Semakin Dekat dengan Pembaca

Pedagang Segera Beradaptasi, Berharap Kompensasi

KABUPATEN BLITAR – Kebakaran Pasar Kesamben pada akhir November lalu mulai mendapat penanganan dari pemerintah. Salah satunya, penyediaan tempat relokasi di timur pasar. Relokasi tersebut bakal mulai diresmikan pekan depan. Sejumlah pedagang pasar mengaku senang dengan upaya tersebut, mengingat sudah mendekati momen tahun baru.

Hiruk pikuk mewarnai suasana Pasar Kesamben sejak pagi buta. Beberapa pedagang tetap berusaha tersenyum. Namun, cukup banyak juga yang murung. Meski begitu, semangat para pengais rejeki itu tak pupus, walaupun lahan pasar tinggal puing berbalut jelaga.

Bangunan kios pasar yang tak terjamah api masih bisa dimanfaatkan seperti biasa. Sementara itu, pedagang yang kehilangan lapak harus rela mencari lokasi lain untuk menjemput berkat. Keadaan memaksa mereka untuk kuat kala berangkat maupun pulang, menatap pemandangan pasar yang rata dengan tanah.

Kemarin (20/12), suasana lahan transaksi itu berbeda dari sebelumnya. Jalan Jaksa Agung Suprapto yang berada di sisi timur pasar tampak penuh dengan tenda berbahan galvalum. Panjangnya sekitar 100 meter ke selatan. Bangunan itu merupakan kios relokasi sementara bagi pedagang pasar. Namun, sebagian besar kios masih kosong atau belum berpenghuni. Maklum, itu karena pembangunan belum tuntas.

Satu satu pedagang pakaian, Mona Tanwir menyambut positif fasilitas tersebut. Menurutnya, relokasi itu bisa mengungkit kembali roda perekonomian pascakebakaran. Sebab, setelah amukan si jago merah, mayoritas masing-masing pedagang pasar merugi hingga ratusan juta. Barang dagangan yang dipersiapkan untuk menyambut momen Natal dan tahun baru raib begitu saja.

“Kalau dibikinin begini, alhamdulillah. Tadinya saat pertama kami jualan, kami menjerit, nangis. Aset yang bisa jadi pangan sehari-hari lenyap,” ujar perempuan 53 tahun ini.

Dia menceritakan aktivitas sore hari sebelum kiosnya dilalap kobaran api. Sebagai persiapan menyambut libur tahun baru, tumpukan pakaian sudah ditimbun di dalam kios. Itu juga dilakukan oleh pedagang lain. Alasannya agar tak tergesa-gesa saat mendadak ramai pembeli.

Hingga pukul 19.00, Mona masih bertahan di kiosnya. Petaka pun tiba satu jam setelahnya. “Tidak ada yang bisa diselamatkan. Barusan saja pinjam uang di bank buat modal, malah tidak ada hasil,” sambung warga Kecamatan Kesamben ini.

Dia meyakini relokasi tersebut akan berbuah positif apabila dipersiapkan secara matang. Ukuran kios nonpermanen itu juga harus sesuai dengan kebutuhan pedagang. Tak berhenti di situ, pemerintah diharapkan menyalurkan bantuan alias kompensasi kepada pelapak. Sebab, banyak pedagang yang harus memulai dari titik terendah dengan modal minim.

“Makanya sampai ada warga yang depresi karena terdampak. Kalau bisa, kami diberi kompensasi ganti rugi. Paling tidak agar kami bisa bangkit lagi, termotivasi untuk jualan,” ungkapnya.

Hal senada juga dituturkan oleh Tri Yuni, pedagang kebutuhan sekolah dan konveksi. Meski kebakaran sudah berlalu hampir satu bulan, tetapi memori kelam itu masih membekas di benaknya. Kembali berjualan mungkin membuatnya sedikit bisa bernapas lega, ditambah lahan baru itu. Namun, dia mengaku tak kuasa melihat sejumlah rekannya yang urung bisa melapak. “Sekarang mungkin bisa ikhlas, tapi saat teringat kembali sesak di dada,” beber perempuan berhijab ini.

Baginya, relokasi harus maksimal, terutama soal luasan lahan tiap pedagang sehingga bisa meredam potensi kecemburuan sosial. Selain itu, tak ada salahnya apabila pemerintah memberikan bantuan modal usaha. Tak harus banyak, minimal bisa dirasakan manfaatnya.

Dia menduga para pedagang hanya akan mendapat fasilitas tenda galvalum, sedangkan meja dan kursi harus membawa sendiri. Bahkan, semenjak peristiwa pahit itu, ada biaya tambahan yang harus dikucurkan tiap harinya. Yakni, membayar jasa angkut barang dagangan.

Per hari, jelas dia, harus mengeluarkan biaya Rp 20 ribu. “Barang tidak mungkin kami tinggal di sini. Setiap hari kami bawa pulang, harus pakai tenaga orang. Satu bulan sudah berapa?” ujarnya.

Pihaknya berharap usulan kompensasi bagi pedagang terdampak kebakaran bisa direalisasikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar. Untuk sementara waktu, dia dan pedagang lainnya bakal beradaptasi dengan suasana relokasi serta berharap ada keuntungan di momen tahun baru. “Meski berat, harus membiasakan diri. Ini ujian yang harus kami lalui,” tuturnya. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.