Semakin Dekat dengan Pembaca

Nyamuk ”Berdarah” Intai Anak-Anak Blitar

KOTA BLITAR – Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Blitar meningkat. Pada 2021 tercatat sebanyak 49 kasus, sedangkan 2022 ada sebanyak 91 kasus.

Mayoritas kasus DBD dialami oleh anak-anak. Sebanyak 64 kasus dari 91 kasus DBD terjadi pada usia anak-anak. Peningkatan kasus tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang memicu perkembangbiakan jentik nyamuk.

Administrator Kesehatan Ahli Muda Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar, Trianang Setyawan menjelaskan, faktor lingkungan menjadi salah satu penyebab tingginya kasus DBD di suatu wilayah. Banyaknya genangan air bersih di kamar mandi, penampungan, hingga pot bunga memicu jentik nyamuk untuk berkembang biak. “Nyamuk tersebut jenis Aedes aegypti. Nyamuk ini sebagai perantara virus yang mengakibatkan penyakit DBD,” terang dokter muda ini.

Menurut Trianang, kondisi cuaca sangat memengaruhi perkembangbiakan jentik nyamuk. Terlebih di musim hujan seperti saat ini. Kondisi tersebut tentu menimbulkan genangan air di mana-mana. “Apabila masyarakat kurang menjaga kebersihan tentu berpotensi menjadi sarang nyamuk,” ujar pria ramah ini.

Mayoritas kasus DBD selama ini menjangkiti anak-anak dengan rentang usia 5-14 tahun. Jumlah kasusnya pada 2022 lalu mencapai 64, sedangkan pada rentang usia 15-44 tahun tercatat sebanyak 19 kasus. Lalu, pada balita ada 8 kasus.

Di tahun lalu, ada satu anak yang meninggal dunia karena DBD. Di sepanjang 2022 lalu, jumlah kasus DBD tertinggi terjadi pada Mei. Ada sebanyak 17 orang yang terserang.

Berdasarkan pengamatan dinkes, pada bulan tersebut merupakan puncak musim penghujan. Dengan begitu, banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biak jentik nyamuk. “Jika tidak memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, rawan tumbuh nyamuk,” terang pria berkacamata ini.

Perlu diketahui, penyakit DBD ditandai beberapa gejala seperti demam tinggi yang mendadak lebih dari 38 derajat Celsius. Demam tersebut terjadi seperti pelana kuda. Maksudnya, demam naik pada hari pertama sampai ketiga, lalu turun hingga hari kelima, kemudian naik lagi pada hari keenam. “Selain demam tinggi, kasus DBD juga ditandai dengan menurunnya trombosit darah,” bebernya.

Gejala lainnya yakni timbul nyeri pada persendian, badan lemas, mual, dan terdapat tanda pendarahan. Tanda pendarahan ini dapat terjadi pada fisik maupun tidak. Pendarahan fisik di antaranya mimisan, gusi berdarah, dan bercak merah. “Sementara pendarahan pada organ dalam dapat diketahui berdasarkan hasil laboratorium. Yakni, penurunan trombosit, turunnya leukosit, naiknya plasma darah, dan naiknya HB,” paparnya.

Trianang mengimbau, jika penderita sudah mengalami demam selama tiga hari maka harus segera dilakukan pemeriksaan. Sebab, reaksi virus pada kasus DBD ini terjadi saat demam turun. “Jika tidak segera mendapat penanganan bisa lebih membahayakan tubuh,” tandasnya. (mg1/c1/sub)

Leave A Reply

Your email address will not be published.