Semakin Dekat dengan Pembaca

Pantai Keben, Teluk Mini di Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto

Jarang Dikunjungi, Seperti Pantai Milik Sendiri

KABUPATEN BLITAR – Menjadi daerah di pesisir selatan Jawa, Bumi Penataran memiliki ratusan destinasi wisata bahari. Pantai Keben salah satunya. Ombak di pantai ini tidak begitu besar karena diapit bukit mini dan berada di tengah teluk.

Minggu (15/1) siang, cuaca cukup terik. Kami bersama beberapa orang rekan penasaran dengan salah satu destinasi wisata pantai di Kabupaten Blitar, yang konon masih perawan alias jarang dijamah. Warga setempat menyebutnya Pantai Keben, yang berada di Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto.

Karena alasan ini pula, jadwal ngopi siang itu sedikit berubah. Kami sepakat untuk berangkat, tanpa persiapan karena memang sebelumnya tidak direncanakan. Berbekal bensin full tank, kami berlima memutuskan menuju pesisir selatan Bumi Penataran. “Sik-sik tak ndelok map,” ucap warga Sutojayan, Lingga Prasetya, sesaat sebelum menyalakan mesin motor.

Dari map layar handphone, diketahui pantai tersebut berjarak sekitar 43 kilometer (km) dari pusat Kota Blitar. Dari aplikasi tersebut juga diketahui taksiran waktu yang dibutuhkan, yakni 90 menit perjalan menggunakan roda dua.

Tak pikir panjang, tiga mesin kendaraan pun dinyalakan. Kami memilih jalur timur, yakni melalui Kecamatan Kanigoro- Kecamatan Sutojayan- Kecamatan Panggungrejo, untuk sampai di pantai tersebut.

 

(Dok. MOKHAMAD NIZAM BAHTIAR/ RADAR BLITAR

 

 

Setengah jam perjalanan, mobilitas padat mewarnai Minggu kami. Kondisi infrastruktur mulus mendominasi. Namun, setelah memasuki Kecamatan Panggungrejo, sebagian jalanan rusak mulai merintangi. Pun hal ini tidak menyurutkan semangat karena memang ada pengalaman baru yang bakal ditemui.

Sekitar 45 menit berkendara, rombongan kami tiba di jalur lintas selatan (JLS). Tepatnya di Desa/Kecamatan Panggungrejo. Jalan nasional itu belum begitu ramai kendaraan. Mungkin karena belum semua jalur terbangun dengan baik sehingga hanya masyakat lokal yang memanfaatkan akses anyar ini.

Setelah 15 menit meroda di aspal mulus ini, semangat kami yang mulai kendur karena lama berkendara bangkit kembali. Itu setelah melihat rambu kecil di kiri jalan. Pada tanda penunjuk arah itu tertulis Pantai Keben dan Pantai Jebring. “Akhirnya ada tanda-tanda kesuksesan,” ujar warga Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Dwi Frans, sambil nyengir bahagia.

Tampaknya Dwi terlalu cepat puas. Sebab, jalanan makadam yang kami lalui setelah turun dari JLS ini seolah tak ada habisnya. Batu sebesar kepala orang dewasa menjadi pemandangan di jalan. Tak hanya itu, jalur ini juga naik turun. Untungnya semalam tidak hujan sehingga perjalanan masih bisa dilanjutkan, meski beberapa kali harus turun dan mendorong kendaraan.

Dari jalur ini, kami melihat gundukan mulus di kanan-kiri jalan. Itu adalah bukit tanpa tegakan. Hanya tanaman tebu dan kolonjono atau rumput gajah yang tumbuh di perbukitan selatan Bumi Penataran ini. Memang ironis. Namun, sudah sejak lama kondisi ini sudah menjadi fenonema di wilayah Kabupaten Blitar.

Informasi yang kami dapatkan dari gadget ternyata tidak sepenuhnya benar. Sudak lebih dari 90 menit kami menelusuri jalur itu. Namun, kami hanya melihat birunya laut dari atas perbukitan. Tidak hanya itu, kami sudah cukup lama menulusuri jalanan terjal berbatu. Punggung kami mulai sambat karena itu.

Berganti panorama, kami tidak lagi melihat bukit gundul, tetapi hutan tebu. Jalan setapak kami masuki. Kami tidak tahu persis jalur yang benar untuk sampai di pantai Keben. Hanya berkeyakinan, jika lurus ke selatan pasti bertemu dengan pantai.

Jarum jam menunjukkan pukul 14.20, kami mulai diburu waktu. Untungnya, suara deburan ombak lamat-lamat terdengar dari balik rumbun tanaman tebu.

Ya, setelah keluar dari lahan tebu ini, suara ombak kian jelas. Sayangnya, ada sungai kecil yang membentang di depan kami. Tidak ada akses untuk menyeberang. Artinya, kami harus kembali. Mencari jalan memutar untuk menghindari sungai tersebut. “Motore dideleh kene wae (motornya diparkir di sini saja),” saran salah satu teman seperjalanan.

Kami pun sepakat dan bergegas mencari jalur memutar. Sekitar 15 menit berikutnya, tujuan kami tepat di depan mata. Pasir putih kekuningan, air laut, dan ombak kecil menyambut kedatangan kami.

Secara umum, Pantai Keben ini tidak berbeda dengan panorama di destinasi wisata bahari lainnya. Hanya karena akses yang tidak mudah, pantai ini tidak banyak dikunjungi. Sore itu juga hanya seorang warga lokal yang sedang memancing di batuan pinggir pantai.

Sekilas pantai ini mirip teluk kecil. Di kanan dan kiri pasir ada tebing atau bukit kecil. Karena bukit ini pula kekuatan ombak pantai selatan sedikit berkurang. “Karena tidak ada orang lain, pantai ini seperti milik kita sendiri,” kata Dwi.

Sayangnya, waktu terlalu cepat berlalu. Kami juga datang tanpa banyak persiapan. Setelah sejam menikmati pemandangan sekaligus mengurangi pegal di punggung, kami memutuskan untuk kembali. Sebenarnya kami masih betah, tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan. Jangankan warung makan, kami juga harus berpikir segera pulang karena jalur pantai ini tidak ada penerangan. (*/c1/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.