihara lebah klanceng lokal atau lebah klanceng laeviceps yang ada di halaman belakang rumahnya. “Ya karena sudah banyak bunga, ekosistem tawon klanceng itu tumbuh. Kalau lebah klanceng lokal itu ada sendiri, di rongga bambu kandang,” paparnya.

Berjalan satu tahun memelihara lebah klanceng lokal, dia pun sembari mempelajari jenis-jenis lebah klanceng lainnya serta jenis madu yang dihasilkan dari lebah klanceng berbeda tersebut. Setelah memahami jenis lebah klanceng, dia pun mulai memelihara lebah klanceng jenis itama dan biroi. Lebah tersebut didapatkan dari luar pulau seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. “Kalau lebah klanceng itama itu biasanya berasal dari Sumatera dan Kalimantan, sedangkan jenis biroi dari Sulawesi,” ungkapnya.

 

Uniknya, untuk mendapatkan lebah klanceng tersebut, dia harus rela menanggung biaya kirim tinggi. Sebab, lebah klanceng jenis tersebut perlu dikirim beserta gelondong kayu yang telah menjadi sarang dari lebah klanceng tersebut. “Jadi, kalau ratu atau koloninya saja, saya rasa akan merugi. Ya karena kayu yang telah menjadi sarang tersebut lebih bagus daripada kita buat sarang baru. Risikonya, biaya pengirimannya lumayan tinggi,” ucapnya.

Namun, dengan risiko tersebut, dia berhasil mendapatkan sekitar 1 liter madu lebah klanceng per koloni setiap kali memasuki masa panen. Itu ditambah dengan jenis lebah klanceng yang berbeda dan memiliki jumlah produksi madu lebih banyak jika dibandingkan dengan lebah klanceng lokal. Diketahui, masa panen lebah klanceng memiliki rentang waktu dua hingga tiga bulan. “Kalau lebah klanceng jenis itama itu produksi madunya lebih banyak dan rasanya lebih manis dibandingkan jenis lebah klanceng lain, karena ukurannya lebih besar. Kalau jenis biroi itu lebih agresif dan memiliki ukuran yang kecil. Madunya cenderung lebih asam dan pahit. Saya ada sekitar delapan sarang klanceng atau delapan koloni,” paparnya.

Madu-madu yang berhasil dihasilkan dari beternak lebah klanceng tersebut laris di pasaran. Bahkan, dia memiliki langganan yang bersedia langsung menerima madu hasil produksi lebah klanceng miliknya. Diketahui, harga madu lebah klanceng lebih mahal dibandingkan jenis lebah biasanya, sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per setengah liternya. “Bisa dijumlah sendiri penghasilannya, Mas. Sebenarnya, penghasilan dari lebah klanceng ini sangat menghasilkan sekali, apalagi khasiat dari madu klanceng banyak,” tutupnya. (*/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.