Semakin Dekat dengan Pembaca

Museum Penataran Pelengkap Destinasi Wisata

KABUPATEN BLITAR – Destinasi wisata di Bumi Penataran beragam. Tak hanya wisata alam ataupun buatan, ada beberapa wisata edukasi yang bisa menjadi jujugan. Salah satunya, Museum Penataran.

Museum milik pemerintah daerah ini ada di kawasan Candi Penataran. Yakni, di Jalan Raya Penataran No.11, Desa Penataran, Kecamatan Nglegok. Tepatnya, sekitar 100 meter sebelah utara komplek Candi Penataran, berdampingan dengan Kolam Renang Penataran, dan Amphi Teater Penataran.

Di tempat itu, terdapat beberapa bangunan. Selain gedung utama untuk penyimpanan arca dan benda-benda cagar budaya, ada aula serta pendopo yang biasanya digunakan untuk kegiatan masyartakat.

Koleksi benda cagar budaya yang ada di Museum Penataran tidak kalah komplit dari museum lain. Tak hanya ratusan arca dan prasasti, ada ratusan koleksi numismatik alias mata uang yang digunakan pada zaman kerajaan hingga awal pemerintahan Indonesia.

Selain itu, ada juga koleksi kramikologi, serta etnografi lengkap dengan peralatan yang digunakan oleh masyarakat di masa lalu. Mulai dari alat-alat penggilingan, cikar atau moda transportasi yang digunakan untuk mengangkut barang.

Museum Penataran mulai aktif pada era Bupati Bambang Sukotjo 1998 lalu. Kala itu, arca dan prasasti yang sebelumnya ada di pendapa Ronggo Hadi Negoro (RHN) dipindahkan ke museum tersebut. Totalnya ada sekitar 142 benda cagar budaya yang diboyong diiringi gamelan Kebo Giro atau klenengan.

“Arca dan prasasti ini dulunya koleksi Bupati K.P Warsokoesoemo (1900-1915) dan dikumpulkan di area pendopo RHN,” ujar Koordinator Museum Penataran, Sri Suyanti.

Seiring perkembangan zaman, ratusan koleksi benda cagar budaya tersebut berubah nama menjadi Museum Blitar. Berikutnya, pada masa pemerintahan Bupati Bambang Sukotjo, Museum Blitar dipindahkan ke kawasan Candi Penataran dan berubah nama menjadi Museum Penataran.

Jumlah koleksi museum juga terus bertambah. Sebab, sebagian hasil ekskavasi candi dan situs di Kabupaten Blitar, juga dibawa ke museum ini. Misalnya, ekskavasi Candi Gambar, Candi Mleri, Candi Plumbangan, Candi Sawentar dan Situs Sumberagung.

Pemerintah juga pernah melakukan pengumpulan benda-benda cagar budaya di Area Nglegok. Tak lama setelah pemindahan museum, dilakukan pendataan benda cagar budaya di radius 1 km dari Candi Penataran. “Di museum ini juga ada juga beberapa barang hibah masyarakat. Seperti alat giling, cikar, lesung dan peralatan kuno lainya,” ujar Sri Suyanti.

Menurut dia, Arca Trimurti termasuk yang cukup unik dari sekian benda cagar budaya yang ada di musem tersebut. Bentuk patung Brahma, Wisnu, dan Siwa itu memang tidak jauh beda. Istimewanya, ketiga arca itu ditemukan di satu tempat yang sama. “Sangat jarang, di satu tempat ditemukan patung ini. Trimurti ini ditemukan saat ekskavasi Candi Gambar,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, ada arca Dewi Durga Mahisasuramardini yang ukurannya dinilai ideal. Pola pahatannya juga masih sangat jelas dan halus. Karena itu, arca ini menjadi salah satu ikon koleksi Museum Penataran. Arca ini ditempatkan di bagian ujung utara menghadap selatan seolah memimpin arca-arca lainnya.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Blitar, Suhendro Winarso mengatakan, museum bukan sekadar tempat untuk menyimpan benda-benda peninggalan bersejarah. Museum juga merupakan sarana untuk belajar. Belajar tentang keluhuran budaya, maupun tentang peradaban leluhur.

“Banyak hal bisa kita dapatkan jika mengenal sejarah. Salah satunya menjadi inspirasi dan pengetahuan untuk berkarya hari ini,” ujarnya.

Suhendro melanjutkan, perawatan atau pemeliharaan benda cagar budaya di Museum Penataran ini tidak dilakukan oleh pemerintah daerah sendiri. Sebaliknya, pemerintah daerah bekerjasama dengan Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jatim. “Untuk kegiatan pemeliharaan dan kegiatan lainnya kami juga mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat melalui dana alokasi khusus (DAK),” tuturnya.

Pria ramah itu berharap, keberdaan museum tersebut bisa menjadi pelengkap destinasi wisata di Bumi Penataran. Ending-nya, para wisatawan tidak hanya mendapatkan pengetahuan namun juga nilai nilai luhur yang terkandung dalam benda benda cagar budaya tersebut. (hai/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.