Semakin Dekat dengan Pembaca

Pasar Hewan Masih Tutup Penjual Ternak Kelimpungan

KOTA BLITAR – Para penjual hewan kurban sepertinya harus berpikir ekstra setelah pasar hewan ditutup sementara. Apalagi, penutupan pasar hewan di wilayah kabupaten diperpanjang hingga 1 Juli.

Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi kasus penyakit mulut dan kaki (PMK). Namun, sterilisasi ini justru berdampak pada penjual ternak.

Penjual ternak asal Kecamatan Doko, Supardi mengatakan, sejatinya tak keberatan dengan penutupan sementara itu. Namun, pemerintah harus memberikan solusi agar roda perekonomian para penjual hewan bisa berjalan. Mengingat, sesaat lagi bakal memasuki perayaan Idul Adha dan diharapkan mendongkrak penjualan ternak sekaligus memenuhi kebutuhan konsumen.

“Ditutup silahkan. Kalau saya pribadi, tidak masalah karena demi kebaikan bersama. Tapi tolong solusinya bagaimana supaya dagangan (hewan kurban, Red) laku,” ujarnya, kepada Koran kemarin (26/6).

Setiap hari tertentu, membuka lapak di Pasar Hewan Wlingi. Nah, selama penutupan pasar ini, omzet semakin turun hingga 25 persen. Padahal, sebelum pasar ditutup, penghasilannya juga sudah turun 10 persen. Menurut dia, ini dampak PMK yang sudah meluas di 19 kecamatan. “Para penjual ternak mulai gelisah, lantaran kesulitan menjual hewan ternak. Apalagi sebentar lagi Idul Qurban,” jelasnya.

Penjual ternak lain asal Desa Gandusari, Wiyoto mengaku, dampak PMK membuat penjualan hewan ternak menyusut. Soal perpanjangan penutupan pasar hewan ini, semua penjual mengeluh. Sebab, tak bisa leluasa menawarkan dagangan.

“Yang pasti sabar. Penutupan ini sebagai kebijakan pemerintah. Tapi, tolong dicarikan solusi agar kami bisa jualan lagi. Kalau jualan di rumah kok rasanya agak sulit,” pintanya.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar Toha Mashuri, tak memungkiri bahwa penutupan ini bakal berimbas pada penjualan ternak. Namun, dia meminta masyarakat memaklumi situasi saat ini. Penjual ternak tetap buka lapak di rumah agar bisa melayani tetangga yang membutuhkan hewan kurban.

Menurut dia, dengan membeli hewan kurban di tetangga, kualitas ternak lebih sehat. Sebab tidak melalui mobilitas tinggi. Selain itu, langkah ini tetap membuat hewan ternak memiliki harga jual normal.

“Pasar yang ditutup mungkin menyulitkan masyarakat mendapat hewan kurban. Penutupan ini juga sebagai langkah menekan kasus PMK,” tandasnya.

Untuk diketahui, penutupan ini dilakukan di dua pasar hewan besar di wilayah kabupaten, yakni di Wlingi dan Srengat. Sedangkan 14 pasar hewan yang tersebar di desa di wilayah Bumi Penataran juga mengikuti regulasi yang sama. (mg2/ady)

Leave A Reply

Your email address will not be published.