Semakin Dekat dengan Pembaca

Ortu Menolak, Regrouping SD Tersendat

Butuh Penetrasi Lebih Intensif

KABUPATEN BLITAR – Upaya regrouping alias penggabungan SD di Bumi Penataran tak semulus yang direncanakan. Dinas pendidikan (dindik) mengaku masih kesulitan merealisasikan program tersebut lantaran sejumlah wali murid bersikukuh menolak.

Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar Wiji Asrori membenarkan hal ini. Dia menilai, penolakan itu paling terasa di SDN Pojok 3. Menurutnya, wali murid enggan menerima penggabungan itu lantaran siswa sudah nyaman belajar di sekolah tersebut. Mereka juga khawatir konsentrasi belajar menurun pascapenggabungan.

“Kendalanya masih seputar orang tua (ortu) yang tidak berkenan menerima regrouping. Ini jadi pekerjaan rumah (PR) kami untuk sekarang,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Selain SDN Pojok 3, tahun lalu pihaknya mendata sedikitnya ada 14 SD yang masuk daftar rencana penggabungan. Di antaranya, SDN Boro 2, SDN Boro 4, SDN Modangan 1, dan SDN Modangan 4. Itu karena lembaga pendidikan ini tidak bisa memenuhi kuota maksimal rombongan belajar (rombel) atau kekurangan siswa. Selain itu, letak geografis turut menjadi alasan lain penggabungan sekolah.

Wiji -sapaan akrabnya- mengaku, wali murid harus mengubah pola pikir terhadap regrouping ini. Sebab, anak bisa mendapatkan banyak teman dan pendidikan yang lebih efektif. Selain itu, penggabungan menjadi upaya efisiensi anggaran biaya operasional sekolah. Sebab, tidak banyak lagi sekolah yang dibiayai oleh pemerintah.

“Ini juga menjadi alternatif untuk membantu mengurai persoalan kebutuhan guru. Karena beberapa lembaga masih banyak yang butuh SDM tenaga pendidik,” sambungnya.

Pihaknya menambahkan, penggabungan ini tak semudah mengedipkan mata. Dindik, kata dia, masih harus berkomunikasi dengan para ortu siswa sebagai langkah penetrasi sebelum regrouping. Segala aspirasi pro dan kontra akan tetap ditampung demi kenyamanan dan efisiensi belajar siswa. Pihaknya juga tak ingin program ini justru menghambat belajar peserta didik.

“Perlu intens komunikasi dengan mereka (ortu). Siapa tahu ada unek-unek yang ingin disampaikan. Kami tekankan bahwa ini untuk kebaikan anak,” terangnya.

Dikonfirmasi terpisah, ketua komite sekaligus wali murid SDN Pojok 3 Mochammad Syaikhudin membenarkan perihal keberatan regrouping itu. Menurutnya, langkah yang diambil dindik justru disinyalir dapat mengusik kenyamanan dalam pembelajaran siswa.

“Anak yang sudah lama belajar di sini, bertahan karena nyaman. Karena sekali lagi, sudah mendarah daging dengan lingkungan dan guru,” ujar pria yang hobi olahraga tepok bulu ini.

Terpenting, jelas dia, wali murid meminta dindik agar memahami psikologis anak. Artinya, jika penggabungan itu tetap dilaksanakan, tak sedikit anak yang harus berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru. Hal ini, kata dia, butuh waktu lama. Padahal, anak juga harus memahami setiap materi pembelajaran yang diberikan guru.

Meski menyadari bahwa sekolah tersebut minim siswa, tetapi dia berharap regrouping bukan jalan satu-satunya. “Semoga ada solusi lain,” tandasnya.

Sebelumnya, rencana penggabungan sekolah yang sepi murid ini sudah menggema sejak tahun lalu. Tahun ini dindik berupaya merealisasikan program tersebut. (luk/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.