Semakin Dekat dengan Pembaca

Pemancing Tewas Digulung Ombak Pantai di Blitar, Begini Kronologinya

KABUPATEN BLITAR – Nasib tragis menimpa Mustakim, warga Desa Maron, Kecamatan Kademangan. Niatnya untuk memancing justru berakhir tragis. Pria 50 tahun ini membuat warga geger usai digulung ganasnya ombak Pantai Pasur, Desa Bululawang, Kecamatan Bakung, kemarin (7/1) pagi.

Koordinator Pos SAR Trenggalek Yoni Fariza mengatakan, Mustakim ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dengan masih mengenakan busana yang dipakai saat memancing. Yakni, kaos lengan panjang dan celana pendek biru. Keluarga meyakini itu adalah korban.

“Kami tanya ke dua rekan korban (Mustakim) saat mancing, ternyata benar itu yang bersangkutan. Wajah masih bisa dikenali,” ujar Yoni.

Peristiwa nahas ini bermula sekitar pukul 09.00. Korban berangkat ke lokasi memancing bersama dua rekannya, yakni Risman, 60, dan Mandra, 46. Mereka kemudian tiba di Pantai Pasur pukul 10.00 dan berpencar di tebing berbeda.

Tak lama, kedua saksi mendengar suara korban meminta tolong. Saat diperiksa, pria malang itu sudah tercebur ke pantai lalu digulung ombak. Mengetahui itu, saksi langsung melaporkan kecelakaan laut itu ke petugas BPBD dan Polsek Bakung.

“Jatuhnya korban diduga karena terpeleset. Terlebih saat itu kondisi cuaca tidak mendukung, angin kencang, dan ombak tinggi,” jelas pria tinggi semampai ini.

Personel dari unsur gabungan SAR, BPBD, polisi, dan TNI kemudian mencari korban di sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Proses manuver itu tak bisa berjalan mulus lantaran ombak cukup ganas. Hingga pukul 14.00, jasad Mustakim ditemukan mengapung oleh sejumlah warga. Jaraknya, sekitar 1 km dari lokasi korban terjatuh. Jasad lelaki itu kemudian dievakuasi dan diidentifikasi.

Petugas menemukan sejumlah luka di tubuh korban. Paling jelas yakni luka memar di wajah. Pihak keluarga menolak proses otopsi, dan menerima peristiwa tersebut sebagai musibah.

Yoni menambahkan, sejatinya ada banyak kemungkinan mengapa seseorang bisa tewas saat terjatuh ke laut. Menurutnya, ini menyangkut antisipasi dan kesiapan meminimalisasi risiko terjatuh. Tak hanya di pantai, melainkan di sungai.

“Walaupun di sungai kalau tidak siap ya berbahaya. Lalu, saat mandi atau main di laut, apa sudah dibekali kemampuan berenang? Pengetahuan geografis di pantai juga perlu,” sambungnya.

Pihaknya menilai karakter ombak di tiap pantai nyaris tak berbeda. Hanya yang membedakan yakni garis panjang dan luasan pantai. Masyarakat, kata dia, harus peka terhadap perubahan iklim. Utamanya saat berencana berlibur atau kegiatan di air. “Harus paham dulu dengan kondisi alam saat ini,” tandasnya. (luk/hai)

Leave A Reply

Your email address will not be published.