Semakin Dekat dengan Pembaca

Ngaji Nahwu Shorof dan Kitab 8 Lainnya, Ponpes Darur Roja’ Larang Santri Keluar

KABUPATEN BLITAR – Santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darur Roja’a punya kesibukan baru di Ramadan tahun ini. Yakni, mengkaji sekaligus menghafal tujuh kitab. Bukan cuma itu, mengaji nahwu shorof juga jadi bahan ajar tambahan.

Koordinator Santri Ponpes Darur Roja’, Miftakhul Bagus Pamungkas mengatakan, penambahan jadwal kajian sudah tentu diberlalukan sejak awal Ramadan tahun ini. Sebanyak sembilan kitab sudah disiapkan sebagai bahan ajar bagi para santri. “Jadi, ada dua hafalan. Yaitu, tahfidzul Quran dan sembilan kitab lain,” ungkapnya.

Sembilan kitab yang dimaksud adalah Dlou’ul Misbah Fi Bayani Ahkami Nikah, Irsyadul Muk’minin, Fikih Siyasah, Ziyadatu Ta’liqot, Adabul Alim Wal Muta’alim, Nadihi Risalah Jamu’atul, Nailul Manahil, Masa’ilul Haid, dan At Tahliyah.

Kajian nahwu shorof juga jadi materi wajib bagi para santri di setiap datangnya bulan Ramadan. Bagas mengaku, kajian ini juga mendapat tambahan jadwal khusus. Alasannya, materi nahwu shorof harus dapat dipahami secara baik oleh para santri agar mereka dapat memaknai kosa kata bahasa Arab yang terkandung di dalam Alquran maupun kitab. “Karena jadwal pembelajaran ditambah, santri juga hanya diperkenankan untuk berkegiatan secara penuh di pondok,” jelasnya.

Uniknya, ponpes yang berlokasi di Desa Kolomayan, Kecamatan Srengat, ini punya regulasi khusus yang diberlakukan selama Ramadan. Yakni, pengasuh tidak memperbolehkan santri untuk keluar dari lingkungan ponpes. Beragam sanksi juga disiapkan bagi mereka yang kedapatan melanggar aturan ini.

“Dibatasi sampai radius sekitar 300 meter. Jika ada santri yang tetap keluar, akan diberi sanksi salawatan selama satu jam penuh. Jika kembali melakukan pelanggaran, hukuman juga dilipatgandakan. Bisa sampai 3 jam. Atau hukuman paling keras ya kita gunduli,” bebernya.

Dia menegaskan, kebijakan ini diambil dengan alasan agar para santri lebih fokus kepada kegiatan peribadatan di lingkungan ponpes selama Ramadan. Hal ini dinilai penting, mengingat materi ajar yang diberikan selama bulan suci ini juga kian bertambah.

“Kalau bulan suci, sudah sepatutnya kita perbanyak kegiatan mencari pahala di ponpes. Memang ada izin khusus bagi santri yang keluar dari ponpes, tapi itu hanya untuk keperluan mendesak saja,” ungkapnya. (dit/c1/ady)

Leave A Reply

Your email address will not be published.