Semakin Dekat dengan Pembaca

Pembangunan Tower di Desa Sepatan, Warga Enggan Terima Duit Kompensasi

Tulungagung – Tower provider setinggi 20 meter di Desa Sepatan, Kecamatan Gondang, ternyata sempat tidak disetujui beberapa warga. Setelah melewati beberapa mediasi, warga yang menolak akhirnya bisa menerima adanya tower tersebut. Namun, mereka tidak ingin menerima uang kompensasi.

Tower itu memang berdiri di tengah permukiman warga, bahkan jaraknya cukup mepet dengan rumah. Namun, tidak ada aktivitas di dalam area tower, hanya ditemui orang membenahi teras rumah di sekitar lokasi. “Dalam pembangunan tower ini yang rumah terdampak radius 52 meter terdapat tiga kepala keluarga (KK). Namun, dari jumlah itu, tiga KK yang berada di belakang tower awalnya tidak menyetujui pembangunan tower provider tersebut lantaran dampak kesehatan,” ujar warga yang rumahnya dalam radius tower, Sanuri.

Dia melanjutkan, tiga warga yang tidak setuju itu akhirnya bisa menerima pembangunan tower usai dilakukan mediasi. Bangunan ini dibangun sejak 5 Desember dan baru selesai kemarin (Minggu 1 Januari, Red).

Namun, dia tidak termasuk warga yang menyetujui adanya tower ini berdiri di dekat rumahnya. Lantaran, menurut Suwarno, tower tersebut juga merupakan kepentingan banyak orang. Oleh karena itu, sejak awal dia tidak keberatan terhadap pembangunan alat penguat sinyal ini.

Sementara itu, Kepala Desa Sepatan, Sudarminto membenarkan bahwa sempat ada warga yang tidak setuju dengan adanya tower di desanya. Namun, awalnya, warga Desa Sepatan bernama Nawa sebagai pemilik tanah dari tower tersebut telah menyetujui paling awal dan bertransaksi dengan pihak pengembang tower. Sudarminto mengajak pemilik tanah untuk mendata warga dalam radius tower dan menanyakan setuju atau tidak dengan pembangunan tower itu. “Hasilnya, 32 setuju dan 3 tidak setuju adanya tower tersebut. Saya tidak bisa mengatasi sehingga saya laporan ke Pak Camat. Camat langsung mengutus saya untuk mempertemukan semua warga dalam radius tower dan mengonfirmasi kembali surat pernyataan yang ditandangani warga,” terangnya.

Dalam pertemuan itu, Sudarminto bersama semua perangkat Desa Sepatan menjelaskan secara persuasif pembangunan tower tersebut. Lalu, tiga KK dalam radius tower juga telah terkonfirmasi bahwa surat pernyataan itu memang benar-benar ditanda tanganinya.

Sudarminto kembali mengundang tiga warga yang menolak terhadap adanya tower tersebut, tetapi hasilnya nihil. Hingga akhirnya, dia menghampiri rumah warganya yang menolak tower bersama camat. Hasilnya, ada yang masih menolak dan juga setuju, tetapi dengan syarat menaikan uang kopensasi.

“Saya mengundang lagi tiga warga itu untuk konfirmasi akhir. Ternyata, salah satu warga mempersilakan untuk membangun tower, tetapi tidak berkenan untuk menerima uang kopensasi. Dua warga lainnya juga mengikuti,” jelasnya.

Sudarminto ketika mendengar pernyataan tiga warganya itu hanya bisa menerima. Meskipun dia tahu, bahwa dalam hati ketiganya masih menyimpan rasa. Pihaknya menganggap bila semua warganya kini menyetujui adanya tower provider itu.

“Tapi, saya menerima undangan pertemuan dari LSM terkait masalah tower pada 4 Januari. Padahal, tower itu juga untuk kepentingan bersama. Apalagi, adanya tower itu juga, sinyalnya dirasakan semua,” pungkasnya.(jar/c1/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.