Semakin Dekat dengan Pembaca

Nura Rizky Amalia Sabet Gelar Internasional Jujitsu

KABUPATEN BLITAR – Memar sampai cedera jadi “oleh-oleh” sepulang latihan bela diri jujitsu. Meski begitu, Nura Rizky Amalia tak lekas menyerah. Lambat laun, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Bahkan, gelar juara tingkat internasional berhasil dibawa pulang.

Berbeda dari kebanyakan gadis seusianya, wanita yang karib disapa Rara ini justru memilih ekstrakulikuler (ekskul) bela diri. Itu saat dia masih duduk di bangku madrasah tsanawiyah (MTs) pada 2012 lalu. “Saya sekolah MTs di Kediri. Di sana, saya mulai kenal jujitsu. Setelah lulus, saya pulang ke Blitar,” ujar mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar ini.

Keinginananya sempat ditentang olah orang tua. Wajar, orang tua Rara khawatir anak gadisnya mengalami cedera saat melakoni olahraga ekstrem ini. Tak patah arang, Rara terus mencoba meyakinkan kedua orang tuanya. “Saya buktikan dengan prestasi. Saat masih MTs dulu, saya sering ikut kejuaraan,” lanjutnya.

Wanita kelahiran 16 November 2000 ini menambahkan, karirnya mulai moncer saat dia duduk di bangku perguruan tinggi. Di kampus, Rara jadi perhatian dan diikutsertakan di banyak event bergengsi. Mulai tingkat lokal, provinsi, nasional, hingga internasional.

Kesempatan ini tidak dia sia-siakan. Total ada dua gelar juara tingkat internasional dan satu gelar juara nasional berhasil ditorehkan.

Pertama, Try Out Sea Games Filipina 2019. Sukses di event itu, Rara lantas diterbangkan ke Seoul, Korea Selatan untuk bertanding dengan atlet dari berbagai negara. “Kebanyakan lawannya atlet Korea. Padahal, orang Korea juga sangat erat dengan bela diri. Tapi, alhamdulillah saya bisa juara di sana,” akunya.

Gelaran selanjutnya adalah laga ekshibisi Porprov VI Jatim 2019. Dalam gelaran yang dihelat di Surabaya itu, wanita berjilbab ini meraih juara 1 alias medali emas. Terakhir, Rara terbang ke Malaysia untuk menghadapi turnamen terbuka. Yakni, Kuala Lumpur International Open 2020. Medali emas kembali berhasil dia bawa pulang dari event itu.

“Saya turun di kelas 58 kilogram kategori dewasa putri. Nah, di Kuala Lumpur itu, saya berangkat dengan biaya pribadi. Karena itu adalah turnamen terbuka. Jadi, bukan membawa nama induk cabor atau daerah,” bebernya.

Sulung dari dua bersaudara ini mengungkapkan, orang tuanya kini bisa menerima kondisi Rara sebagai seorang atlet cabor jujitsu. Namun, bukan berarti semua raihan di atas dia peroleh tanpa perjuangan berat. Sebab, tak jarang Rara pulang dalam kondisi babak belur atau cedera selepas latihan atau kejuaraan.

“Sering. Karena saya kan bertanding di nomor newaza system. Jadi, banyak gerakan kuncian dalam pertandingan. Karena itu sering dapat cedera. Bahkan, ada yang sampai sekarang kadang masih terasa sakit atau memar,” sambungnya lagi.

Disinggung soal proyeksi kejuaraan selanjutnya, wanita yang tinggal di Desa Slemanan, Kecamatan Udanawu, ini mengaku masih ingin mengikuti banyak kompetisi. Namun, tampaknya hal itu harus dia kesampingkan untuk sementara waktu. Sebab, saat ini Rara masih harus fokus untuk merampungkan kuliahnya. “Usia saya masih bisa ikut serta di beberapa kejuaraan. Tapi, saat ini mau selesaikan skripsi dulu. Setelah itu baru aktif berkegiatan jujitsu lagi,” tandasnya. (*/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.